Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,932 Views)
Eirin
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt: roti bakar
Fandom: Love live
Warning: OOC
Character(s): Hoshizora Rin, Koizumi Hanayo


Hanayo menatap nanar ke arah Rin yang sedang makan roti bakar didepannya. Beberapa hari ini dia sibuk berlatih untuk menurunkan berat badannya karena kostum yang akan dia pakai 2 minggu lagi sesak. Tapi, pemandangan sahabatnya yang tengah makan menurunkan determinasinya untuk diet.

"Nee, Rin"

"Ada apa-nyaa?" Jawab Rin menghentikan acara makannya.

"Etto... Itu enak?"

"Roti bakarku kah? Ini enak sekali-nyaa" ucap Rin riang sambil menggigit roti kembali.

"Boleh aku minta? Sedikiiiiittt saja..." ucap Hanayo memasang puppy eyesnya, mukanya sedikit memerah karena malu.

"Tentu... Ambil lah~" seru Rin sambil menyodorkan sepiring roti bakar miliknya yang tentunya langsung disambar oleh Hanayo.

"Tapi.. Kata Nozomi-senpai setiap satu potong roti, Hanayo harus berlari 1 keliling lapangan sekolah" lanjut Rin. Hanayo yang tengah menikmati roti bakar langsung terdiam dengan muka pucat.

"1... 2... 3... 9... 10 potong! Yosh, setelah ini kita lari banyak Hanayo-chan!" Ucap Rin sembari menghitung berapa potongan yang sudah dimakan Hanayo.

Hanayo menunduk, 'aku kena tipu' batin Hanayo.


next prompt: ayam jago
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: ayam jago
Fandom: GLASSLIP © glasslip project
Warning: Post-Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Fukami Touko, Jonathan

Touko sedang menjalani aktivitas sehari-harinya; menggambar ayam peliharaan sekolah. Ayam favoritnya adalah Jonathan, si putih yang mirip dengan yang lain, tetapi selalu sukses Touko bedakan.

Hari itu, sekolah mereka menerima kiriman ayam-ayam baru. Ayam jago, katanya. Mirip Jonathan, tetapi bulu ekornya lebih banyak.

"Ano, permisi!" Touko memanggil petugas pengirim ayam tersebut. "Apa jenis kelamin ayam-ayam ini?"

"Tentu saja jantan."

"Kalau ... yang di sana?" Touko menunjuk Jonathan yang sedang berkeliaran di lapangan sekolah.

"Itu betina."

Touko menelan ludah. Jadi selama ini Jonathan betina?!


Next prompt: senter
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Eirin
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt: senter
Fandom: Gekkan Shoujo Nozaki-kun
Warning: OOC
Character(s): Umetaro Nozaki, Mikoto Mikoshiba


"Ayolah, hanya satu giliran dan kita tidur" tawar Nozaki sambil terus mendekat ke arah Mikorin "aku ingin mencari inspirasi untuk chapter musim panas"

Mikorin sudah bergidik ketika Nozaki mengeluarkan senter. Ya, senter. Di tengah malam, kemah musim panas ditemani dengan sebuah senter adalah tanda jika Cerita Horor akan dimulai. Mikorin benci horror, dia benci hantu dan sejenisnya apapun itu.

"Baiklah baiklah! Satu giliran dan sudah!" Ucap Mikorin gengsi, ya gengsi karena di kemah ini bukan hanya mereka berdua. Ada Chiyo, Seo, Kashima dan teman-teman yang lain. Dan dia tidak mau disebut pengecut.

Semuanya duduk melingkar, lampu sudah dimatikan. Di tengah kegelapan malam sebuah senter menyala, menyorot si pencerita, Nozaki.

"Suatu malam---" Nozako belum selesai mengucapkan kalimat pertamanya, petir menyambar dan pekikkan terdengar. Lebih tepatnya 2 pekikkan.

Saat itu juga Seo menyalakan lampu. Pemandangan tak lazim terlihat, Kashima yang dipeluk oleh dua orang, Chiyo dan Mikorin. Dengan Mikorin yang menangis terisak.


next prompt: jemuran
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: jemuran
Fandom: Doraemon © Fujiko F. Fujio
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Nobi Nobita, Nobi Tamako

Langit mulai mendung. Tamako, khawatir harus mencuci dua kali sekaligus malas bangkit, memutuskan menyuruh Nobita yang melakukannya.

"Nobita! Angkat jemuran!"

Hening.

"Nobita!"

Masih hening.

"NOBITA!"

Masih juga tidak ada jawaban.

"Anak itu kemana, ya?" Tamako bergumam heran sambil bangkit dari duduknya. "Ya sudah, aku lakukan sendiri saja."

Tamako melangkah keluar ruang duduk, dan menemukan setumpuk pakaian kering berjalan.

"HANTUUU!"

"Ibu! Ini aku!" Nobita segera memunculkan wajahnya dari balik pakaian tersebut.

"Nobita! Mengagetkan saja!" Tamako menjewer telinga anak berkacamata itu.

"Aduduh...."


Next prompt: tulip
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
siucchi
Member Avatar

Prompt: tulip
Fandom: Doraemon © Fujiko F. Fujio
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Nobi Nobita, Shizuka Minamoto
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Doreamon enggan mengabulkan permintaannya, Nobita keluar dari rumah dengan perasaan sungguh kecewa. Ia ingin sekali kucing robot masa depan itu membantunya dengan teknologi abad dua puluh dua sekali lagi saja.

Ia menyeret kaki menuju lapangan tempat biasa dirinya dan kawan-kawan kumpul, juga bermain baseball. Nobita melenguh dan menjatuhkan duduk di atas tumpukan pipa besar, kemudian mengembuskan napas berat. "Dorameon jahat...." gumamnya setengah mendengus.

"Nobita-kun?"

Ia sontak mengerjap. Alunan lebut dari intonasi yang familiar.

Seorang gadis menghampiri. Senyumnya mengembang, seolah memang sejak awal berniat meneduhkan hati yang terlanjur kecewa.

"Shizuka-chan?" Nobita terbelakak, namun berikutnya seulas senyum tipis terkuar jelas.

"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" gadis itu mendekat, memilih untuk duduk di sebelah Nobita.

"Hmm... aku dimarahi Ibu lagi... Doraemon juga tidak mau meminjamkan alat-alatnya... jahat, Doraemooon...!" rengeknya manja.

Shizuka tertawa, "Nobita-kun masih saja begini, hahaha."

Nobita tidak tertarik dengan apa yang membuat Shizuka tertawa. Namun ketika ekor matanya menangkap sebuah benda dyang menyembul dari saku rok Shizuka, ia lantas bertanya, "Apa itu, Shizuka-chan?"

Shizuka mengangkat alis, kemudian mengembangkan senyum, "Oh, ini," tangannya merogoh saku, "ini rangkaian bunga, kubuat tadi bersama Mamaku."

Nobita menerima sodoran objek berwarna putih. Pondasi tangkainya terbuat dari kawat yang dililit kain tipis berwarna hijau, begitu pun dua helai daunnya. Sedang mahkota dan putiknya, masih dengan material sama, namun ditambahkan ornamen mengkilat seta pernak-pernik yang menghiasi sekeliling bunga. "Indah sekali...." gumamnya antusias.

Senyum Shizuka semakin lebar. "Ehe, benarkah?"

Nobita mendekatkan rangkaian bunga berdominasi putih, mengendusnya, "Harum sekali...."

"Aku ingin sekali menyimpan bunga tulip, tapi belum kutemukan di sekitar sini. Karena itu aku dan Mama membuatnya, merangkai sendiri, hehe."

Aroma yang memikat indera penciuman, kehangatan yang menyelinap lewat angin malam...,
Nobita suka kombinsi Shizuka dan bunga Tulip.
Menenangkan. Meneduhkan.

-----------------
next prompt : jellybean
Edited by siucchi, 31 Dec 2016, 09:43 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: jellybean
Fandom: Rise of The Guardians © Dreamworks Animation Studio
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Toothiana, Baby Tooth

Toothiana dan Baby Tooth tengah mendiskusikan hadiah yang akan diberikan kepada anak-anak sebagai pengganti gigi mereka malam itu.

"Jellybean!" usul Baby Tooth dengan cicitannya.

"Jellybean?!" Toothiana menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Baby Tooth, kita ingin mendapatkan gigi yang indah, mulus, putih, dan berkilau, bukan?"

Baby Tooth mengangguk.

"Dan kita juga ingin gigi yang sehat agar ingatan yang didapat sempurna, benar?"

Lagi, Baby Tooth mengangguk.

"Dan kau mengusulkan hadiah berupa makanan perusak gigi?"

Baby Tooth mengangguk lagi, kemudian cepat-cepat meralat jawabannya dengan gelengan.

"Hadiah untuk malam ini koin saja!"

Lagi.

Next prompt: kipas angin
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Kipas Angin
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning(s) : AU/Semi-canon, older-female!Frisk, slight SansxFrisk
Characters : Papyrus, Sans, Frisk

"SANS! BAGAIMANA INI?" gema teriakan si tengkorak jangkung membahana di seisi ruang tamu. Padahal si empunya nama, tengkorak pemalas berjaket biru, berada tepat satu meter dari belakangnya. Tidur santai di atas sofa empuk, dengan satu lengan menggantung ke lantai.

"Heh?" Sans yang lubang matanya baru tertutup separuhnya terpaksa menepis rasa kantuknya karena panggilan sang adik. "Ada apa lagi, Pap?"

"KIPAS ANGINNYA RUSAK LAGI! LIHAT! BALING-BALINGNYA TIDAK MAU BERGERAK SEDIKITPUN!"

"Hoh. Coba putar saja baling-balingnya. Nanti juga jalan lagi," Sans menguap.

"KAU SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTU, SANS!" Papyrus terus menggerutu, "ALAT INI PENTING UNTUK CUACA PANAS SEPERTI SEKARANG, KAU TAHU!? CEPAT BANTU AKU MEMPERBAIKINYA!"

"Ya, ya, sebentar..." mau tidak mau Sans harus bangkit dari sofa singgasananya. Dia juga tidak mau, melihat saudara satu-satunya itu mengeluh kepanasan. Cuaca di dunia luar memang sangat berbeda dengan kelembaban udara di Dunia Bawah Tanah. Khususnya tempat tinggal mereka dulu, Kota Snowdin yang selalu penuh salju. Di permukaan bumi tempat manusia bermukim, cuaca kerap tak menentu. Kadang dingin, kadang panas. Walaupun tidak sepanas Hotlands, tetap saja mereka harus berusaha beradaptasi.

Sans mengambil botol oli kecil dan melumurkannya pada satu bagian mesin kipas angin. Merepotkan, memang. Mereka seharusnya membeli AC. Sayang seribu sayang, isi dompet tidak mencukupi. Bahkan Frisk, sahabat manusia mereka, sekaligus duta bagi bangsa monster, rela bekerja sambilan di bar Grillby's demi menutupi hutang Sans yang menumpuk.

Sans menekan tombol "On". Baling-baling kipas berputar seperti biasa. Papyrus girang.

Lima detik kemudian, salah satu dari ketiga baling kipas patah. Papyrus berteriak lagi. Sans menghela napas lelah. Kini waktunya untuk mencari sebotol lem.

Di laci tidak ada. Di kolong sofa tidak ada. Di balik karpet tidak ada. Di tempat sampah tidak ada. Di lemari (yang biasanya berisi tulang-tulang dan seekor anjing pengganggu) pun tidak ada. Sans menggaruk-garuk batok kepalanya.

Pintu rumah terbuka. Seorang gadis manusia berambut lurus sebahu dan berponi rapi masuk, masih mengenakan seragam pelayan. Seperti biasa, dia berniat menikmati waktu istirahat siang di rumah tengkorak bersaudara.

Akhirnya ada orang yang bisa ditanyai.

"Lem?" Frisk ikut bingung, "Rasanya baru kemarin kau habiskan, Sans. Kau merekatkan kasur sobekmu ke ranjang kayu dengan semua isi botol itu. Dasar."

"Ah. Aku lupa," Sans hanya nyengir, sementara Papyrus tak habis kesal dengan tingkah sembrono kakaknya.

Terlanjur kepanasan, Sans meraih selembar kipas lebar dari bawah sofa, mengipasi diri sendiri. "Hmm, baiklah. Kau tenang saja Papyrus. Akan kucarikan alat lain."

Beberapa saat Sans menatap Frisk, lalu dengan 'iseng'nya berceletuk, "Hei. Mau kukipasi? Dahi dan lehermu basah semua oleh keringat, tuh."

Frisk membalas dengan sorot sinis pada mata sipit dan bibir tipis yang sedikit dimajukan, juga pipi yang tanpa disadarinya bersemu merah. Sans terkekeh.

"Ada waktu kosong malam ini, Frisk?"

"Mau kencan? Boleh saja, selama kau tidak menambah daftar hutangmu."

----

Sans selesai memperbaiki kipas angin. Benda itu pun berfungsi lagi seperti sedia kala--dengan tambahan satu sarung tangan merah di antara dua baling kipas.

Sepertinya seseorang harus mencuci sarung tangan kesayangannya yang kotor oleh debu.

"SAAAANNSSS!"

-------

(oke ini idenya ngaswag dan garing sekali haha-- :''D )

Next Prompt : Leaf / Daun







Edited by Khi-Khi Kiara, 3 Jan 2017, 10:49 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: daun
Fandom: Barbie Thumbelina © Rainmaker Studio
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s):Thumbelina

Hari ini, Thumbelina memeriksa kembali pepohonan di luar tempat tinggal peri. Niatnya ingin pergi bersama kedua temannya, tetapi berhubung kedua makhluk kecil itu belum keluar dari dunia mimpi, Thumbelina memutuskan untuk pergi sendiri.

Diperiksanya satu demi satu pohon yang ada, mulai dari pohon yang kecil hingga yang besar. Tumbuhan-tumbuhan kecil pun tidak luput dari pengawasan peri yang hanya seukuran ibu jari orang dewasa.

"Pohon ini oke, yang ini juga, yang ini ... oh, bagus sekali!" Thumbelina terbang menuju tumbuhan berikutnya. "Oh? Kenapa daun ini bolong?"

Wajahnya mengernyit ketika melihat seekor ulat tengah makan daun dengan nikmatnya di cabang yang lain.

"Ah...." Thumbelina tersenyum. Disihirnya daun yang bolong itu, membuatnya tampak kembali seperti semula.

"Semoga ulat itu bisa menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik dengan memakan dedaunan itu," gumamnya sambil terbang kembali ke rumah.

Next prompt: bocah petualang
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Bocah Petualang
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning : Canon/Alternate Canon
Characters : Asriel Dreemurr, Chara

Asriel Dreemurr. Sang Bocah Petualang. Dewa Penguasa Alam. Begitu bocah monster itu memproklamirkan dirinya.

Dia bukan lagi monster penghuni Dunia Bawah Tanah. Bersama keluarganya, kini dia adalah penduduk resmi di sebuah desa ladang gandum. Manusia-manusia desa yang lain menyambut keluarganya dengan ramah.

Dia bukan lagi bocah cengeng seperti kata saudara angkatnya, Chara. Mau jatuh sesakit apapun, dia akan tetap bangkit dan melangkah tanpa setitikpun air mata.

Dengan berbekal ransel gemuk (berisi peta dan beberapa potong pie hangat buatan ibunya), serta scarf bercorak pelangi di leher yang membuatnya tampil layaknya pahlawan super, anak lelaki itu tak lelahnya berkelana ke manapun dia suka. Melewati padang rumput dan gurun, menerobos hutan hujan, hingga menikmati gugus bintang di langit malam bersama semilir angin yang mengayun lembut, menyentuh bulu-bulu putih dan daun telinganya yang panjang.

Betapa bahagianya dia menikmati setiap detik di dunia luar. Bebas. Lepas.

Sementara Chara tetap setia mendampinginya. Anak manusia itu sangat mengenal Asriel. Dia tahu Asriel pasti akan membutuhkan bantuan, setangguh apapun dia. Saat dia tersesat karena tak bisa membaca arah mata angin, atau nyaris terperosok ke dalam semak berduri, atau ketika butuh teman bicara hanya untuk mengisi kesunyian malam.

Sesekali Chara mengajak Asriel bercanda. Dia berlari mendahului Asriel, hingga sejauh tiga meter di depannya. Dengan gelak tawa ceria Asriel mengejarnya.

Di hadapan mereka adalah bayangan sebuah gunung tinggi.

Asriel mengenal gunung itu. Tapi... gunung apa ya, namanya?

Semakin jauh mereka saling berkejaran, semakin dekat pula mereka dengan gunung itu.

Oh, iya! Gunung Ebott!

Tunggu dulu.

Untuk apa Chara berlari ke sana?

Rasa takut dan cemas mulai merayapi tubuh Asriel. Dia berusaha mencegah Chara.

Dia tidak ingin terjun ke kawahnya.... 'kan?

Memasuki celah gua pada sisi gunung dan berpijak pada tepi kawah, Asriel melihat sosok Chara tersenyum padanya sebelum menghilang. Berpejam mata, dan terjun.

Asriel tidak yakin apa itu senyuman tanda bahagia atau sedih.

Asriel terus berlari mengejarnya, ikut terjun ke dalam kawah gunung.

----

Sampai pada dasar gunung, Asriel tersentak, menemukan dirinya terkungkung dalam kegelapan. Dia menunduk lesu.

Hanya gemerisik lambaian rerumput hijau dan bunga-bunga emaslah satu-satunya simfoni pemecah sunyi.

Dia harus bangun--ah. Untuk apa? Meneruskan mimpi konyolnya sebagai bocah petualang di dunia manusia?

Chara? Untuk apa memanggil dia? Toh dia sudah ada di dekatnya. Tepat di bawahnya. Di dalam gundukan tanah berbunga yang ditempatinya. Berbaring. Tidur lelap.

Dia bukan lagi bocah monster kambing bertitel pangeran Asriel Dreemurr.

Kini, dia hanya setangkai bunga emas payah tanpa jiwa, tumbuh dengan nama "Flowey" sebagai satu-satunya identitas mutlak.

------------

Next Prompt : Pilar
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Pilar
Fandom: Harry Potter (c) JK Rowling
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Ginevra 'Ginny' Weasley

Hari ini adalah hari pertama Ginny mengitari Hogwarts.

Dia sudah tahu tentang sekolah ini lama sekali, sejak ia bisa mengutarakan isi otaknya dengan lancar dan menyimak obrolan kakak-kakaknya dengan baik, Ginny sudah tahu tentang sekolah ajaib ini. Dia bahkan tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi salah satu muridnya. Gadis ini bahkan menyusun daftar pencapaian yang akan ia raih saat ia bersekolah nanti. Dimulai dari mendapat nilai minimal A untuk semua mata pelajaran yang ia ambil, sampai menjadi salah satu pemain Quidditch Gryffindor.

Dan mimpi-mimpi itu akan mengalami proses pencapaiannya mulai hari ini.

Gadis itu melangkah pelan menyusuri selasar beralaskan batuan yang sudah disusun sambil melihat ke kanan dan kiri. Pilar-pilar yang ia lewati ini memang menakjubkan, kelihatan kokoh, kuat, dan tidak sanggup dihancurkan. Ginny mendecak kagum, tampilannya memang persis seperti apa yang ada di buku.

Saking fokusnya memerhatikan pilar tersebut, tiba-tiba saja Ginny sudah menabrak sesuatu--atau seseorang--sehingga ia terjatuh dengan posisi tidak mengenakkan. Untung saja roknya tidak tersingkap.

"Maafkan aku, apa kau tidak apa-apa?"

Ginny mengerjap dan melihat seorang gadis berambut pirang--entah si penabrak yang ia tabrak--mengulurkan tangan kepadanya. Ginny menyambut tangan itu sambil berkata, "Tidak apa-apa."

Gadis pirang tadi tersenyum, lalu segera meninggalkan Ginny sambil membaca majalah bersampul anehnya.

Dahi Ginny mengernyit. Ravenclaw?

next prompt: pipa
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Fandom: Kuroko no Basuke (c)
Warning: after school, ooc, typo
Character(s): Aomine Daiki, Satsuki Momoi
----------------------------------------------------------

Pemuda bertubuh tinggi tegap itu menyeret kaki dengan lambat menyusuri kompleks rumah-rumah. Wajah tengadah, mata memicing, ia menghadap matahari yang bersinar terik. Tidak biasanya ia sengit pada matahari sebab mereka sudah berteman lama.

Kulit tan-nya, bau keringat, bola basket, serta lapangan, matahari selalu berada di sana. Namun hari ini tidak. Ia kehilangan semuanya kecuali matahari. Bahkan Satsuki yang kadang-kadang menemani pulang duluan untuk urusan yang tak bisa ia definisikan.

Pipa-pipa malang-melintang di lapangan. Beberapa orang berseragam dan bertopi kuning menghalangi keranjang. Aomine ingin menerjang tapi sia-sia.

Ada pekerjaan penggantian saluran air. Bagian pinggir lapangan ikut berlubang panjang.

“Karena ini siang hari, Nak,” ledek salah seorang tukang saat Aomine menanyakan sebab mereka mengerjakannya sekarang.

Aomine batal latihan. Klub diliburkan.

Pemuda itu berjalan dengan kepala bercabang. Ia menginginkan eskrim hijau lime dengan vanilla di dalamnya lalu imajinasinya berubah melihat pipa-pipa yang terpasang di rumah-rumah yang barusan ia lewati. Mereka menghubungkan cairan-cairan agar kesehatan terjaga, kata orang. Aomine benci berpikir yang berat-berat. Apalagi itu penyebab ia batal mengencani bola basket.

Ia terlonjak tiba-tiba ketika guyuran air hampir memerciki tubuhnya dari sebuah rumah yang ia kenal. Sebuah pipa yang berbatasan dengan jalan terpenggal jadi dua. Aomine mengernyit mencium baunya.

Sebelum ia marah-marah, dari pintu, melongok sang empunya rumah, "Dai-chan, kebetulan sekali kau lewat! Tolong mampir sebentar. Sepertinya pipa kamar mandi ada yang bocor."

Aomine melihat Satsuki dengan pakaian mandi setengah kuyup. Lalu ia merasa dari hidungnya mengalir cairan merah. Sepertinya pipa-pipa kapiler dalam tubuhnya ikut bocor. Kepalanya jadi agak pusing.[]

-------------------------------------------------------------
NEXT PROMPT: LILIN
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Lilin
Fandom : Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama
Warning : Canon-related, possibly OOC
Character : Armin Arlert

Jarang ada yang tahu dengan hobi rahasia Armin di kala malam.

Untuk menghilangkan penat setelah menyerap banyak hal dari buku-buku koleksinya yang menumpuk, atau bertarung melompat tebas sana-sini melawan raksasa-raksasa jahanam, atau berdiam dalam tangis di tengah hiruk pikuk prajurit yang bolak-balik membawa mayat, Armin memasang banyak lilin di lantai kamarnya.

Semuanya menyala terang, pada awalnya. Kemudian oleh Armin ditiup satu per satu.

Mulai dari yang paling pinggir, di kiri : Thomas.

Lalu berlanjut ke yang di sebelah kanannya : Marco.

Setelahnya berpindah pada sisi kanan. Ditiupnya empat lilin sekaligus : Gunther, Erd, Oluo, dan Petra. Di tengah empat lilin itu masih menyala sebatang lilin, lebih pendek dari yang lain.

Terus seperti itu hingga menyisakan barang sedikit lilin saja yang masih memiliki bara api.

Armin fokus pada tiga lilin pada barisan paling depan : Tiga sahabat dari Shiganshina.

Armin menutup mata. Dahinya mengkerut. Dia tahu, tidak ada yang mampu menerka apa yang akan terjadi di esok pagi. Atau di beberapa jam ke depan. Atau satu jam kemudian.

Tapi dia berusaha keras untuk mencari gagasan, strategi, apa saja agar umat manusia menang dari penjajahan terkutuk ini.

Dia pastikan, tidak ada lagi lilin yang harus dia tiup di malam-malam berikutnya.

Dia pastikan, tiga lilin di depan itu tidak pernah padam sampai akhir.

-------------

Next Prompt : Pecah



Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 12:54 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Pecah
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Fandom: Kuroko no Basuke
Warning: ooc, typo
-----------------------------------------------------
Momoi menemani Aomine mencari bola basket baru.

Tadi pagi, Aomine memecahkannya sebuah berikut kaca gudang sekolah. Wakil kepala sekolah hampir memvonisnya skorsing karena Momoi sedang berada dekat tempat kejadian hampir pingsan.

“Sudahlah Dai-chan. Kita akan membeli yang baru.” Gadis itu melirik raut wajah Aomine yang susah ditebak. Momoi tahu itu bola basket kesayangan. Dan rentetan kejadian pada masa tutup usianya bisa jadi mencengangkan Aomine.

“Mungkin bola itu sudah tua. Perlu diganti,” hibur Momoi. “Atau Dai-chan juga terlalu banyak mengisi udaranya sehingga tekanan dari dalam terlalu kuat?”

“Aku tidak berpikir tentang itu,” ketus Aomine.

Mengangkat alisnya, Momoi mengangguk-angguk. Tentu saja, Aomine mungkin tidak berpikiran sejauh itu. Namun bersanding dengan Aomine yang diam dan terlihat berpikir keras membuatnya tidak nyaman.

Pemuda itu bahkan tidak mengungkapkan pembelaan saat wakil kepala sekolah menghampiri mereka. Kalau saja Momoi tidak membelanya, bisa-bisa vonis itu betul-betul dijalankan. Sampai sekarang tetap saja ia penasaran, “Uh, baiklah. Memangnya kau sedang memikirkan apa Dai-chan?”

“Apa jadinya kalau kau terluka?”

Pernyataan Aomine terlontar juga.

Gadis itu memiringkan kepala, menatap Aomine heran. “Kau mengkhawatirkanku, Dai-chan?”

Aomine berhenti. Alisnya hampir bertaut menatap Momoi. “Ha! Tentu saja, bodoh.”

Tak ayal, Momoi memalingkan muka. Ada kembang api ikut pecah di dadanya.[]

-----------------------------------------------------

NEXT PROMPT: Foundation (make-up)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Foundation (Make-up)
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Characters : Chara, Frisk
Warning (s) : Modern!AU, Older-Female Frisk and Chara, Mental-illness issue, possibly OOC

Setiap perempuan memiliki kecantikannya masing-masing. Demikian kata pepatah.

Tentu. Semua wanita cantik punya keunggulan sendiri pada fisik mereka. Tidak ada yang serba sempurna. Ada yang bangga dengan bentuk tubuh ideal a la gitar Spanyol. Ada yang tampil memukau dengan kulit kecoklatan yang eksotis. Ada pula yang mampu menjerat perhatian orang dengan sorot mata bundar bersinar dan pipi yang merona bagai mawar mekar.

Yang terakhir disebut itu adalah Chara Dreemurr. Puteri angkat keluarga Dreemurr yang kaya raya. Model merangkap perancang busana.

Soal mata, jangan ditanya. Mata bundar dengan iris hazel berbias merah itu sudah didapatnya sejak lahir. Bagaimana dengan pipinya yang bersemu merah jambu? Jelas, dia tidak pernah lupa berdandan untuk memulai hari. Tak perlu terlalu 'meriah' dengan maskara atau eye-shadow. Cukup bubuhkan bedak foundation tipis, blush-on, sedikit eye-liner, dan lipstik berwarna bening pada bibirnya yang lebih tebal di bawah. Tak lupa dia semprotkan parfum segar asli Perancis pada tengkuk leher dan lipatan pakaiannya.

Tidak. Kecantikan tidak melulu soal atribut fisik manusia.

Sesungguhnya banyak yang dianugerahi paras lebih cantik dari Chara. Namun hanya segelintir yang memiliki kecerdasan, kecakapan dan pancaran karisma yang sedemikian rupa. Sikapnya yang berani, tegas, cerdik, dan mampu mengontrol diri dengan begitu elegannya, membuat Chara tampil sebagai panutan. Banyak wanita--terutama para asisten butiknya--yang ingin menjadi kuat sepertinya. Tak heran bila banyak pria yang meliriknya. Sampai ada desas-desus bahwa kakak angkatnya sendiri, Asriel, ikut menaruh hati padanya.

Lain Chara, lain pula Frisk.

Di suatu sore Chara mengunjungi Frisk, menepati janjinya untuk mendandani sahabatnya itu secara cuma-cuma. Frisk hendak tampil sebagai panitia acara donasi di sebuah Panti Asuhan bersama seorang duta. Chara mengerahkan semua yang dia bisa. Membawa senjata berupa perangkat make-up dan penata rambut.

Frisk seorang gadis muda yang kurang suka berdandan. Dia kerap mengeluh sering dituding sebagai laki-laki oleh orang lain. Mungkin karena raut wajah orientalnya yang tirus? Atau cara berpakaiannya yang lebih kelaki-lakian--dengan ciri khas jaket hoodie bergaris dan celana jeans? Entahlah. Padahal dari segi sikap, Frisk tidak setomboi itu. Feminim dan penuh sopan santun, bahkan lebih lemah lembut ketimbang Chara.

Chara menggariskan pensil khusus pada daerah mata Frisk sehingga bingkai matanya yang sipit dan sayu nampak sedikit lebih besar. Kemudian melapisi kulit wajahnya dengan bedak foundation, menaburi sedikit blush-on, mengoleskan lipstik, dan seterusnya. Untuk rambut, Chara hanya perlu mencatokinya agar lebih bersinar, lalu diberi cairan vitamin. Frisk sudah punya rambut lurus yang indah, berkilau dengan warna cokelat gelapnya. Tak kalah dengan rambut ikal Chara yang berwarna cokelat kemerahan, terulur panjang hingga punggung.

"Maaf kalau aku merepotkanmu, Chara."

"Jangan sungkan begitu. Aku senang melakukan ini. Kau ingat? Aku sempat bekerja magang di salon sewaktu kuliah."

Sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Mari anggap saja ini sebagai salah satu tanda terima kasih Chara, atas pertolongan Frisk ketika dia pingsan di pinggir jalan, beberapa tahun silam.

Bisa dibilang, Frisk adalah satu-satunya sahabat di masa sulitnya dulu.

Setelah selesai, Chara menggiring Frisk ke depan cermin besar. Frisk terkesima.

"Lihat, Frisk? Kau lebih cantik dari yang kau bayangkan!" puji Chara tanpa dibuat-buat, tepat pada belakang punggung Frisk, "Sudah kubilang, kau itu sudah cantik. Tanpa perlu lihat fisik atau harta, kebaikan hati dan empatimu yang besar itu sudah membuatmu lebih dari cantik."

Frisk tersipu.

"Kau aktif betul membantu banyak orang, padahal kau sendiri sedang susah. Benar-benar. Determinasi yang kau miliki itu sangat langka di dunia ini. Aku iri padamu."

Frisk berterima kasih, sekaligus heran. Seorang Chara iri pada gadis biasa sepertinya?

Sementara Frisk pergi ke kamar untuk memilih pakaian, Chara duduk menunggu, sambil meminum obat anti-depresannya diam-diam--Frisk tidak boleh tahu. Hampir saja Chara melewatkan jam rutin obatnya.

-----

Lima menit kemudian, Frisk berdiri di hadapan Chara dengan blazer hitam plus celana panjang. Rapi dan maskulin.

"Frisk? Kau bilang kau tidak ingin disangka cowok lagi..."

-----------------------

(maaf kalo kepanjangan haha. Dan lagi saya kurang tahu banyak soal tata rias, jadi maaf kalau ada yg ngawur X_X )

Next Prompt : Crescendo
Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 08:39 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
@Khikhi_Kiara: Yuhuu ... sudah kelihatan ekspert kok nulisnya, tinggal dipraktekkin aja make-up-annya, hehe.
Saya jg mohon maaf kalau ada salah interpretasinya

----------------------------------------------------------------

Prompt: Crescendo
Fandom: Kuroko no Basuke
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: semi-au, ooc

----------------------------------------------------------------

Mulanya, Momoi mengira crescendo hanya ada dalam paduan suara. Namun, ia mulai meresapinya pada kesempatan lain. Saat raja siang berkuasa atau pun sang candra berbinar mesra, Momoi bisa mendengarkannya dengan seksama. Pada sesosok lelaki di tengah stadium yang kakinya menghentak bumi berpacu dengan debum rotasi bola basket.

Bibir lapangan menjadi penuh dengan manusia. Sorak sorai suara, gesekan balon tepuk, serta tarian pemandu sorak berpadu menyenandungkan lagu selaras dengan gerakan manusia di lapangan. Tempo naik satu satu bak kucuran keringat dari tubuh Aomine. Bola di genggamannya terlepas naik begitu saja dalam kecepatan tak kasat mata.

Momoi menggigil. Sadar bahwa ekstasinya mungkin berlanjut pada momen-momen serupa berikutnya.

Ia lupa bahkan jantungnya sendiri masih menghentak-hentak, perlahan semakin cepat, kala retinanya menangkap langkah kaki Aomine pagi itu. Meski tak ada stadium. Meski tak ada bola basket yang menemaninya.
Sebuah setelan tak biasa terpakai di tubuh Aomine, lengkap dengan tuksedo.

“Maaf aku telat. Selamat atas kelulusanmu, Satsuki.”

Sebuah buket bunga terangsur ke arah Momoi, menyempurnakan senandung bernada crescendonya.[]

----------------------------------------------------------------

NEXT PROMPT: Pigura
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
Go to Next Page
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone