Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Blind - Part 3; Spiritual/Romance
Topic Started: 2 Sep 2009, 07:47 PM (363 Views)
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Blind
T rated
by: Aquamarine


*Part 1 (Prolog)
Aku bertemu dengan pria ini pada suatu kesempatan, pada saat takdir menyapa....

"Ini, air mineral sama nasi kotaknya buat kakak." ujarku pada pria yang kumaksud.
Kusodorkan sebuah paket berwarna putih-bermotif indah tersebut yang sudah aku buat
dengan susah payah dengan teman-teman sekelompokku.
Kulihat mata hitam pria tersebut sedikit ragu agaknya untuk menerima niat baikku serta teman-temanku ini.

"Ada kegiatan apa ini ya?" tanyanya secara sopan dalam nada bingung. Tangannya yang kecoklatan belum meraih juga kotak yang kusodorkan semenjak tadi.

"Ah, ini Kak. Kami dari Perkumpulan Mahasiswa Buddhist kampus ini mengadakan program Makanan Kasih. Jadi kami dengan usaha kami sendiri membuat makanan ini untuk dibagikan pada para mahasiswa di kampus ini yang merupakan umat Muslim untuk berbuka puasa." ucapku dengan ramah.

"Oh, begitu ya." ujar pria berambut hitam tersebut. Kalau ada hal yang membuat ia begitu unik dan tak mudah terlupakan ialah matanya yang kurang normal atau biasa disebut juling serta raut wajahnya yang bisa dikatakan... indah.

"Ya, begitu. Ini buat Kakak," aku serahkan kotak itu padanya, "Dan yang satu ini buat teman Kakak." aku menyerahkan kotak yang lainnya pada seorang wanita berambut panjang (melebihi bahu)-berombak kecoklatan yang duduk di sebelah kakak kelasku tersebut.

"Makasih ya." ucap kakak kelasku itu dengan sebuah senyum padaku.

Indah...


*Part 2 (Encounter)


Aku berjalan menyusuri taman di areal kampusku dengan tangan yang disibukkan oleh sekotak nasi goreng telur dadar beserta sebotol minuman ion dingin. Tas ransel merah maroon kesayanganku yang menghiasi punggungku-yang disiksa oleh tebalnya buku-buku kedokteran yang membuatku tampak seperti seekor kura-kura, menambah nikmatnya deritaku hari ini setelah sebelumnya kuketahui nilai test salah satu mata kuliahku yang cukup bisa dibilang hancur.

'Kenapa... kenapa nasib anak kedokteran kayak gini?' ratapku dalam hati.

Bruk!

"Aduh..." ucapku dengan spontan sembari melepaskan sedikit frustasi dan rasa kagetku karena tertubruk oleh seseorang di saat kedua tanganku ini sedang disibukkan oleh objek mimpi pagi hariku, pada saat mata kuliah yang membuat separo mahasiswa di dalam kelasku tertidur lelap.


"Maaf, ga sengaja." terdengar suara nge-bass seorang pria yang diwarnai oleh rasa bersalah.


Aku yang sedang setengah tertunduk karena sedang memerhatikan lenganku yang sibuk mengapit kotak sterofoam nasi goreng yang setengah terbuka-dimana bulir-bulir nasi yang ada di dalamnya mengancam untuk mengotori pakaianku lebih jauh lagi hanya bisa berpikir,


'Ni cowok dateng dari maaana... gitu? tiba-tiba nongol kayak hantu. Perasaan tadi gue jalan ga ngelamun-ngelamun banget tuh.' (Inner yang membela diri secara mem****-buta)


"Aduh, maaf bener ya." pria itu berkata lagi.


Satu dua tiga...


Wajah yang semula tertunduk ini menangkap sesosok...


Sesosok wajah yang kukenal,


Bulan Ramadan, program Makanan Kasih, pria charming dengan mata yang unik...


"Eh, Kamu." ucap kami berdua hampir berbarengan dengan kata-kata yang kira-kira merujuk pada arti yang sama.


"Duh, sorry ya, ga sengaja." ucapnya lagi.


"Ga papa kok. Nyantai aja.... Lain kali hati-hati ya." ujarku. Berhubung dia orang yang memang ramah, kuurungkan niatku sebelumnya untuk memasang muka setengah terganggu 3 detik sebelum mengatakan 'Ga masalah.' Bukannya bermaksud jutek atau bagaimana, aku hanya terbiasa mendidik orang melalui ekspresi wajahku dalam kasus seperti ini, agar mereka dapat lebih berhati-hati bila berjalan lain kali. Lagipula... aku juga bersalah karena berjalan sambil melamun.


"Eng... Mau makan ya? Bareng aja sama aku sama temen-temenku sekalian." tawar pria itu padaku dengan ramah sambil menunjukkan padaku teman-temannya yang ada di sekitarnya.


Yang satu menyapaku dengan mengangkat tangannya, yang satu tersenyum ramah padaku, yang lainnya... eh, nyengir ga jelas.


'Great, Tiga orang friendly plus satu orang yang agak mengerikan (yang nyengir ke arah gue dari tadi ga ada berhentinya.)'


"Ngg... Gimana ya...?" ucapku sembari menimbang-nimbang pilihan antara menikmati makan siang sendirian di lorong kelas (berhubung kebanyakan teman-temanku pulang sebentar ke asrama sebelum mata kuliah selanjutnya dimulai) atau makan bersama kakak-kakak kelasku yang belum lama aku kenal. Kecanggungan dan rasa ga enak hati menyerbu otakku tetapi ide untuk menambah teman baru memang nampaknya mengimbangi rasa ga enak hatiku.


"Oh, iya, lupa. Kenalin... Suryanto. Panggil aja Anton." kakak kelasku itu tiba-tiba berkata sembari mengulurkan tangannya kepadaku untuk berkenalan, pertama kalinya.


"Chika."

Dan kami pun berjabat tangan...



Udara pagi menjelang siang yang sejuk di kala itu... tawa canda kami ketika mengobrol, plus... noda kecap nasi goreng yang menempel dengan sayangnya di sweater kuning muda-ku itu menjadi awal...

bagi kami...


Entah mengapa kami bisa bertemu kembali di dalam kampus yang lumayan luas ini, dan entah mengapa...
berbincang-bincang dengannya merupakan suatu kesenangan yang terasa natural bagi diriku.


Hembusan angin yang membawa aroma segar daun pohon cemara selalu mengingatkanku
pada hari itu...


Senyum, tawa...

Indah...



Part 3


"Ton, kamu pulang kuliah jam berapa hari ini?"


"4 sore Ma!" ucapku dengan lumayan keras agar nyokap yang sedang berada di ruang tamu rumah kami bisa mendengarkan.


"Oh..." ucap ibuku dibarengi dengan suara sibuk gerakannya yang sedang mengecek barang dagangan untuk dijual di kawasan pasar di sekitar rumah kami.


Aku membawa sarapan pagiku ke ruang tamu agar aku bisa sekalian ngobrol sama nyokap.


"Udah makan belum Ma?" tanyaku pada beliau sembari menyambar segelas air putih.


"Udah tadi, tapi ga banyak." ucap beliau masih sambil mengecek peralatan-peralatan untuk berjualan nasi uduk.


"Kertas bungkus, sendok plastik, nasi uduk... kerupuk... kerupuk kok ga ada ya? Perasaan mama udah taro di deket sini tadi Ton." Tunjuk Ibuku ke arah tumpukan barang dagangan kami. Kebingungan terlihat jelas dari ekspresi mata hitam indah beliau yang sudut-sudutnya mulai mengeriput.


"Oh, kerupuk...," ucapku sambil terus mengunyah nasi goreng yang sudah terlanjur kumasukkan ke dalam mulut. "Tadi dicomot Mas Rio buat sarapan."


"Kakakmu tadi emang udah bangun?" tanya ibuku.

"Mmm." gumamku pasti.

"Ditaruh di mana?"

"Udah, biar Anton aja yang ambilin."

"Eh, ga usah. Orang lagi makan..." ucap ibuku setengah mengomeli.

"Udah Ibu tunggu aja, bentar."



...


"Nih kerupuknya..." aku meletakkan setoples kerupuk itu di tumpukan itu lalu menghampiri ibuku yang sedang memandang ke arah luar dari jendela, ke arah langit subuh.

"Ayo Ma, makan bareng. Nih sendoknya..."

"Ga usah, nanti kamu kurang."

"Ngga kok." ucapku meyakinkan beliau seraya menyelipkan ujung pegangan dari sendok yang baru saja aku ambil dari dapur ke dalam tangan hangat beliau.

Beliau tersenyum padaku dengan hangat dan menyandarkan lengannya pada bahuku sambil mengarah menuju kursi untuk sarapan bersama.

"Sepiring berdua nih?" ucap beliau dengan nada meledek.

"Iya Mamaku sayang." ucapku tak kalah meledek

"Nih, basonya." aku mengarahkan sepotong baso sapi goreng yang berada di dalam sepiring nasi goreng itu dengan sendokku untuk lebih mendekati sendok beliau.

"Kamu ga makan basonya?" ucap beliau sambil mencoba sesendok nasi goreng buatanku itu.

"Oh, udah tadi... banyak malahan." ucapku dengan tawa. 'Bohong sih...'

"Oh..." ucap beliau lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut beliau sambil menggigit baso tersebut.

"Enak?" tanyaku

"Mmm... enak," ucap beliau dengan senyum.

'Senyum... aku suka bila Ibu tersenyum... Meskipun hanya dengan sarapan bersama denganku dengan nasi goreng sederhana yang hanya memakai bawang tumis dan kecap tanpa telur.'

"Kamu ini bisa jadi istri yang baik loh Ton..." ucap ibuku dengan meledek sembari tertawa.

"Hmm... sembaraaangan." ucapku mengikuti permainan Beliau.

"Habis, kamu ini semenjak habis pacaran dengan Melly ga pernah punya pacar lagi sih..." ucap Ibuku dengan nada kecewa.

'Melly...'

"Ton...? Ton?"

"Oh, iya Ma. Kenapa?" tanyaku.

"Maaf ya... Mama ngungkit dia."

"Ga papa kok Ma." ucapku perlahan, berusaha untuk tersenyum lalu kembali menyantap nasi goreng di hadapanku. "Mmph... enak!" ucapku dengan mulut menggembung karena nasi goreng memenuhi bagian dalam mulutku.


'Luka ini... perlahan akan hilang....'



















Edited by Aquamarine, 10 Sep 2009, 09:35 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
AAAAAAAAAAAAH! XD
Entah mengapa saya langsung ngira ini bakal romens kayak cin(T)a, kisah cinta antar 2 orang yang beda agama. Huhuhu. *keinget ceritanya, nangis lagi*

Lanjut! Ini masih dikit banget, susah ngritiknya :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Fleddie Melkuli
Member Avatar


hoho...
sama kayak ardhan. masih terlalu dikit, blom bisa dikomentari :p

btw, saya juga mau bikin fic spiritual/romance. meskipun kayaknya gak romantis :p
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Ardhan: Iya s XD hehe. Maksud hati pengen dibuat mengharukan gitu, tapi ga tau ni bakal gimana jadinya nanti.

@Konoha: Bikin aja Konoha~san, ntar saya baca XD

Temen2... saya update~nya tunggu ada ide ya.
Gambaran besar uda ada s, cuma detail~nya belum.

Ok dah, Makasih review2~nya : ) (kabur)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Lanjutkan~n
*mengikuti slogan SBY, padahal sudah nggak kampanye lagi..*
slogan ajaib yang bahkan dapat menggantikan laksanakan dalam upacara

Oke, serius. Kayaknya prolognya menjanjikan. Jadi, tolong lanjutkan!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Haruki: Iya, saya lanjutin : )
Makasih ripyunya : D

Temen2, sekalian mau ngasi tau. Chapter baru udah keluar XD
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone