Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
Pertanyaan2 Umum
Phia
9 Jan 2017, 07:14 PM
Halo, mau nanya nih, kalau mau tracking postingan-postingan yang pernah dibuat gimana ya caranya?
Berharap balasan, tapi kadang lupa sudah komen di mana, ... apalagi yg sudah lama-lama.
Adakah senpai-tachi yg tahu caranya?
Setauku kalo mau liat post kita apa aja bisa di profil pribadi sih, nanti di situ ada pilihan profile options, ganti jadi list member's posts.
Semoga membantu :happywaves:

Acaram
Acaram oleh reynyah
Summary: Obrolan (tidak) sederhana di antara dua insan berbeda kewarganegaraan yang sama-sama tidak tahu makna suatu kata.
Reva tidak pernah tidak tahu bahwa Minerva amat sangat suka bermain tebak kata.

Bukannya Reva tidak tahu alasannya, tentu saja. Gadis pirang yang berusia setahun di bawah Reva itu adalah satu dari sedikit orang di dunia yang memiliki kemampuan daya ingat fotografis, atau bahasa mudahnya, tidak bisa lupa. Ditambah lagi, selain punya daya ingat yang menakjubkan seperti itu, gadis itu juga hobi membaca. Dan akibat otaknya yang kelewat ajaib itu tidak bisa melupakan apa yang pernah gadis itu baca, bisa dibilang kini Minerva 'kehabisan' bahan bacaan.

Dan hal yang ia jadikan sarana pelampiasan adalah kamus.

Kamus dalam artian yang sesungguhnya, tentu saja.

Seperti saat ini, misalnya. Saat Reva sedang tegang-tegangnya membaca klimaks salah satu novel thriller yang tidak sengaja gadis bersurai hitam itu temukan di perpustakaan, Minerva dengan kalemnya membalik halaman demi halaman kamus bahasa Inggris-Indonesia. Kebetulan gadis Rusia itu belum menguasai bahasa ibu Reva. Selama ini, mereka selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Meski bahasa Inggris Reva dominan logat Sunda dan bahasa Inggris Minerva patah-patah karena logat Rusia yang kental di lidahnya, rupanya mereka dapat berteman baik.

"Reva."

"Apa?" balas Reva dengan nada bicara yang tidak seramah biasanya. Tambahan tidak sopan lainnya, gadis itu juga tidak menatap Minerva saat memberi respons. Masalahnya, bagian novel yang ia baca sedang seru-serunya, nih! Reva tidak akan membiarkan siapapun, meski itu Minerva ataupun Dilan, merusak momen dag-dig-dug yang kerap menjadi favorit Reva saat membaca novel thriller.

"Ada kata yang kurang kupahami, bisa tolong jelaskan?"

Reva menghela napas sambil menutup novelnya―tentunya setelah mengingat halaman berapa yang terakhir ia baca. Tadi Reva baru mencapai kalimat "gadis itu melirik ke belakang.", dan kini otaknya dilanda rasa penasaran yang amat sangat.

Yah, terpaksa ia mengalah dulu demi Minerva yang sedang belajar bahasa. Setidaknya menolong si pirang itu bisa menambah kebaikan Reva―susah payah gadis itu mencari alasan positif.

"Kata yang mana?" tanya Reva sambil menggeser kursinya agar lebih dekat ke kursi Minerva. Supaya ia bisa membaca kata yang dimaksud Minerva dengan lebih jelas juga, sih.

"Ini." Minerva menunjuk sebuah baris yang hanya terdiri dari dua kata. Yah, tentu saja, namanya juga kamus translasi, 'kan?

Eh, sebentar, baris itu bukan terdiri dari dua kata melainkan satu kata yang dipisah menjadi dua―mungkin penanda suku kata.

Aca-ram.

Mati, batin Reva sambil menggigit bibir. Apa pula itu acaram? Reva sama sekali tidak pernah mendengarnya, sungguh!

Tapi kan, mana mungkin dia mengaku pada Minerva kalau dia belum pernah mendengar kata itu? Bisa-bisa Minerva menertawainya habis-habisan sampai matahari terbit keesokan harinya. Lebih parah lagi, bisa-bisa gadis pirang itu akan menceramahi Reva panjang lebar mengenai pentingnya berbahasa ibu dengan baik dan benar.

Minerva bukan orang cerewet sih, dan bukan tipikal humoris yang suka mempermalukan diri sendiri juga. Jadi gadis itu tidak mungkin menceramahi Reva bonus hujan air liur, dan tidak mungkin pula tertawa keras-keras sampai dunia runtuh. Walau begitu, meski kedua opsi yang tadi Reva bayangkan mustahil terjadi, setidaknya opsi yang kedua masih ada peluang terjadi sebesar ... yah, paling lima persen.

"Sebentar," ucap Reva sambil berusaha bangkit dari duduknya. Setelah hening yang cukup panjang ditambah kerut-kerut dahi tanda gadis itu berusaha mencari acaram di dalam otaknya, akhirnya ia buka suara juga. "Aku ... rasanya pernah dengar kata ini." Lebih tepatnya, pernah membaca kata itu satu kali, dari Minerva barusan. "Sebentar deh, aku coba cari dulu di KBBI."

Dahi Minerva spontan mengerut. "KBBI?"

Reva kini telah berdiri dengan sempurna. "Kamus Besar Bahasa Indonesia, Min."

Oke, sepertinya kebiasaan memanggil seseorang dengan suku kata yang kurang enak didengar sudah menjadi hobi, bakat mungkin, bagi Reva. Setelah memanggil atasannya, Dilan, dengan panggilan "Lan" yang kerap diprotes si empunya nama, kini gadis bersurai hitam itu menerapkan perumusan yang sama untuk Minerva.

"Tunggu." Satu kata dari Minerva sukses menghentikan gerakan Reva. "Memangnya di sini ada kabebi atau kamus apapun itu?"

"KBBI," ralat Reva cepat. Sempat-sempatnya pula dia meralat perkataan Minerva yang baru kali ini mendengar kata itu. "Harusnya ada dong, KBBI itu kan semacam kitab wajib yang harus dimiliki di seluruh perpustakaan di Indonesia."

"Hmm ... tapi, Rev?"

Reva menghela napas lelah. Mengapa Minerva terkadangーtetapi kalau dipikir-pikir cukup sering jugaーsuka menguji kesabarannya, sih? "Apa lagi, Min?"

"Sepertinya kau lupa kita sedang berada dimana."

Alis Reva spontan terangkat heran. "Sepertinya kamu yang lupa, Minーwalau rasanya agak tidak mungkin, sih. Kita sedang berada di perpustakaan, kuingatkan kembali."

"Tentu saja aku tahu kita sedang berada di perpustakaan," tukas Minerva diiringi dengusan pelan. Rupanya gadis itu bisa kesal jugaーdan Reva lah penyebabnya. "Maksudku, negaraーlebih bagus lagi kalau kau ingat kotaーyang sedang kita tempati saat ini."

"Tentu saja Tokyo, Jepang. Aku ini tidak bodoh, Min," jawab Reva santai. Gadis itu membalikkan badan, mengarahkan diri sendiri menuju rak kamus yang posisinya dekat dengan mereka. Baru saja gadis itu melangkahkan kaki kanannya, ia segera tersadar. "Ng ... Min."

"Ya?"

"Di Jepang ... tidak mungkin menyimpan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ya?"

Minerva menghela napas pelan. "Itulah yang ingin kukatakan sejak tadi, Reva."

Reva mendengus sebal. Ternyata sejak tadi dia yang bodoh tetapi berlagak sok jenius. Kini malah dia yang malu kepada dirinya sendiri, dan juga kepada Minerva. Gadis bersurai hitam itu akhirnya membalikkan badannya lagi, lalu duduk dengan manis di kursi yang tadi ditempatinya.

"Jadi." Minerva berdeham pelan. Ingin menghapus kecanggungan yang ada, tetapi dirinya pun bukan penentu topik yang baik. "Kamu sudah menemukan arti dari 'acaram'?"

"Hah?" Reva mengangkat sebelah alisnya. "Aku bahkan belum menemukan kamus yang aku cariーkitab ajaib milik bahasa negaraku! Memangnya kamu pikir aku bisa menemukan arti kata yang bahkan tidak familiar di otakku itu hanya karena aku membalikkan badan dan sadar bahwa kita sedang ada di Jepang? Kalau boleh berlagak sok tahu sih, aku bisa!"

Minerva hanya memberi respons dengan mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Memangnya kalau kamu bisa, atau boleh, berlagak sok tahu, kamu akan menjawab apa?"

Reva mengetuk dagunya selama beberapa saat, tampak berpikir keras. Yah, memangnya kalian pikir berlagak sok tahu itu tidak memakai otak? "Acaram ... entah mengapa terkesan seperti 'ancaman', jadi mungkin maknanya juga tidak berbeda jauh. Mungkin, mungkin ya, acaram itu ... suatu kondisi dimana kita tidak merasa diri kita aman dan tentram? Misalnya, saat perang?"

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Minerva. Gadis itu ... kelihatan ingin percaya dengan kata-kata Reva, tetapi di sisi lain juga merasa jawaban itu tidaklah benar.

"Kamu tahu tidak, Min?" Reva menghela napas lalu meluruskan kedua tangannya di atas meja. Disandarkannya kepala ke atas dua tangan itu. "Di satu sisi aku merasa seolah aku ini pujangga kelas dunia yang baru saja melahap KBBI, tapi di sisi lain juga aku merasa seperti pejuang kata sok tahu yang hanya bisa berujar tanpa data."

Minerva menopang dagunya dengan kedua tangan. "Lalu kamu mau melakukan apa?"

Reva merengut kesal. Dia memang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini untuk mengetahui arti kata yang unik itu, tapi dia juga tidak mau sampai harus pulang dulu ke Indonesia hanya untuk alasan yang tidak terlalu urgent, membuka KBBI.

Reva bisa dipenggal Dilan sepulangnya ke tanah air nanti.

"Lupakan dulu soal aracam, deh," ujar Reva sambil mengibaskan tangannya putus asa. "Kita uji ingatanmu saja. Ada berita menarik apa yang kamu baca hari ini?"

"Tidak ada yang menarik sungguhan, sayangnya aku harus mengecewakanmu," jawab Minerva dengan susunan kata yang agak aneh. Harap maklum, bahasa Indonesianya belum lancar. "Oh, tapi aku belum mencek berita di internet. Oh ya, Reva, tadi kamu salah menyebut kata yang kita cari untuk itu."

"Kamu juga salah sebut," balas Reva sambil mengangkat kepalanya. "Bukan mencek, harusnya mengecek. Kalau mau pakai bahasa Indonesia, bukan serapan maksudnya, kamu pakai periksa, jadi memeriksa."

"Oh, begitu." Minerva mengangguk seolah paham―dan dia memang paham. "Tadi kamu salah menyebutkan acaram menjadi aracam."

"My bad." Reva mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan kanan pelan. "Habis namanya susah, sih."

"Tidak juga, hanya enam huruf, kok."

"Enam huruf sih enam huruf, tapi kalau susunannya aneh begitu mau bagaimana lagi," keluh Reva. Ia memosisikan dirinya untuk duduk kembali. Dihelanya napas pendek sebelum melanjutkan, "Kembali ke topik berita, tadi kamu bilang apa soal berita menarik hari ini?"

"Tidak ada yang menarik," jawab Minerva, mengulang jawabannya yang tadi. "Tapi aku belum menceーeh, mengecek internet."

Reva mengerjapkan mata. "Belum cek dimana katamu?"

"Internet."

Sang gadis bersurai hitam mengepalkan tangan kanannya lalu menghantamkan kepalan tangan itu ke telapak tangan kiri. "Itu dia, Min!"

Minerva memiringkan kepalanya sedikit. "Apa?"

"Internet!" Reva mengulang kata yang beberapa detik lalu diucapkan oleh Minerva. Ditatapnya iris biru Minerva dengan tatapan penuh binar. "Di era teknologi yang luar biasa ini, KBBI juga sudah punya situs sendiri! Mengapa aku tidak terpikir sampai ke sana, ya?"

Minerva memutar bola matanya.

Reva segera mengambil ponselnya dari saku celana, mengakses internet dengan wi-fi yang terdapat di perpustakaan itu. Untungnya, tidak ada password sehingga dia bebas menghubungkan ponselnya dengan internet.

"Ka ... be ... eh?" Reva mengerutkan dahinya seraya mengetik tautan yang seharusnya membawanya kepada kamus daring tersebut. "Kok, tidak ada, ya?"

Sang gadis pirang menolehkan kepalanya. "Oh ya?"

"Iya," jawab Reva sambil mengatupkan bibir, mengerutkan dahi, dan mengembangkan kedua lubang hidungnya―pose wajib saat ia sedang serius. Tidak ia lanjutkan lagi kata-katanya.

"Memangnya situs kamus bahasa Indonesia yang kata kamu itu ada di server Jepang juga?"

Dheg.

"Min."

"Apa?"

"Aku mau pundung aja."

"Pundung itu ... apa?"

"Pundung itu ngambek, Min."

"Ngambek itu apa?"

Hari ini Reva depresi. Satu, karena tidak berhasil menemukan arti acaram. Dua, karena ketidaktahuan Minerva akan kosa kata nonbaku Indonesia membuat kepalanya semakin penat.

Pada akhirnya, Reva tidak berhasil menemukan arti acaram hingga gadis itu kembali ke Indonesia.

FIN
A/N.

acaram
/aca-ram/ n 1 kl cincin; 2 tanda bahwa suatu perjanjian jual beli telah dibuat; tanda jadi

:love:

Cangkir Favorit
Disclaimer: Magi (c) Shinobu Ohtaka. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Pre-Canon, OOC, typo(s).

Summary: Cangkir favorit Hakuryuu dan Kougyoku tertukar.

Cangkir Favorit oleh reynyah
untuk Siblingisasi
.

.

.

Setiap anak keluarga Ren punya satu cangkir yang dijadikan sebagai favoritnya untuk digunakan pada setiap jam makan.

Misalnya Kouen, cangkir favoritnya adalah cangkir yang berbentuk agak kotak berwarna merah. Pada ujung gelas itu terdapat segaris pola berwarna kuning yang tidak jelas apa bentuknya. Pola kuning itu dilukis oleh Kouen saat dia masih kecil dulu. Melihat cangkir itu kerap membuat Kouen kembali bernostalgia, mengingat momen dimana untuk yang pertama kalinya seumur hidup, tangannya menyentuh kuas dan menggariskan sebuah pola. Jadi, meski cangkirnya tidak kelihatan indah, Kouen tetap menjadikannya sebagai cangkir favorit.

Koumei berbeda lagi. Cangkir favoritnya adalah cangkir hitam polos yang benar-benar polos, tanpa lukisan tambahan, tanpa ukiran tambahan, juga tanpa ornamen tambahan. Ceritanya, saat Koumei sedang belajar mengecat cangkir, cangkir itu tidak sengaja jatuh ke dalam mangkuk berisi cat hitam. Berhubung cat yang menempel terlalu banyak, Koumei terpaksa menjemur cangkir itu lebih lama. Tiga hari ia menunggu cangkir itu kering demi mengecatnya lagi, tetapi beberapa bagian di dalam cangkirnya tidak kunjung kering. Koumei kesal dan memutuskan untuk tidak menunggu lagi. Pada akhirnya, saat cangkir itu sudah sepenuhnya kering, Koumei terlanjur lupa untuk melanjutkan hasil karyanya. Walau begitu, dia tetap menyayangi cangkir yang merupakan lambang "kecelakaan" pertamanya.

Hakuei punya preferensi sendiri soal cangkir yang ia sukai. Tidak seperti kedua saudara tirinya yang lebih tua, Hakuei tidak menjadikan cangkir yang ia lukis pertama sebagai favoritnya. Hakuei cukup pandai melukis cangkir, dan kebetulan cangkir yang menjadi favoritnya adalah cangkir kedua yang ia lukis. Cangkir itu hanya berwarna putih dengan titik-titik berwarna biru membentuk garis melingkari cangkir itu, membaginya jadi dua bagian. Sejak dulu Hakuei memang selalu menyukai hiasan yang sederhana. Oleh karena itulah cangkir pertamanya yang bergambar bunga sakura tidak ia jadikan sebagai cangkir favorit untuk digunakan pada setiap jam makan.

Berbeda dengan ketiga saudaranya, cangkir favorit Kouha adalah cangkir pemberian salah satu pelayannya yang lama. Jadi, saat itu Kouha sering sekali bertandang ke dapur istana hanya untuk meminta sepotong roti sebelum jam makan siang dimulai. Suatu saat, Kouha melihat cangkir merah muda itu di atas rak saat ia hendak meminta roti lagi. Dia meminta cangkir itu kepada seorang pelayan, tetapi pelayan itu memberinya syarat agar tidak lagi menyelinap ke dapur untuk meminta roti. Kouha menurut, dan sejak saat itulah gelas itu jadi miliknya--dan jadi favoritnya.

Hakuryuu dan Kougyoku memiliki preferensi yang berbeda dengan keempat saudara mereka.

Anehnya, keduanya memiliki selera yang cukup mirip. Cangkir yang menjadi favorit kedua bungsu itu adalah sebuah cangkir berwarna kuning muda nyaris putih. Hanya saja, cangkir kesukaan Kougyoku memiliki motif bunga sakura di bagian dasarnya, berbeda dengan milik Hakuryuu yang polos tanpa ornamen pun hiasan tambahan. Kurang lebih sama seperti Koumei, hanya saja dengan warna yang berbeda--cenderung kontras bahkan.

Pada setiap jam makan, tugas pelayan adalah memastikan bahwa cangkir yang mereka siapkan para Pangeran dan Putri Kekaisaran Kou itu sesuai dengan cangkir yang menjadi kesukaan mereka. Jika sampai salah--dan hal ini pernah terjadi walau hanya satu kali--biasanya akan terjadi keributan kecil di ruang makan. Keributan itu baru akan berakhir saat cangkir favorit si pembuat ribut yang benar kembali ke tangannya, atau saat jam makan telah berakhir.

Para pelayan tahu bagaimana tidak menyenangkannya suasana makan saat salah seorang dari mereka ribut akibat cangkir yang tertukar--pengecualian bagi Kouen, Koumei, dan Hakuei yang memang pada dasarnya tidak pernah meributkan hal-hal tidak penting. Cangkir salah satu dari mereka pernah tertukar, dan yang mereka lakukan hanya berkata bahwa cangkir mereka tertukar, sekali, habis perkara.

Pokoknya, cangkir tertukar adalah peristiwa tabu di meja makan keluarga Kou. Para pelayan tahu itu, dan mereka bertekad tidak akan melakukan kesalahan meski hanya satu kali. Tidak akan.

.

Pada suatu siang, satu jam sebelum jadwal makan siang yang biasa dimulai, empat orang pangeran serta dua orang putri dari Kekaisaran Kou sudah duduk mengitari meja makan untuk menyantap hidangan siang mereka. Siang itu, jadwal makan siang dipercepat akibat rapat mendadak untuk seluruh keluarga kerajaan yang akan diadakan pada jam makan siang. Mau tidak mau, jadwal lainnya harus mengalah dengan memajukan jam.

Para pelayan di dapur kalang kabut. Hidangan untuk disantap para pemuda-pemudi kerajaan memang sudah siap, tetapi mereka belum menuangkan minuman ke dalam cangkir favorit keenam generasi terakhir Kekaisaran Kou itu. Lebih parah lagi, mereka juga belum memilih cangkir yang tepat untuk disajikan.

Seorang pelayan buru-buru mengambil enam buah cangkir yang ia rasa benar ke atas nampan, lalu membawanya ke meja saji. Dituangkannya teh ke dalam setiap cangkir, lalu dibagikannya kepada para pangeran dan putri.

"Hm." Begitu komentar Kouen saat sang pelayan mendaratkan sebuah cangkir merah berpola kuning di hadapan pemuda itu. Sebuah "hm" dari Kouen berarti dia puas dengan pekerjaan yang diperlihatkan di hadapannya. Pelayan itu menghela napas seperenam lega. Masih ada lima orang lagi.

"Terima kasih," ucap Hakuei saat pelayan itu menyajikan sebuah cangkir putih dengan totol-totol biru yang membentuk pola garis di bagian tengahnya. Hakuei tidak pernah menggunakan bahasa yang ambigu sehingga pelayan itu tahu, terima kasih yang diucapkan Putri Pertama Kekaisaran Kou itu adalah terima kasih yang sesungguhnya. Pelayan itu menghela napas dua perenam lega. Ia masih harus melanjutkan.

Koumei jarang bersuara, begitu pula saat sebuah cangkir hitam legam disajikan di hadapannya. Akan tetapi, senyum kecil pemuda itu membuat sang pelayan sadar bahwa pekerjaannya tidak salah ia lakukan. Cangkir hitam itu memang milik Koumei. Sang pelayan mendesah lega. Sudah separuh selesai pekerjaannya ini.

"Oh, benar, ini cangkirku." Kouha lebih blak-blakan lagi daripada ketiga saudaranya yang lebih tua. Saat sang pelayan menyerahkan sebuah cangkir merah muda polos, sepotong napas lega bergegas keluar dari mulutnya. Tentu saja karena Kouha langsung mengatakan kalimat oh-benar-ini-cangkirku saat sang pelayan baru saja mengangkat sebuah cangkir dari atas nampan. Baiklah, tinggal dua lagi ...

Oh, sial. Dua cangkir yang tersisa adalah cangkir milik Hakuryuu dan Kougyoku, dua cangkir dengan warna yang sama. Pelayan itu tahu perbedaannya adalah bagian dasar cangkir, tetapi mengingat kini cangkir telah diisi--mana warna tehnya gelap pula!--sang pelayan tidak bisa membedakan keduanya sama sekali.

Gawat.

Sang pelayan menelan ludah. Ia hanya bisa menyerahkan nasibnya kepada takdir--kepada keberuntungan maksudnya.

Diletakkannya cangkir pertama kepada Hakuryuu, lalu buru-buru cangkir kedua ia sajikan kepada Kougyoku--untung saja keduanya duduk berdekatan. Setelahnya, pelayan itu buru-buru angkat kaki dari ruang makan.

Di dalam hati pelayan itu sibuk merapalkan doa. Satu, berharap agar cangkir yang disajikannya tidak tertukar. Dua, berharap agar kedua orang itu tidak sadar bahwa cangkir mereka tertukar jika memang tertukar. Tiga, berharap agar tiba-tiba saja ada seseorang yang tersandung dan menjatuhkan kedua cangkir itu sehingga tidak sempat diketahui oleh kedua insan tadi mana cangkir yang tadi mereka pakai. Empat, berharap agar tiba-tiba muncul sihir yang dapat memunculkan gambar sakura pada dasar cangkir Kougyoku dan menghilangkan gambar sakura pada dasar cangkir Hakuryuu jika memang tertukar.

Semoga--

"Cangkirku tertukar!" gerutu Kougyoku yang baru saja menghabiskan tehnya. Gadis itu tidak menemukan gambar bunga sakura pada dasar cangkirnya, langsung saja ia tahu bahwa cangkirnya tertukar. Dia menatap Hakuryuu yang duduk di sampingnya. "Pasti yang kamu pakai itu cangkirku!"

Hakuryuu mengangkat alisnya sedikit. Teh di dalam cangkirnya memang belum habis, jadi dia belum bisa memeriksa dasarnya. "Belum tentu."

"Pasti punyaku!" bantah Kougyoku dengan wajah kesal. "Cepat! Habiskan tehmu! Kita buktikan kalau cangkir itu milikku!"

"Aku belum mau meminum tehnya lagi," balas Hakuryuu santai tanpa menatap gadis itu. Disuapkannya sepotong daging ke dalam mulutnya. "Aku masih mau menghabiskan makananku."

Kougyoku menggertakkan giginya. "Kalau begitu cepat habiskan makananmu!"

Pemuda dengan luka bakar pada wajahnya itu tidak menjawab. Dia terus saja menyuapkan sepotong demi sepotong daging ke dalam mulutnya, sama sekali tidak ada tanda bahwa ia hendak menyetujui permintaan Kougyoku.

Kougyoku semakin kesal jadinya. Memutuskan untuk berdiam diri selama sepuluh detik, akhirnya Kougyoku ikut melahap potongan daging miliknya.

Satu detik.

Kougyoku melahap potongan wortel dari atas piringnya.

Enam detik.

Kougyoku menyesap tehnya yang bersisa--sayang bukan di cangkir favoritnya.

Sepuluh detik.

"Kamu! Cepat habiskan tehmu!" Kougyoku menunjuk cangkir Hakuryuu yang masih setengah terisi. "Ayo, cepat!"

Hakuryuu tidak mengindahkan perintah Kougyoku yang satu itu. Lagi pula, untuk apa, sih? Hakuryuu yakin kok, cangkir itu miliknya. Kougyoku saja yang terlalu heboh sampai-sampai membuat santapan siangnya jadi tidak nikmat.

Kesal, Kougyoku akhirnya mengambil alih cangkir milik Hakuryuu lalu segera meminum isinya sampai habis.

"Hei!" Hakuryuu menegur, tetapi percuma saja. Saat Kougyoku sudah fokus terhadap satu tujuan yang menyangkut dirinya sendiri, dia tidak akan mendengarkan orang lain sama sekali.

Kougyoku tersenyum puas saat cangkir itu akhirnya berhasil ia kosongkan. Akan tetapi, saat ia melihat dasar cangkir milik Hakuryuu ...

Dasar cangkir itu polos.

"Cangkir ini juga bukan milikku!" gerutu Kougyoku sambil menaruh kembali cangkir Hakuryuu di depan pemilik awalnya. "Cangkirku mana, ya?"

Hakuryuu mendecak sebal sambil melayangkan tatapan apa-tadi-kataku kepada Kougyoku yang sama sekali tidak diindahkan oleh gadis itu. Akhirnya sang pemuda meraih cangkirnya yang tadi diminum Kougyoku lalu memeriksa isinya.

Memang polos, tetapi ia tahu itu bukan miliknya.

"Ini juga bukan cangkirku," ujar Hakuryuu. Ia lalu mengambil cangkir yang sebelumnya jadi milik Kougyoku. Sama, cangkir itu juga bukan miliknya. "Ini juga bukan."

"Ada yang aneh, Ryuu!" ujar Kougyoku sambil menggerak-gerakkan tangannya resah. "Cangkir kita tidak ada!"

Hakuryuu mengiyakan dengan anggukan kepala. Dia tidak berminat membalas perkataan Kougyoku dengan kalimat yang sama panjangnya, meski tidak dapat ia pungkiri, ia juga heran kenapa cangkirnya bisa tidak hadir di meja makan siang itu.

"Kalian bisa membeli atau melukis cangkir baru," usul Hakuei sebelum menyesap pelan tehnya.

"Tidak akan sama dengan cangkirku yang lama," balas Kougyoku sambil merengut. "Ah, ini sungguh menyebalkan!"

"Kougyoku, makanlah yang tenang," tegur Kouen sambil menjepit sebuah potongan daging dengan sumpitnya. "Minum saja dulu dengan cangkir yang ada."

"Iya, kau ini berisik sekali," sambung Kouha yang baru saja menghabiskan santap siangnya.

Lagi, Kougyoku merengut sebal karena tidak merasa dibela oleh kakak-kakaknya. "Kouen-niisama dan Ha-nii juga tidak akan suka kan kalau cangkir yang kalian sukai tidak ada di atas meja makan saat waktunya makan?"

Kouen dan Kouha tidak menjawab.

"Ryuu!" Kougyoku menatap pemuda yang duduk di sampingnya. "Ayo, kita pergi ke dapur!"

"Hah?"

"Kita cari cangkir kita di sana!" Kougyoku segera menarik tangan Hakuryuu dan mengajaknya keluar dari ruang makan.

"T-tunggu!" teriak Hakuryuu sambil tergopoh-gopoh menyamakan tempo berlarinya dengan Kougyoku.

Setelah keduanya keluar dari dalam ruangan, keempat orang lainnya menghela napas pelan.

"Apa kita harus katakan pada mereka?" tanya Hakuei dengan wajah khawatir. Setidaknya sebagai satu-satunya perempuan di dalam ruangan itu, dialah yang paling pandai menampakkan emosinya.

"Tidak usah, Hakuei-dono," balas Kouha sambil mengibaskan tangannya. "Menyaksikan Kougyoku heboh mencari gelasnya dan Hakuryuu uring-uringan seperti itu merupakan kesenangan tersendiri bagiku."

"Tapi ... menurutku itu tidak benar," sambar Koumei yang sejak tadi belum buka suara. "Kita harus katakan pada mereka."

"Pada akhirnya juga mereka akan tahu," tandas Kouen sambil menyesap tehnya. "Biarkan saja."

Sebenarnya, alasan cangkir favorit kedua bungsu Ren itu tidak hadir di meja makan adalah karena keduanya pecah akibat insiden masuknya anjing ke dalam dapur istana dua jam yang lalu.

.

.

.

FIN
A/N.


Oke, ini absurd banget aslinya, Rey nggak akan mengelak kalo ini dibilang absurd XD

Sebenernya awalnya cuma selintas inget kebiasaan minum teh sesuanu(?) di fandom sana, lalu Rey kepikiran "eh, mereka punya gelas favorit gak, ya?"

Awalnya gelas emang, tapi pas dipikir-pikir lagi rasanya aneh aja Jepang jaman dulu pake gelas. Akhirnya diganti pake cangkir, deh~ entah kenapa jadi terkesan unyu aja X'D /gimana

Akhir kata, ditunggu komentarnya~

Index Fanfic
Lapor~

Judul: Pisahkan!
Summary: Hakuryuu dan Kougyoku bersekongkol untuk memisahkan Hakuei dan Kouen, tapi?
Fandom: Magi
Karakter: Hakuryuu R., Kougyoku R., Hakuei R., Kouen R.
Rating: K
Genre: Humor/Drama
Saya merasa maruk soalnya nyetor mulu, tapi da gimana orz

Judul: Cangkir Favorit
Summary: Cangkir favorit Hakuryuu dan Kougyoku tertukar.
Fandom: Magi
Karakter: Hakuryuu R., Kougyoku R.
Rating: K
Genre: Drama/Humor

Pisahkan!
Disclaimer: Magi (c) Shinobu Ohtaka. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Pre-Canon, OOC, typo(s).

Summary: Hakuryuu dan Kougyoku bersekongkol untuk memisahkan Hakuei dan Kouen, tapi?

Pisahkan! oleh reynyah
spin-off dari Ucapan Selamat; untuk Siblingisasi

.

.

.

Demi Tuhan! Ini sudah yang kesekian kalinya Hakuryuu menyaksikan Kouen dan Hakuei duduk bersama sambil saling menatap penuh arti! Mengapa pria yang mengincar posisi kaisar itu senang sekali mengganggu hidup Hakuei, sih? Hakuryuu kesal jadinya!

Saat ini, Hakuryuu sedang mengintip dua insan yang tadi ia sebut-sebut. Keduanya sedang mengobrol di taman istana, dan berhubung tidak banyak tempat untuk bersembunyi di sana, Hakuryuu memutuskan untuk menonton dari balik pilar di sisi barat. Meski obrolan mereka tidak terdengar, yang penting tingkah mereka masih dapat ia saksikan.

Oke, ada yang aneh dengan senyum Hakuei. Hakuryuu menyipitkan mata, lalu melihat tangan kakaknya itu digenggam oleh Kouen.

DEMI APA MEREKA PEGANGAN TANGAN?! Hakuryuu saja tidak pernah menggenggam tangan Hakuei seperti itu! Eh, sering sih, tapi saat dia masih kecil dulu. Sekarang sih, Hakuryuu terlalu gengsi untuk melakukannya duluan.

Hakuryuu menggigit bibirnya kesal. Apa sih, sebenarnya hubungan dua orang itu?

.

Demi Tuhan! Ini sudah yang kesekian kalinya Kougyoku menyaksikan Kouen dan Hakuei duduk bersama sambil saling menatap penuh arti! Mengapa wanita yang hanya model senyum itu senang sekali mengganggu hidup Kouen, sih? Kougyoku kesal jadinya!

Saat ini, Kougyoku sedang mengintip dua insan yang tadi ia sebut-sebut. Keduanya sedang mengobrol di taman istana, dan berhubung tidak banyak tempat untuk bersembunyi di sana, Kougyoku memutuskan untuk menonton dari balik pilar di sisi timur. Meski obrolan mereka tidak terdengar, yang penting tingkah mereka masih dapat ia saksikan.

Oke, ada yang aneh dengan raut wajah Kouen. Kougyoku menyipitkan mata, lalu melihat tangan kakaknya itu digenggam oleh Hakuei.

DEMI APA MEREKA PEGANGAN TANGAN?! Kougyoku saja tidak pernah menggenggam tangan Kouen seperti itu! Jangankan pegangan tangan, melihat Kouen menatapnya dengan tatapan super lembut seperti yang ia sajikan pada Hakuei saat ini saja Kougyoku tidak pernah!

Kougyoku menggigit bibirnya kesal. Apa sih, sebenarnya hubungan dua orang itu?

Emosinya kian memuncak kala Kouen membalikkan genggaman mereka. Ih! Kakaknya itu kenapa, sih? Senang sekali sepertinya memegang-megang tangan Hakuei!

Cemburu, atau apalah yang sanggup menjelaskan kebenciannya akan hubungan dua orang itu, membuat Kougyoku terpaksa mengalihkan pandang. Tatapan matanya lalu jatuh kepada sosok seorang laki-laki yang bersembunyi di balik pilar sisi barat.

Itu ... Hakuryuu, bukan? Tidak ada lagi lelaki bersurai gelap dengan luka bakar pada wajah di istana ini selain dia.

Dahi Kougyoku mengerut. Apa yang lelaki itu lakukan di sini? Memangnya ada―oh.

Oh.

Kalau Kougyoku cemburu pada Hakuei yang merebut Kouen darinya, Hakuryuu pasti cemburu pada Kouen yang terkesan merebut Hakuei darinya. Ya, pasti itu.

Mendadak sebuah ide muncul di kepala Kougyoku.

.

Setelah memastikan Hakuei dan Kouen telah pergi dari taman istana, Kougyoku buru-buru menghampiri Hakuryuu yang masih berdiri mematung di seberangnya. Dia harus cepat-cepat menyampaikan ide yang tadi terlintas di otaknya. Tidak boleh pakai nanti, tidak boleh.

"Ryuu! Ryuu!"

Hakuryuu tersadar, lalu buru-buru mengalihkan atensinya dari lamunan tidak jelas ke wajah Kougyoku. Apa-apaan sih, gadis ini? Mereka bahkan tidak sedekat itu hingga dia boleh memanggilnya "Ryuu". Lagi pula, ya ampun, kakaknya saja masih memanggilnya "Hakuryuu"!

"Apa?" sahut Hakuryuu ketus.

"Bagaimana kalau kita bekerja sama?"

Hakuryuu mengernyit. "Untuk apa?"

"Tentu saja untuk memisahkan Kouen-niisama dengan Hakuei-dono!" ujar Kougyoku dengan menggebu-gebu. "Kita alihkan perhatian dan kesibukan mereka sampai-sampai mereka tidak punya waktu untuk berduaan! Kalau sampai mereka sempat berduaan, kita akan rusak momen mereka! Bagaimana?"

Kalau boleh jujur, Hakuryuu tertarik dengan ide yang dilontarkan oleh gadis yang berusia setahun di atasnya itu. Memisahkan Kouen dan Hakuei? Itu memang harapannya sejak lama.

"Tapi ... bagaimana caranya?" tanya si lelaki sambil mengerutkan dahinya lagi. Meski harus ia akui rencana ini brilian, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengalihkan atensi kakaknya dari Kouen.

"Bisa bagaimana saja!" Kougyoku mengangkat telunjuk tangan kanannya. "Kau bisa minta diajarkan sesuatu oleh kakakmu itu, dan aku juga akab mencoba minta diajarkan sesuatu oleh Kouen-niisama. Nanti, mereka pasti akan jauh dengan sendirinya!"

Hmm ... masuk akal, sih.

"Apa akan berhasil?"

Kougyoku mengangguk. "Seratus persen akan berhasil."

"Baiklah." Hakuryuu mengangkat tangannya, hendak berjabatan. "Aku setuju."

Kougyoku menjabat tangan itu, lalu mereka bersalaman.

Dan mulai detik itu, operasi pemisahan Kouen dan Hakuei dimulai.

.

Hakuryuu dan Kougyoku memutuskan untuk memulai aksi mereka malam itu. Berdasarkan informasi dari Kougyoku, kakaknya sering menghabiskan waktu di dalam perpustakaan sampai larut tanpa benar-benar membaca buku. Berdasarkan informasi dari Hakuryuu, kakaknya sering hilang di malam hari, tetapi muncul kembali di kamarnya saat fajar terbit.

Keduanya berasumsi bahwa kedua objek operasi mereka itu melakukan pertemuan diam-diam di perpustakaan istana.

Mereka mengatur rencana sebaik mungkin agar operasi mereka terkesan natural. Rencananya, Kougyoku akan menyelinap ke dalam perpustakaan sebelum Kouen masuk ke sana. Gadis itu akan mengalihkan fokus Kouen sementara Hakuryuu akan berjaga di depan pintu perpustakaan. Ia akan mengalihkan Hakuei, mengajaknya kembali ke kamar sebelum sempat bertemu dengan Kouen.

Sayangnya, rencana mereka malam itu berantakan. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu kedua insan incaran Hakuryuu dan Kougyoku sudah berada di dalam ruang baca Kouen dan mengobrol seperti biasa. Kougyoku yang saat itu sudah berada di dalam perpustakaan segera menghampiri Hakuryuu lalu memarah-marahinya. Akan tetapi, Hakuryuu berdalih dengan mengatakan bahwa ia tidak melihat kakaknya itu masuk ke dalam.

Rencana pertama mereka gagal sudah.

.

Kouen akan pergi nanti malam.

Hakuryuu dan Kougyoku mendengar kabar itu di pagi hari, tepatnya saat mereka tengah menyantap sarapan pagi bersama. Katanya sih, Kouen hendak menaklukkan dungeon lagi. Judal akan ikut bersamanya sehingga istana ini akan kekurangan dua penghuni lagi, seperti tempo hari saat Hakuei pergi menaklukkan Paimon.

Kedua anak bungsu Ren itu saling melempar tatap. Bahaya, ini benar-benar bahaya. Bagaimana mungkin operasi mereka akan berjalan dengan lancar jika salah satu objeknya pergi? Bisa-bisa operasi mereka kandas di tengah jalan!

"Kouen-dono akan pergi nanti malam," ucap Hakuryuu kepada Kougyoku saat mereka telah selesai sarapan. "Masih ada banyak waktu untuk melaksanakan rencana mereka sebelum dia berangkat."

"Benar," sahut Kougyoku sambil menganggukkan kepalanya. "Kita harus pergi ke perpustakaan lagi sekarang. Sepertinya tadi Kouen-niisama pergi ke sana."

Maka keduanya bergegas menuju ruangan yang Kougyoku katakan tadi. Setibanya di sana, Kougyoku bergegas masuk srmentara Hakuryuu berjaga dulu di luar. Rupanya, sama seperti kemarin, Hakuei sudah lebih dulu berada di dalam. Akhirnya Hakuryuu ikut masuk ke dalam, dan menguping obrolan kedua orang itu bersama Kougyoku di balik sebuah rak buku.

"Sebenarnya aku merasa ada yang aneh mengenai Hakuryuu."

Hakuryuu melongo sementara Kougyoku memandangnya dengan prihatin. Hakuei baru saja mengatakannya? Hakuryuu aneh?

"Sejak aku pulang, ia tidak bersikap seperti biasanya," lanjut Hakuei. "Dia lebih banyak tersenyum, meski tetap pelit kata seperti biasa. Dia ... kelihatan bahagia, dan aku menyukainya."

Kini kedua bungsu Ren itu melongo bersama. Benarkah? Mengapa mereka tidak menyadarinya?

"Kurang lebih Kougyoku juga seperti itu." Terdengar suara kertas dilipat. Sepertinya Kouen baru saja merapikan perkamennya. "Sering tertawa sendiri, seperti ada yang sedang disembunyikan."

Jantung Kougyoku berdegup cepat. Masa sih, dia bertingkah sekonyol itu?

"Oi." Hakuryuu membisik pelan. Ia menyikut Kougyoku dengan tangan kanannya.

"Apa?" balas Kougyoku dengan volume suara yang sama kecilnya.

"Awas, itu―"

BRUK!

Terlambat. Tumpukan buku di dekat Kougyoku kini jatuh dan menimbulkan bunyi berisik yang lumayan mengganggu pada suasana sehening ini. Rupanya sejak tadi, Kougyoku tanpa sadar menyandarkan badannya pada tumpukan buku itu. Ia tidak tahu bahwa sandarannya terlalu kuat sehingga buku-buku itu kini terjatuh.

"Hakuryuu? Kougyoku?"

Syok, kedua orang dengan nama yang barusan disebut itu mendongak. Dilihat mereka wajah bingung Hakuei dan wajah datar Kouen. Seketika keduanya tahu bahwa mereka telah tertangkap basah.

"Kalian tid―"

"LARI!" seru Kougyoku sambil bangkit berdiri. Ia melarikan diri ke pintu perpustakaan, sama dengan Hakuryuu yang segera mengekor dari belakang.

Meninggalkan Kouen dan Hakuei beserta sejuta heran dalam benak mereka.

.

Hakuryuu dan Kougyoku memutuskan untuk menyudahi dulu usaha mereka hingga Kouen kembali nanti. Jadi, setelah insiden memalukan di perpustakaan tadi pagi, Hakuryuu dan Kougyoku memutuskan untuk beristirahat dulu di kamar masing-masing sambil mendoktrin diri sendiri agar melupakan kejadian memalukan itu.

Sial, batin Hakuryuu sambil mengacak-acak rambutnya. Sudah usahanya gagal, ia terpergok sedang duduk berduaan bersama Kougyoku pula! Sejak dulu, mereka tidak pernah benar-benar akrab sehingga adegan tadi pasti mencurigakan di mata Hakuei.

Hakuryuu baru saja hendak memejamkan mata ketika ia mendengar suara pintu diketuk.

"Siapa?" erangnya sambil memijit pelipis dengan tangan kanan.

"Ini aku."

Hakuei rupanya. "Masuk saja, Ane-ue."

Perlahan pintu kamar Hakuryuu membuka, memperlihatkan sosok Hakuei yang tadi berhasil memergokinya bersama Kougyoku.

Ah, sial, ingatan akan kejadian itu terus saja menempel pada benak Hakuryuu.

"Hakuryuu, bolehkah aku menanyakan sesuatu yang pribadi?" tanya Hakuei sambil menghampiri kasur adiknya. Gadis itu duduk di tepi kasur.

Dahi Hakuryuu mengernyit. "Ya."

"Apa kau menyukai Kougyoku?"

A-APA?!

Mengapa kakaknya bisa berasumsi seperti itu?! Selama ini bahkan Hakuryuu tidak pernah dekat-dekat dengan Kougyoku, sama sekali tidak. Oh, oke, mungkin yang kemarin itu sama sekali bukan "tidak dekat-dekat", tetapi itu kan beda soal!

Berusaha tenang, Hakuryuu menjawab, "Tidak."

"Tidak?"

"Tidak," tegas Hakuryuu.

"Sama sekali?"

"Sama sekali."

"Oh." Hakuei tampak bingung. "Baiklah kalau begitu."

Gadis itu bangkit lagi dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu kamar Hakuryuu. Sebelum sempat membuka pintu, Hakuei mengucap, "Karena tadi kalian sedang bersama dan akhir-akhir ini kau kelihatan bahagia, kupikir―"

"Ane-ue!"

"Iya, iya." Hakuei tertawa pelan. Ia membalikkan badan agar dapat melihat Hakuryuu lagi. "Omong-omong, Hakuryuu, wajahmu memerah."

Apa? Memerah? Wajah Hakuryuu?

Ohsyi―asdfghjkl. Wajahnya memang terasa agak panas sejak Hakuei membawa-bawa nama Kougyoku ke dalam obrolan mereka tadi.

Setelah ini, ia akan mencabut perjanjiannya dengan Kougyoku.

Iya, dia akan benar-benar melakukannya. Peduli amat soal hubungan kakaknya dengan Kouen, yang penting wajahnya tidak bereaksi aneh-aneh lagi!

.

.

.

FIN

Makna Mutiara
aku baru ngerti maknanya pas baca catatan kamu sya... aku kudet apa gimana ya kok aku baru tau sih orz

INI MANIS DEMI APAPUN ASDFGHJKL. keduanya maneeessssh dengan cara mereka sendiri. dengan arthur yang sok cool pura-pura gak tau gitu hih /ran. dan liz (aku lupa nama aslinya siapa) yang sok kuat padahal gampang diperenyek kayak rempeyek /gimana. pokoknya hubungan keduanya fluffeeeeey dan aku suka. banget. banget. banget.

pembawaan cerita rasy itu selalu begitu: penuh deskripsi. nanti pas muncul dialog, kalimatnya biasanya ngga baku. tipikal rasya banget lah, dan aku menikmatinya sih xD terus bicara soal kualitas fiksinya ... alurnya pas, diksinya variatif, dan grammar (apa sih bahasa indonesianya) yang kamu pake juga pas xD enak buat dibaca deh~

Terima kasih sudah mengikuti Siblingisasi! Semangat untuk terus berkarya, ya!

salam hangat,
rey

note.
btw itu si liz kemana ceritanya setelah pergi?
DAN BTW INI MANIS BANGET /initerakhir

Index Fanfic
Lapor lagi :D /napsulu

Judul: Obrolan Tengah Malam
Summary: Hakuei terbangun hampir setiap malam. #Siblingisasi
Fandom: Magi
Character(s): Ren Hakuei & Ren Kougyoku
Rating: K+
Genre: Family/Hurt/Comfort

Obrolan Tengah Malam
Disclaimer: Magi (c) Shinobu Ohtaka. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: AU, OOC, typo(s).

Summary: Hakuei terbangun hampir setiap malam.

Obrolan Tengah Malam oleh reynyah
untuk urenishzu, sekaligus entri Challenge Siblingisasi
.

.

.

Klik. Klik. Klik.

Ctak. Ctak. Ctak.

Srat. Srat. Srat.


Kurang lebih suara-suara absurd itulah yang melintas di telinga Hakuei saat ia melewati kamar saudari bungsunya yang berselisih empat tahun, Kougyoku. Jam sudah lewat tengah malam, tetapi mengapa adiknya itu masih belum tidur juga?

Hakuei menghela napas. Sepertinya ia tahu apa yang membuat adik kecilnya itu harus merelakan beberapa jam tidurnya.

"Kougyoku?" panggil gadis usia sembilan belas tahun itu sambil mengintip dari balik pintu kamar Kougyoku yang tidak tertutup rapat. "Belum tidur?"

"Hakuei-nee?" Kougyoku balas menyebut nama saudari sulungnya sambil mengalihkan fokus sejenak. Setelah memastikan bahwa orang yang muncul di ambang pintu adalah benar Hakuei, baru ia kembali fokus kepada layar laptop. "Belum."

"Ada tugas?" Hakuei menggeser pelan pintu kamar Kougyoku, memberinya akses lebih untuk masuk ke dalam.

"Ano...." Kougyoku mengerjap sebelum menjawab, "Iya, tapi bukan tugas sekolah."

"Acara itu, ya? Pertandingan―"

"Iya, kasti," sambung Kougyoku tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Aku sedang menyalin ulang notulensi rapat dua hari kemarin, Hakuei-nee."

"Jabatanmu sekretaris?"

Kougyoku mengangguk.

Hakuei mengulas senyum. "Setelah notulensi selesai, kamu akan langsung tidur atau tidak?"

"Tidak, Hakuei-nee. Aku juga harus mendesain sertifikat pemenang." Kougyoku menghentikan gerakan tangannya. Dihelanya napas lalu disandarkannya tubuh ke sandaran kursi belajarnya. "Aah ... aku lelah sekali."

"Sertifikatnya seperti apa?" tanya Hakuei sambil menghampiri meja belajar Kougyoku. Seumur-umur, Hakuei tidak pernah melihat kamar Kougyoku seberantakan malam ini. Kertas dengan berbagai macam isi bertebaran di seluruh sudut ruangan, tas sekolah diletakkan dengan asal di atas kasur, pensil dan pulpen berserakan di tengah ruangan, dan entah mengapa ada sebungkus Layz tergeletak begitu saja di dekat nakas.

"Bebas," jawab Kougyoku sambil mendongak menatap kakaknya. "Hakuei-nee ada usul? Contoh sertifikatnya harus kuserahkan kepada Yamuraiha-sensei besok."

"Kalau tidak salah, aku punya desain sertifikat untuk pekan olahraga dulu." Hakuei menunjuk monitor dengan telunjuk tangan kanannya. "Coba periksa di folderku."

Kougyoku menurut. Diarahkannya kursor ke sebuah folder bertuliskan "Hakuei" lalu dikliknya dua kali. Setelahnya, Hakuei memandu Kougyoku hingga mereka menemukan fail yang dimaksud sang gadis sulung sebelumnya.

"Ini?" tanya si gadis berambut merah sambil membuka fail yang dimaksud. Rupanya benar, di dalamnya terdapat desain sertifikat yang sudah jadi, hanya perlu disunting sedikit.

"Bagaimana?" tanya Hakuei dengan seulas senyum di wajah. "Kalau kamu tidak suka yang itu, bisa juga―"

"Aku suka," potong Kougyoku cepat. Disuguhinya Hakuei seulas senyum tipis sebelum kembali fokus ke monitor. "Terima kasih, Hakuei-nee. Aku bisa mengerjakannya dengan cepat kalau begini."

Hakuei kembali menegakkan badan. Dilangkahkannya kaki ke arah koridor, hendak keluar dari kamar si putri bungsu. Sebelum menutup pintu geser itu kembali, sang putri sulung mengucap, "Kalau sudah selesai, segeralah tidur, Kougyoku."

"Iya."

Pintu kembali digeser menutup. Konversasi malam itu berakhir begitu saja.

.

Kurang lebih pada waktu yang sama seperti kemarin, Hakuei kembali melangkah keluar kamarnya untuk minum di dapur. Akhir-akhir ini gadis itu kerap merasa haus sehingga setiap malam ia selalu mendadak terjaga dalam kondisi tenggorokan kering. Mungkin hanya efek perubahan cuaca yang drastis, Hakuei berusaha optimis.

Gadis itu berjalan kembali ke kamarnya setelah minum, dan lagi-lagi menemukan kamar Kougyoku dalam kondisi terang-benderang. Apa gadis itu berkutat dengan notulensi lagi? Atau apa?

Hakuei menggeser pintu kamar Kougyoku, dan menemukan gadis itu dalam posisi yang sama seperti kemarin: duduk di balik meja belajar sambil memfokuskan pandangan terhadap monitor. Saking fokusnya, Hakuei bahkan tidak yakin Kougyoku menyadari kehadirannya.

Ingin rasanya Hakuei menanyakan apa yang sedang dilakukan gadis itu, tetapi ia takut merusak konsentrasi Kougyoku.

Sang gadis berambut biru mendapat ide. Dilangkahkan kembali kakinya ke dapur, lalu mulailah ia bereksperimen dengan teko, air panas, dan bubuk teh.

Hakuei hanya membuat teh sih, sebenarnya.

Setelah menyelesaikan kasak-kusuknya di dapur, Hakuei membawa nampan berisi sebuah teko berukuran sedang serta dua cangkir kecil ke arah kamar Kougyoku. Sepertinya lebih baik jika mengganggu adik kecilnya itu dengan embel-embel membawakan minuman. Lagi pula, Kougyoku pasti butuh asupan untuk perut di tengah malam, bukan?"

"Kougyoku, masih sibuk?" tanya Hakuei saat ia telah tiba di ambang pintu. Digesernya pintu yang setengah terbuka itu dengan punggung, lalu masuklah ia ke dalamnya.

Kougyoku menoleh tepat saat Hakuei telah tiba di dalam. "Eh? Hakuei-nee bawa apa?"

"Teh," jawab Hakuei santai sambil meletakkan nampan tadi di atas nakas Kougyoku yang kebetulan kosong. Dituangkannya teh dari dalam teko ke masing-masing cangkir, lalu dibawanya kedua cangkir itu ke dekat Kougyoku. Satu diberikannya kepada sang gadis merah, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. "Supaya kamu tidak mengantuk."

Tawa kecil lepas dari mulut Kougyoku saat ia menerima cangkir tersebut. "Hakuei-nee tidak akan menyuruhku tidur?"

"Aku tahu kamu masih terjaga karena pertandingan itu tinggal sebentar lagi, jadi ... aku mengerti bagaimana peliknya situasimu saat ini."

Kougyoku mengangkat alisnya sembari menyesap teh yang diberikan Hakuei. "Mengapa bisa?"

Hakuei ikut menyesap tehnya. "Aku sering berada di situasi semacam itu, Kougyoku, terkadang bahkan tiga masalah kepanitiaan dalam satu waktu!"

"Kurasa itu bahkan lebih parah daripada situasiku saat ini," balas Kougyoku geli. Diletakkannya cangkir teh yang telah kosong di samping monitor, lalu ia kembali memaku pandangannya terhadap benda mati penyuguh radiasi itu. "Baiklah, waktunya kembali bekerja."

Si sulung mengiyakan dengan anggukan sambil mengambil cangkir Kougyoku yang sudah kosong melompong. Diletakkannya kembali cangkir tersebut di dekat teko, di atas nakas tepatnya. Tanpa suara, Hakuei duduk di atas ranjang Kougyoku sambil memerhatikan gadis itu mengetik semacam surat atau pengumuman. Entahlah, Hakuei tidak merasa harus menanyakan masalah itu kepada adiknya.

Ada sesuatu yang mengusik perasaan Hakuei saat ini. Dia dan Kougyoku sejak dulu tidak pernah benar-benar akrab, sama sekali tidak. Bukan berarti mereka memiliki masalah berarti yang membuat keduanya sampai bermusuhan dan berpisah kamar, bukan. Sejak dulu, Hakuei adalah pribadi serius yang senang berkutat dengan belajar dan bekerja, sementara Kougyoku adalah pribadi ceria yang lebih suka bermain boneka dan salon-salonan ketimbang menghapal angka Romawi. Mereka jarang bisa bermain bersama karena Hakuei terlalu asyik menenggelamkan diri di dalam lautan buku koleksi ayahnya, membuat Kougyoku terpaksa mengungsi ke rumah tetangga yang bisa diajak bermain bersama.

Hakuei tidak membenci Kougyoku, tentu saja. Demi Tuhan, mereka berdua ini dua bersaudara! Hakuei hanya tidak merasa cocok dengan lingkungan yang dicintai Kougyoku, sama halnya dengan Kougyoku yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan kesayangan Hakuei. Keduanya memang tumbuh di dalam satu rumah, tetapi tidak pernah benar-benar memahami situasi satu sama lain.

Itulah yang membuat otak Hakuei kini bertanya-tanya mengapa ia sepeduli ini terhadap adik kecilnya.

Itulah yang membuat otak Hakuei kini bertanya-tanya mengapa ia mengusik kesibukan adiknya kemarin.

Itulah yang membuat otak Hakuei kini bertanya-tanya mengapa ia mendadak memutuskan untuk peduli padahal Kougyoku bergadang bukanlah hal yang baru sejak gadis itu masuk SMA.

"Hakuei-nee tidak tidur?" Tiba-tiba Kougyoku bertanya tanpa mengalihkan pandang dari monitor dan papan ketiknya.

Hakuei diam sejenak. "Tidak."

"Kenapa?" tanya Kougyoku dengan nada heran yang terdengar jelas.

"Kurasa karena aku juga mengonsumsi teh," jawab Hakuei sambil tersenyum geli. "Aku jadi tidak mengantuk."

Kougyoku, mungkin semakin heran dengan jawaban kakaknya, memutar kursi untuk menghadap sang gadis biru. "Memang apa hubungannya teh dengan kantuk?"

Hakuei mengangkat alisnya heran. "Tentu saja karena teh mengandung kafein."

Di luar dugaan, Kougyoku membelalakkan matanya. "Sungguh?"

"Ya, bahkan kandungan kafeinnya lebih banyak daripada kopi."

Kougyoku mendengus. Diliriknya meja lain di samping meja belajarnya yang berisi tiga cangkir kopi. Rupanya Kougyoku sudah persiapan untuk semalam. "Tahu begitu aku tidak usah membuat kopi segala."

Hakuei tergelak pelan. Aneh sekali, dia tidak pernah tertawa sepuas ini sejak dulu. Apalagi orang yang membuatnya tertawa adalah adiknya, orang yang ia sangka tidak akan bisa ia masuki hidupnya sama sekali. "Kalau kamu butuh bantuan untuk menghabiskan kopi itu, Kougyoku, aku siap membantu."

Kougyoku ikut tergelak. "Tenang saja, Oneesan akan jadi orang pertama yang kupanggil saat aku butuh pemain cadangan."

Keduanya kembali tertawa.

Sang gadis merah kembali sibuk berkutat dengan komputer, merasa guyonan di antaranya dan sang kakak adalah ice breaker yang cukup untuk mengatasi lelah. Tidak ia sadari bahwa kepalanya sudah kelewat penat akibat kurang tidur belakangan ini.

"Kali ini kamu mengerjakan apa, Kougyoku?" tanya Hakuei sambil menghampiri adiknya lagi. Tidak bisa ia duduk diam lama-lama tanpa melakukan sesuatu, rupanya.

"Revisi sertifikat, Oneesan."

"Apa?" Hakuei melongo. Sertifikat pun perlu menerima revisi? Jadi bukan hanya skripsi yang kena revisi? "Revisi? Kenapa?"

"Kata Yamuraiha-sensei, tanda tangan kepala sekolah dan pembina juga harus dimasukkan," jelas Kougyoku sambil menunjuk dua kotak bertuliskan nama kedua orang yang tadi ia sebutkan. "Katanya, nama Mogamett-sensei dan Yunan-sensei harus ditulis di bawah, di atasnya baru Koumei-senpai dan Alibaba-san. Sejak tadi aku mencoba mengecilkan ukuran hurufnya, tapi tidak kelihatan bagus."

Hakuei mengerutkan dahi seraya membungkukkan badan, berusaha melihat sertifikat hasil desain Kougyoku dengan lebih jelas. Baru kali ini ia mendengar adanya empat tanda tangan di dalam sertifikat. Sekolah Kougyoku ini―yang dulu adalah sekolah Hakuei―rasanya berlebihan, deh.

"Kurasa sampai kapanpun kamu mencoba, sertifikat ini tidak akan kelihatan bagus dengan susunan seperti itu," ucap Hakuei setengah menggumam. Dia menegakkan kembali badannya lalu menatap Kougyoku. "Tunggu sebentar, ya."

Hakuei keluar dari kamar Kougyoku, pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah folder berwarna merah marun, lalu kembali ke kamar Kougyoku dengan folder tebal itu di tangan. Dikeluarkannya lembaran sertifikat yang terdapat di dalam folder tersebut.

"Wah, Hakuei-nee pernah ikut lomba Matematika yang sama tiga tahun berturut-turut?" tanya Kougyoku sambil meraih tiga lembar sertifikat berjudul sama.

"Kamu tidak tahu?" Hakuei balik bertanya tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Ia masih berusaha mencari sertifikat yang lain.

"Tidak," jawab Kougyoku pelan. Diletakkannya sertifikat yang tadi, lalu diambilnya sertifikat lain. "Hakuei-nee juga pernah mengikuti lomba debat bahasa Inggris dan jadi semi finalis?"

"Itu bersama dua orang kakak kelasku, jadi―"

"Tetap saja itu keren!" Kougyoku memekik kagum. Dia lalu menatap Hakuei dengan tatapan berbinar. "Apa lagi? Hakuei-nee pernah ikut lomba apa lagi?"

"Hmm ... menulis? Sertifikatnya juga ada, kalau tidak salah."

Kougyoku memilah-milah kertas yang ada lalu menemukan satu yang dimaksud Hakuei. "Wah...."

Melihat respons Kougyoku yang unik dan belum pernah ia lihat sebelumnya, Hakuei tertawa. Ditunjuknya sebuah sertifikat sambil berkata, "Lihat, ini ada sertifikat dengan empat tanda tangan, dan semuanya sejajar. Ada juga yang tidak sejajar, tapi itu supaya layouting-nya cukup, bukan supaya kelihatan seperti surat resmi. Menurutku, kamu coba saja sejajarkan semua tanda tangannya. Kalau hasilnya bagus nanti juga Yamuraiha-sensei tidak akan protes."

Kougyoku mengangguk setuju. Diarahkannya kursor ke kotak-kotak nama, lalu disejajarkannya kotak-kotak itu sesuai saran Hakuei. Selesai, gadis merah itu tersenyum puas. "Memang kelihatan lebih bagus!"

Hakuei tertawa kecil. "Kalau begitu, sudah bisa kutinggal, ya? Aku mulai mengantuk."

"Iya! Terima kasih, Oneesan!"

Malam ini, Hakuei mendengar adiknya memanggilnya tanpa menyebut nama.

.

Keesokan malamnya, Hakuei terbangun lagi. Kali ini efek panggilan alam, atau panggilan toilet mungkin lebih tepat. Sepertinya hari ini gadis bersurai biru gelap itu terlalu banyak mengonsumsi semangka. Hari itu memang sedang panas sih, mau bagaimana lagi.

Hakuei melangkah menuju kamar mandi, yang tepat berada di samping kamar Kougyoku. Sebelum masuk ke dalam ruangan sakral tersebut, Hakuei sempatkan diri melirik ke dalam kamar sang adik yang masih terang benderang.

Oh, Kougyoku ada di kasur, tertidur di atas tumpukan kertas yang entah berisi apa.

Hakuei menghampiri gadis itu, untuk sejenak lupa bahwa ia masih harus memenuhi permintaan kandung kemih. Ditariknya perlahan kertas-kertas dengan judul yang sama: Berita Acara Pertandingan.

Si sulung berusaha menahan tawa. Sepertinya adiknya ini tertidur saat sedang menghitung jumlah kertas atau membubuhi cap sekolah pada setiap lembar. Kasihan sekali.

Hakuei meletakkan kertas-kertas tersebut di atas meja belajar Kougyoku, lalu menyelimuti adiknya itu. Dalam hati berharap semoga Kougyoku tidak mendadak terbangun dan kembali mengerjakan tugasnya sebagai sekretaris. Kougyoku sudah cukup lelah tanpa perlu gadis itu berkata.

Setelahnya, Hakuei berjalan cepat ke toilet. Kandung kemihnya memanggil lagi.

.

Keesokan malamnya, Hakuei kembali terbangun di malam hari. Baiklah, dia mulai merasa heran dengan rutinitasnya yang satu ini. Malam ini dia tidak haus dan tidak ingin ke toilet, lantas mengapa otaknya mendorong tubuh untuk mendadak terjaga?

Ingin rasanya gadis itu kembali terlelap, tetapi ada rasa penasaran yang menahan kantuknya.

Bagaimana kabar Kougyoku malam ini? Hakuei ingin tahu.

Gadis itu turun dari ranjangnya, melangkah pelan menyusuri koridor menuju kamar Kougyoku. Ah, dia mendadak haus. Mungkin ada baiknya juga kalau ia sekalian pergi ke dapur. Minum lalu sedikit makanan ringan di malam hari bukan masalah, lah. Perutnya agak lapar juga ternyata.

Hakuei melintasi kamar Kougyoku, dan menemukan lampu kamarnya mati.

Adiknya sepertinya sudah tidur. Tadi memang gadis itu pulang lebih malam daripada biasanya, dan dalam kondisi rambut serta wajah acak-acakan.

Hakuei tidak ingin mengganggu. Dia akan melanjutkan perjalanannya ke dapur lalu kembali ke kamar cepat-cepat.

.

Untuk yang kesekian kalinya setelah beberapa hari! Hakuei kembali terbangun di tengah malam tanpa alasan yang cukup jelas untuk membuatnya bangun. Mengapa?

Gadis itu menghela napas keras. Sepertinya memang dia digiring untuk memeriksa keadaan Kougyoku lagi, berhubung ia sedang libur sehingga tidak ada pekerjaan khusus. Hakuei turun dari kasurnya, lalu berjalan menuruni tangga.

Bangun tidurnya kali ini beralasan. Lampu kamar Kougyoku masih menyala, menunjukkan bahwa gadis itu masih belum terlelap dalam tidur.

Sebentar, belum terlelap? Bukankah gadis itu masih ada kegiatan besok?

"Kougyoku?" Hakuei menggeser pintu kamar si bungsu itu pelan. "Belum tidur? Besok masih ada pertandingan, bukan?"

"Iya, ada," jawab Kougyoku tanpa mengalihkan fokus dari komputer yang tengah dianiaya olehnya. Tentu saja aniaya secara harfiah, sebab Kougyoku memperlakukan keyboard-nya dengan semena-mena seolah benda itu adalah batu yang mustahil bergeming. "Memangnya sekarang jam berapa?"

"Hampir setengah satu."

"Hah?!" Kougyoku buru-buru melirik jam pada monitor. "Astaga! Jam ini terlambat dua jam!"

Hakuei akan ingat untuk memperbaiki jam tersebut besok.

"Aku harus menyelesaikan sertifikat untuk wasit," jelas Kougyoku sambil membalikkan badan kesal. "Dan mereka baru menyetorkan namanya tadi."

Hakuei mengangkat alis. "Berapa banyak?"

"Lima orang, tapi yang menyetorkan namanya baru tiga, sedangkan aku harus mencetak sertifikatnya besok pagi."

"Oh." Hakuei menimbang sejenak. "Biar aku yang kerjakan kalau begitu."

Kougyoku melongo. "A-apa?"

"Biar aku yang kerjakan supaya kamu bisa istirahat," jelas Hakuei sambil setengah mendorong tubuh Kougyoku ke arah kasurnya. "Cepat, tidur."

Si bungsu menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya. "Terima kasih, Oneesan."

Hakuei hanya membalas dengan senyum sebelum sepenuhnya merajut fokus kepada layar yang ada di hadapannya.

Malam itu, Kougyoku menjalin kepercayaan pertamanya kepada sang kakak.

.

Keesokan malamnya, Hakuei kembali terbangun pada jam yang sama. Baru saja gadis itu akan kembali tidur jika tidak ingat bahwa hari itu adalah hari terakhir pertandingan yang diadakan kepanitiaan sang adik. Penasaran akan apa yang ditemukannya di kamar Kougyoku, Hakuei memutuskan untuk turun.

Lampu kamar Kougyoku masih menyala begitu Hakuei tiba di depannya. Ia geser sedikit pintu itu, dan menemukan sosok Kougyoku sedang duduk manis di atas kasur sambil merapikan ransel sekolahnya.

Benar, pertandingan telah selesai dan besok, gadis itu akan kembali ke rutinitasnya.

Hakuei bertanya-tanya, apakah hubungannya dengan Kougyoku juga akan kembali ke rutinitasnya? Apakah mereka akan kembali bersikap dingin terhadap satu sama lain?

Lalu pertanyaan lain timbul, untuk apa malam-malam sebelum ini ada jika bukan untuk memperbaiki hubungan mereka yang rusak? Mungkin saja Tuhan menunjukkan cara terbaik untuk membangun hubungan mereka kembali. Iya, 'kan?

Hakuei memantapkan hati. Digesernya pintu Kougyoku agar terbuka lebih lebar. "Kougyoku?"

Kougyoku spontan menoleh. "Oh, Oneesan? Ada apa?" tanyanya sambil meletakkan tas di atas kursi belajarnya. "Aku baru saja mau tidur."

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Hakuei. Gadis bersurai biru itu justru ikut duduk di atas ranjang sang adik lalu mengulas senyum pada bibirnya. "Pertandingannya sudah selesai, ya?"

Meski heran, Kougyoku tetap menjawab dengan anggukan. "Tapi ... besok ada evaluasi besar-besaran, jadi aku akan pulang terlambat lagi."

"Tidak apa-apa," balas Hakuei tanpa menatap adiknya. "Tidak apa-apa."

Lalu hening menyelimuti keduanya.

"A-anu...." Kougyoku mengusap tengkuknya bingung. Ia pindahkan kakinya ke tatami, memosisikan duduk di samping kakaknya. Ditatapnya sang kakak sambil bertanya, "Ada yang salah?"

"Oh? Tidak." Hakuei menggeleng pelan. "Semuanya baik-baik saja."

"Oh." Kougyoku mengangguk. Ia kembali mengangkat kakinya ke atas ranjang, lalu merapatkan diri ke arah bantal. "Kalau ... Oneesan tidak keberatan, aku sudah mau tidur."

"Ah, benar!" Setengah panik, Hakuei segera bangkit dari duduknya. Kini gilirannya menatap Kougyoku. "Besok kamu masih sekolah ya, Kougyoku?"

Kougyoku mengangguk sambil menutupi badannya dengan selimut merah jambu yang paling ia sukai sejak kecil. "Jam normal, tidak ada toleransi untuk panitia pertandingan sekalipun. Mengesalkan, ya?"

Keduanya tertawa pelan. Kecanggungan di antara keduanya seolah menguap begitu saja.

"Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku," ujar Hakuei dengan seulas senyum di wajah. "Besok ... mau kuantar, tidak?"

"Diantar?" Dahi Kougyoku mengerut heran. "Ke mana?"

"Tentu saja ke sekolah."

"Mau!" angguk Kougyoku senang. "Sangat mau!"

Hakuei tergelak. "Baiklah, jangan sampai terlambat bangun."

Kougyoku mengangguk pelan sebelum memosisikan dirinya untuk tidur. Ditepuknya pelan bantal yang akan ia tiduri sebelum meletakkan kepalanya di atas benda tersebut. "Uh ... Oneesan, boleh aku minta tolong matikan lampunya?"

Hakuei mengangguk. Gadis itu berjalan menuju pintu kamar Kougyoku, mematikan lampunya, lalu menutup sedikit pintu tersebut. "Selamat malam, Kougyoku."

"Selamat malam, Oneechan."

Hakuei menutup pintu tersebut lalu melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Setelah malam ini, tidak ada lagi yang namanya bangun di tengah malam demi memeriksa keadaan Kougyoku. Tidak perlu lagi Hakuei mencurahkan perhatiannya kepada sang adik hanya pada tengah malam.

Karena mulai saat itu, Hakuei dan Kougyoku telah memperbaiki hubungan mereka yang telah lama rusak, dimulai dari panggilan "Oneechan" yang diucapkan Kougyoku.

.

.

.

FIN
A/N.


AKHIRNYA SELESAAAI!!! *sujud sujud dengan linangan air mata* /gagitu

Setelah sekian lama dan mulai merasa hopeless karena nggak yakin cerita ini bakal kelar (dan yakin cerita ini bakal berakhir menjadi draft yang tak terselesaikan aja), akhirnya bisa selesai juga. :') Dengan perjuangan gonta-ganti media (HP, tab, laptop, laptop orang, tab orang, pokoknya buanyak) demi menghalau bosan, akhirnya kelar juga di tangan laptop sendiri. /gimana

Kisah ini "sedikit" diambil dari kisah nyata, tapi nggak semua bagian XD dan fyi aja, latar aslinya nggak tengah malam, kok. Pelaku aslinya mah, kalo kebangun di tengah malam ya, berusaha tidur lagi. /gagitu

Akhir kata, ditunggu komentarnyaaa :') /masih tebar confetti/


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone