Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
Learn More · Sign-up for Free
Your Fave Author
Author yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada fanfiksi pertamanya yang saya baca dan terus-menerus bikin saya jatuh cinta lebih dalam kepada fanfiksi-fanfiksinya adalah crystallized cherry.

Jujur saya sendiri gak paham apa yang bikin saya sukaaa banget sama karya-karya beliau. Karya beliau yang pertama kali saya baca itu di fandom Magi, dan saya langsung cinta. Langsung aja saya fav dan follow beliau, eh tahunya, kami malah kerja bareng di IFA 2016. Senangnya tiada dua~ (/.\)

Tapi karena fandom beliau itu Hetalia, maka saya memutuskan untuk "nyebur" ke sana dengan membaca karya beliau. Dan saya masih jatuh cinta--makin malah--pada karya-karya beliau. Hahaha. >_<

Haruskah Ada Romance di Setiap Fic Multichapter?
Nooo, romens itu gak mutlak harus ada. Otak manusia masa kini memang sudah diracuni seluruhnya(?) oleh romens ya, jadi kalo baca cerita atau nonton film yang dicari romens lagi romens lagi :")) gak usah jauh-jauh, ambil aja Wattpad. Di sana lebih banyak pembaca romens ketimbang genre lain entah atas alasan apa.

Kalau tujuan kita adalah "menulis fanfiksi ini", maka romens gak mutlak ada. Tapi kalau tujuannya sejak awal memang pingin eksis, ya romens jadi pilihan utama kurasa.

gimana cara meramaikan fandom sepi?
Pertama, meski sepi, kita harus tetap menulis dengan sepenuh jiwa dan raga :")) /nak

Kedua, ajak temen. Racuni temen itu dengan segala macam hal terkait si fandom yang mungkin bisa menarik minatnya untuk baca cerita kita, hohoho.

Ketiga, promosi. Tapi apa daya ya kalau memang orang nggak semangat nulis di fandom itu. Yang penting kita udah berusahalah XD

Drabble & Flash Fiction
Neoratu
7 Feb 2010, 01:03 AM
Bukan cuman singkat lagi. Drabble itu malah mesti 100 kata pas, ga lebih dan ga kurang.
di situ rese dan sulitnya xD
Kadang orang salah mengira, bikin fic pendek dan dibilang sebagai drabble.
padahal selama itu bukan 100 kata pas, itu ga bisa dibilang drabble.
Tapi ficlet yang drabble-ish.
Wah, aku malah baru tahu kalau nggak pas 100 itu namanya bukan drabble lagi ...
Berarti ya, setuju, sulit xD lebih mudah bikin ficlet~

chapters
Nggak ada jumlah chapter yang "benar" karena pada hakikatnya, itu semua terserah kepada si penulis yang membuat ceritanya. Paling disesuaikan aja sih supaya ceritanya nggak terlalu bertele-tele. Kalau sampai 1000 chapter kan mabok juga. :"D

Aku pribadi lebih suka menulis oneshot karena; aku lebih suka memikirkan satu momen singkat lalu menuliskannya dengan "manis" (biasanya buat romens); aku nggak pandai bikin cerita berkelanjutan yang sampai jadi satu buku, entah kenapa kehilangan kemampuan ini sejak mulai menulis fanfiksi; aku gak perlu kejar dedlen upload karena memang udah selesai dalam satu halaman; dan aku gak perlu khawatir tiba-tiba hilang mood atau ide saat menuliskannya, karena sudah selesai.

Cara Menulis Disclaimer
Caraku menulis disklaimer bertahap sejak mulai nulis fanfiksi.

Pertama, gak pakai disklaimer sama sekali.

Kedua, cuma nulis nama fandom dan "bukan punya saya" beserta "ceritanya punya saya".

Ketiga, nulis nama fandom dan pengarang aslinya beserta judul fanfiksi dan namaku.

Keempat, nulis nama fandom, pengarang asli, dan tulisan "tidak ada keuntungan material apa pun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini".

Cuma setahuku untuk penulisan disklaimer yang lengkap dan benar, selain nama fandom dan pengarang asli juga penegasan bahwa fanfiksi kita hanya untuk kebahagiaan hqq, harus juga disertakan ucapan terima kasih kepada pengarang asli karena telah menciptakan karakter untuk kita ubek-ubek(?). Cuma sampai sekarang aku belum menggunakan itu, sih. Nanti ceritaku malah tenggelam sama disklaimer, kan gak lucu. :")) /nak

Anom Review
Sampai sekarang aku masih membiarkan anon nge-review ceritaku soalnya aku emang suka dapat review, sih. Perihal flame, hmm, alhamdulillah selama ini aku gak pernah dapat. Mungkin karena fandom jajahanku damai? Entahlah.

Intinya sampai sekarang, aku masih menikmati di-review oleh anon meski saat dia nanya atau ngajak kenalan aku gak bisa balas karena dia ... yah, anon. Hehe.

Apakah hobi nulis fanfic anda direstui ortu?
Ngakak dulu baca tanggapan Rayhan XD

Kalau aku sih, hobi menulisku direstui, itu satu. Kalau untuk hobi menulis fanfiksi ... hmm, gak bisa dibilang gak direstui karena nggak pernah ada larangan. Gak bisa dibilang direstui juga karena gak pernah ada ucapan semacam itu. Ibuku beberapa kali baca fanfiksi buatanku (itu juga aku milih dulu mana yang sekiranya nggak menjurus ke romens, gak enak soalnya kalo ortu baca romens sementara saat ada adegan ciuman di TV aja suka disuruh pindahin channel), dan beliau selalu bilang bagus. Kalau Ayah ... nggak, beliau gak pernah baca tulisanku sepanjang pengetahuanku. Jadi ... bisa dibilang aku direstui, tapi mereka nggak berniat untuk menelusuri apa yang mereka restui itu?

Soalnya saat aku ditanya "lagi apa?" dan aku jawab "lagi nulis", mereka gak pernah komplain dan nanya lebih lanjut, sih.

Referensi
Kalau referensi, sebenernya tergantung kebutuhan kita akan fanfiksi itu sendiri. Kalau memang fanfiksinya cuma fanfiksi ringan dengan konflik yang juga ringan, biasanya aku nggak mencari referensi. Tapi kalau sejak awal aku emang udah berniat untuk bikin fanfiksi yang "mendidik", maka dari awal juga aku akan cari referensinya.

Beberapa fanfiksiku yang aku buat dengan mencari referensi:
  • Balada Mulan, aku nyari manuskrip tentang Mulan itu ditemukan di tahun berapa aja, dinasti apa, dan dalam bentuk apa kisahnya diceritakan. Setelah itu, aku "transformasi" abad ke dalam bentuk "peti".
  • Qilin yang Diperebutkan, aku nyari tahu soal Kirin, hewan mitos Jepang, yang ternyata hewan mitos negara lain juga, lalu aku buat seolah-olah mereka "berebut" hewan mitos ini.
  • Teratai Merah Fagertärn, aku baca cerita tentang mitos aslinya lalu menuliskannya dalam bentuk sudut pandang orang ketiga.
  • Canadactuary, sebenarnya untuk yang satu ini aku bukan nyari referensi melainkan referensinya udah ada di dalam kepalaku. Aku belajar ini di kuliah, dan efek mabok (saat mabok aku nulis cerita), jadilah aku menuliskan kemabokan(?)ku ke dalam fanfiksi.
  • Gerakan Bahasa Bangladesh, mungkin ini adalah fanfiksi terserius yang pernah aku buat. Aku bener-bener baca detail, satu demi satu, sejarah penentuan bahasa resmi di Pakistan sampai Bangladesh memisahkan diri dari Pakistan. Bahkan saking bangga(?)nya sama usahaku sendiri, aku cetak fanfiksi ini dan kupajang di mading kampus. Haha.
  • Lyme, fanfiksi ini juga salah satu efek mabok kuliah. Ceritanya adalah aku harus nyari jurnal tentang penyakit, lalu nemu info mengenai salah satu penyakit, dan aku jadikan fanfiksi aja daripada infonya hanya beredar di otakku.
  • Imatinib, lagi, ini juga adalah fanfiksi efek mabok. Terlalu banyak baca jurnal tentang pengobatan kanker sampai akhirnya terbitlah(?) fanfiksi ini.
  • Esai Ramuan, aku mencari informasi mengenai ramuan yang nggak familier itu dengan detail di wikianya, mulai dari penjelasan umum sampai cara membuat, cuma cara membuatnya gak kucantumkan. Padahal intinya aku cuma mau nulis Harmony. /nak

Jadi menurutku mencari referensi itu, sekali lagi, tergantung kebutuhan. Lebih baik memang jika kita menggunakan banyak referensi demi keriilan fanfiksi kita, cuma fanfiksi gak menuntut kita secara mutlak untuk bereferensi ria.

Tapi harus kutegaskan, nyari referensi itu asyik! XD

Apa yang membuatmu bertahan
Yang membuatku bertahan membuat fanfiksi, sejujurnya, adalah karena aku pingin jumlah fanfiksiku nambah terus. Serius.

Ada kebahagiaan tersendiri saat berhasil menyelesaikan satu fanfiksi, di-upload, dan melihat tulisan "This author has written xxx stories for ..." dimana xxx-nya itu angka yang terus bertambah. Sebut aku ngambis bikin fanfik, tapi emang bener, aku terobsesi untuk menambah jumlah angkanya.

Dan karena aku tahu meski tanpa review, ada orang yang benar-benar menunggu aku untuk upload fanfiksiku. Mungkin cuma satu atau dua orang, tapi orang-orang itu menunggu, dan keyakinan akan hal itu cukup mendorongku untuk nggak berhenti menulis.

Beda kasusnya kalau menulis nonfanfiksi. Kalau nonfanfiksi sih, aku terus menulis karena proyek menulis bulanan dan seseorang yang menginspirasi. Gimana ya, kalau sudah menginspirasi sih, mau bagaimana pun akan mendorong kita untuk terus menulis lagi dan lagi, 'kan?


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone