Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Register for Free
Kala Nyemplung ke Fandom Baru
Entah kenapa nyemplung ke fandom baru itu bagiku ... biasa aja. Aku nggak merasa tertekan untuk masuk ke dalam fandom baru, apapun itu. Oke, kecuali kalo aku masuk fandom baru karena 'dipaksa' temen buat bikin cerita rikuesannya di fandom ybs. Itu agak deg-degan karena khawatir kena flame or something similar, tapi satu kuncinya: pede aja XD

Drabble Berantai
Prompt: Sidik Jari
Character(s): Reva, Dilan

"Hasil penemuan barang buktimu waktu itu," ujar Dilan sambil mengangkat selembar amplop besar tipis lalu menyodorkannya kepada Reva. "Laporan lengkapnya ada di dalam sana. Dan kamu benar, banyak sekali sidik jari di dalamnya."

Reva menerima amplop itu lalu membalas, "Jadi memang pelaku kita ini ceroboh, 'kan?"

"Sepertinya iya, atau dia sengaja menjebak si ceroboh ini agar dia bisa bebas."

"Oh, bisa jadi." Reva membuka amplop tersebut lalu meneliti isinya. Belum sampai ia ke bagian analisis sidik jari, ia bertanya, "Apa sidik jari yang didapat ada di dalam basis data kita, Lan?"

"Ada."

Reva mengerjapkan mata. Ditelitinya kembali barisan tulisan berukuran 10 pt itu sambil mencari dua kata: sidik jari. Dia benar-benar penasaran siapa yang seceroboh itu meninggalkan jutaan sidik jari di TKP.

Dan, jawabannya?

Minerva Grages Brechkovsky..

Next Prompt: Celaka

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Menujah
Fandom: Omen Series © Lexie Xu
Warning: Post-Canon, Spoiler, a bit gore, OOC, typo(s).
Character(s): Nikki
Spoiler: click to toggle

Next Prompt: Kontemporer

Index Fanfic
Lapor! :D

Judul: Lorry Corry Honey Bunny Twinnie
Summary: Karena Lysander senang mengganggu kembarannya. #Siblingisasi
Fandom: Harry Potter
Character(s): Lorcan Scamander & Lysander Scamander
Rating: K
Genre: Family/Humor

Lorry Corry Honey Bunny Twinnie
Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Post-Canon, OOC, typo(s).

Summary: Karena Lysander senang mengganggu kembarannya.

Lorry Corry Honey Bunny Twinnie oleh reynyah
untuk Siblingisasi
.

.

.

"Looorc."

Lorcan menghela napas. "Untuk yang kesembilan kalinya, apa, Lys?"

Lysander mengekeh pelan sebagai respons terhadap erangan saudara kembarnya itu. "Aku bosan, ayo kita pergi."

Lorcan diam sejenak. "Tidak mau," jawabnya lugas. "Aku mau menghapalkan isi buku ini."

"Astaga, Lorc, kau punya waktu satu tahun untuk menghapalkan isinya!" Suara Lysander meninggi. "Sekarang bahkan masih liburan musim panas, tahu?"

Ya, Lorcan dan Lysander tengah berada di tengah-tengah liburan musim panas mereka. Itu artinya, tidak lama lagi mereka akan naik tingkat. Mereka akan menjadi pelajar sihir Hogwarts tahun ketiga.

"Tidak bisa begitu," bantah Lorcan tidak mau kalah. "Ini materi yang penting sekali, Lys, dan jalan-jalan tidak akan membantuku menghapalkannya."

"Memangnya aku akan mengajakmu kemana, Lorc?"

"Entahlah, pokoknya aku tidak berminat." Lorcan kembali fokus kepada buku bacaannya. "Dan sekali lagi, jangan ganggu aku."

Lysander mana mungkin menurut?

Eh, mungkin sih, tetapi hanya dua menit. Setelahnya ...

"Looorc."

"Apa lagi, Lys? Ini sudah yang kesepuluh kalinya kau memanggilku saat sedang membaca buku ini." Lorcan menghela napas lelah. "Padahal kau juga tahu, seharusnya kau tidak menggangguku saat sedang membaca."

"Aku hanya ingin memanggilmu, kok," balas Lysander tidak acuh sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak ke arah Lorcan. "Tidak digubris juga tidak apa-apa."

Lorcan mendengus lalu kembali membaca bukunya.

Selang dua menit berikutnya ...

"Lorc! Lorc!"

Lorcan tidak menjawab.

"Lorc! Jawab aku!"

Kesal, Lorcan membanting bukunya pelan. "Tadi kau sudah bilang tidak digubris pun tidak apa-apa!"

"Memang, lantas mengapa kau menurut?"

Sial, batin Lorcan kesal. Kembali ia fokuskan mata dan otaknya kepada buku yang tadi ia banting. Untung saja buku itu bukan Buku Monster: Tentang Monster. Oh, omong-omong soal buku itu, Lorcan menyimpannya dengan baik di atas nakas samping ranjang, tidak seperti Lysander yang meletakkannya di bawah rak sepatu agar ayah dan ibunya terkejut saat pulang nanti.

Dua menit setelahnya ...

"Lorc!"

Lorcan bungkam. Lysander tidak bisa menipunya lagi, tidak bisa.

"Lorcan!"

Lorcan pura-pura tidak mendengar.

"Lorcan Scamander!"

Cih, penambahan nama belakang tidak akan membuat Lorcan luluh.

"Lorcan Newton Scamander!"

Oke, perasaan Lorcan mulai tidak enak.

"Lorry Corry!"

Sial, perasaannya benar. Lysander mulai seenaknya mengubah nama panggilan.

"Lorry Corry Honey Bunny Twinnie!"

"Lys!" Kesal, Lorcan membanting kembali bukunya. "Apa-apaan?!"

Lysander terkekeh. "Bro, kita sudah tiga belas tahun menjadi saudara kembar dan kau masih menanyakan 'apa-apaan' kepadaku?"

Lorcan mendengus kesal. Tidak salah juga sih, perkataan kembarannya yang satu itu. Sebenarnya Lorcan tahu persis apa mau Lysander kok, dia hanya tidak mau mengaku saja.

"Jadi bagaimana, Lorc? Masih ingin berkutat dengan buku dan kupanggil Lorry Corry Hun―"

"Baiklah, baiklah," potong Lorcan kesal. Ditutupnya buku yang tengah ia baca dengan benar, lalu ditatapnya Lysander. "Kau mau kutemani melakukan apa, Lys?"

Lysander tersenyum puas. Sepertinya mengerjai saudaranya lagi setelah ini tidak akan jadi masalah, hm?

.

.

.

FIN
A/N.


Setelah dibaca ulang yang pertama kali kupikirkan adalah, "Ini kenapa Lysander kampret banget, ya?"

Tapi yaudahlah ya, wong Rey juga yang nulis orz

Entah kenapa bagi Rey, Lorcan adalah cowok nerd yang serius dan penurut, sedangkan Lysander adalah cowok iseng yang suka banget nge-prank Lorcan. Aduduh, gemas sekali lah sama mereka3

HP Next Gen itu emang paling enak dibayangin xD

Oke, ditunggu komentarnya~ xD

Drabble Berantai
Prompt: Rinai
Character(s): Reva

Langit mendung lagi untuk yang kesekian kalinya hari ini.

"Ah," keluh Reva sambil menyodorkan tangannya ke luar kanopi.

Kebetulan hari ini Reva ada janji temu dengan seorang teman di sebuah rumah makan cepat saji, hal yang membuatnya tidak bisa bermalas ria di rumah. Sayangnya, Reva tidak membawa payung pun jas hujan. Temannya sih, tadi sudah berangkat kerja dengan mobil yang dibawanya. Harusnya Reva ikut serta, tetapi gadis itu tidak enak jika temannya harus mengantar dulu sebelum berangkat kerja.

Gerimis mulai turun. Gawat, batin Reva sambil melindungi kepalanya dengan tas. Ia berlari menyusuri trotoar yang tidak berkanopi sambil berharap akan segera tiba di halte.

Gadis itu tiba di halte dalam kondisi seperempat basah.

Untunglah, tadi itu hanya rinai.

rinai /ri·nai/ n gerimis; rintik-rintik; tetes-tetes (tentang hujan)
Next prompt: Prioritas

Drabble Berantai Keroyokan
@Phia: nggak kok, bianglala yang muternya ke atas itu. Di ceritanya, emang cowok itu loncat dari atas ke bawah lewat kereta-kereta(?) bianglalanya xD

Prompt: Mercusuar
Fandom: Omen Series & Johan Series © Lexie Xu
Warning: Post-Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Nikki, Johan

Setelah perjalanan yang cukup lama dan panjang, gadis itu akhirnya berhasil tiba di tepi pantai. Pantai itu cukup sepi akibat gosip mengerikan yang tersebar dari mulut ke mulut. Gadis itu tidak takut, karena toh, dia tahu apa yang menyebabkan kejadian-kejadian mengerikan itu terjadi.

Sang gadis melangkah mendekati mercusuar yang ada di sana, mercusuar yang katanya berhantu. Sebenarnya dia heran mengapa banyak sekali gosip beredar di sekitar sini.

Pintu mercusuar dibuka dengan mudahnya. Yah, gosip tidak berdasar itu menyebabkan orang-orang ketakutan sampai tidak mau lagi menggunakan mercusuar ini. Keputusan bodoh, karena kini gadis itu dapat menggunakannya.

Ia masuk ke dalam, lalu berbelok di ujung lorong. Didapatinya seseorang duduk di pojok ruangan, diam seolah menunggu kedatangan seseorang yang lain.

"Lo terlambat lima menit."

"Sori, mobil gue sempet mogok di jalan," jawab sang gadis sambil mengangkat bahu. "Langsung aja. Gimana rencana yang lo susun?"

Seseorang yang sedang duduk itu menyunggingkan senyum tipis. Matanya berkilat di balik kacamata yang ia pakai. "Sempurna."

"Good, kapan mereka nyampe?"

"Kurang lebih satu jam lagi."

Sang gadis menyunggingkan senyum lebar yang seolah merobek wajahnya jadi dua. "Then, we should prepare our surprise now."

Next prompt: Angkatan Laut

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Bianglala
Fandom: Omen Series © Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Daniel Yusman

Harus kuakui hari ini aku senang luar biasa.

Gimana nggak? Hari ini, meski dengan bahaya yang mengiming-imingi kami, aku berhasil menikmati beberapa jam pertama di karnaval bersama Rima!

Oke, meski bersama Aya, tetap aja aku bahagia bukan kepalang! Akhirnya setelah sekian lama kejar-kejaran layaknya kucing dan tikus―Rima jadi tikus, soalnya dia hobi ngumpet, tapi bukan berarti dia tikus got yang kumuh, gendut, dan menjijikan―kami bisa berduaan juga!

Sengaja kugiring cewek itu ke bianglala, supaya kami bisa kabur dari kejaran cewek-cewek gila sok populer bonus Amir dan Welly yang tadi sengaja kami tinggalkan di kafe. Habis, malas banget rasanya kalo semalaman harus bergabung dengan mereka bonus cewek-cewek itu. Ngeri, man! Apalagi ada Nikki. Nikki!

Bianglala kami berputar ke atas dan aku jelas dapat melihat seringai samar pada bibir Rima. Sial! Senyum cewek itu manis banget!

"UWAAA!!!"

Mendengar teriakan mengerikan itu, buru-buru aku meloncat turun dari bianglala kami yang tepat berada di atas. Tentunya aku gak bodoh dong, aku ayunkan badanku yang atletis ini ke arah bianglala berikutnya, terus begitu hingga aku berhasil mencapai tanah.

Sori Rim, gue harus ninggalin elo dulu...

Next prompt: Zona Waktu

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Renjana
Fandom: Omen (c) Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Daniel Yusman

Valeria Guntur itu... berbeda.

Daniel tahu itu, dan itulah mengapa ia berhasil menyukai cewek itu. Itulah mengapa ia kini tidak lagi tebar-tebar pesona kepada seluruh cewek yang ia temui, tidak lagi pedekate kepada cewek yang senyumnya lebih manis dari gula, juga tidak lagi mengencani cewek yang matre terselubung. Bukannya Daniel trauma atau apa, hanya saja dia tahu, perasaan yang dia rasakan pada Valeria ini tidak dangkal dan membuatnya belajar setia.

Akan tetapi, Daniel juga tahu Rima Hujan itu berbeda.

Cewek ajaib ini yang justru membuatnya lebih merasa nyaman, merasa aman, dan merasa seolah seluruh dunia berada dalam genggamannya. Hanya Rima yang berhasil membuat Daniel dapat tampil apa adanya, tidak dibuat-buat--Erika juga bisa sih, tetapi kesampingkan cewek itu karena dia hanya fisiknya saja yang cewek.

Daniel tidak munafik, dia tahu Valeria lah yang dicintainya. Hatinya berkata begitu, dan Daniel, walau cowok, tentu saja juga mendengar kata hati

Hanya saja, kalau Valeria yang ia cintai, mengapa hatinya terasa sakit menerima penolakan Rima padahal hanya sebagai teman?

Sepertinya Daniel harus mempelajari isi hatinya lagi.

renjana/ren·ja·na/ n rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya)
next prompt: apresiasi

Drabble Berantai
Prompt: candu
Character(s): Reva

Sore itu, Reva sedang merebus sesuatu di dapurnya. Bukan, bukan merebus air. Kalau air hangat sih, dia masih punya dispenser untuk digunakan. Saat ini yang ia rebus bukan hanya air, kok--yang namanya merebus pasti menggunakan air, bukan?

"Mm...." Gadis itu mengambil sebuah benda hijau lonjong yang tengah direbusnya, menekan dua tonjolan yang terdapat pada kulitnya, lalu melahap benda kuning oval yang meloncat keluar dari dalam. "Waa! Panas!"

Dia lupa dia baru saja mengeluarkan benda itu dari air yang bergejolak.

"Tapi ... udah cukup matang, sih," gumamnya sambil mematikan kompor, lalu mengangkat benda-benda hijau itu dengan saringan.

Edamame, benda yang tengah direbus gadis itu.

Dipindahkannya edamame yang baru ia rebus ke dalam sebuah mangkuk, lalu dibawanya ke ruang tengah. Reva duduk di sofa, menyalakan televisi, menggelar selembar tisu di atas meja--untuk kulit edamame, lalu mulai memakan edamame hasil rebusannya sambil menikmati kartun sore--iya, Reva tahu dia kekanakan, masih suka menonton kartun.

Reva terus saja memakan edamame tersebut sambil memindah-mindahkan saluran, mencari saluran yang menyiarkan film lebih tepatnya. Ah, didapatnya sebuah film yang memang ingin ia tonton sejak lama. Berpindah hatilah ia dari kartun ke film action.

Tangan kanan Reva memasuki mangkuk, tetapi tidak ia temukan benda lonjong lagi di sana. Mana edamame-nya?

Reva menoleh, hendak memeriksa isi mangkuk dengan mata kepalanya sendiri.

"Kosong?!" tanyanya kepada diri sendiri. Ia mengalihkan pandang kepada tisu yang ia letakkan di atas meja tadi.

Tanpa ia sadari, tisu tersebut sudah beranak-pinak menjadi tiga lembar, dan ia sudah berhasil membuat tiga gunung sampah kulit edamame.

"Oke, edamame emang over-nyandu." Reva menghela napas. "Rebus lagi, ah."

next prompt: opera

Index Fanfic
Lapor~

Judul: Pada Detik Itu
Summary: Karena pada setiap detik yang berlalu, Remus mulai merasakan sesuatu yang lain.
Fandom: Harry Potter
Character(s): Remus Lupin/Nymphadora Tonks
Rating: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort

Pada Detik Itu
Judul: Pada Detik Itu
Summary: Karena pada setiap detik yang berlalu, Remus mulai merasakan sesuatu yang lain.
Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari fanfiksi ini.
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Remus Lupin/Nymphadora Tonks

Remus pertama kali bertemu dengan perempuan itu pada pertemuan Ordo Phoenix.

Awalnya biasa, karena mereka hanya rekan satu aliansi. Awalnya hanya perkenalan tanpa rasa yang membekas, dengan jabatan tangan mantap diiringi senyum tipis ala Remus Lupin. Ia, perempuan yang rambutnya kerap berubah warna itu, memperkenalkan diri sebagai Nymphadora Tonks—dan menolak dipanggil dengan namanya.

"Tonks," ujarnya mantap kala mereka berjabatan. "Jangan memanggilku Nymphadora."

Remus bukan tipikal lelaki iseng yang hobi mengerjai orang lain seperti kedua sahabatnya—yang kini sudah insyaf. Diminta seperti ini, ia akan melakukannya. Diminta seperti itu, iapun akan melakukannya. Pria melankolis itu tentu saja mengangguk, mengiyakan permintaan Nymphadora dengan memanggilnya sesuai nama yang diminta.

Perempuan itu adalah rekannya dalam berbagai misi, utamanya saat terjadi Perang Sihir II yang memang amat pelik kala itu. Remus, yang memang selalu terlihat miris karena tidak pernah berniat menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun, kerap merasa terhibur saat Nymphadora yang ramah dan supel rajin melontarkan candaan saat rapat-rapat orde. Perempuan itu membuatnya tidak merasa takut akan apa yang mereka hadapi, padahal peranglah yang mereka hadapi—kegelapanlah yang mereka hadapi.

Pada detik itu, Remus mulai tertarik padanya.

.

Nymphadora tidak pernah kelihatan takut, tidak satu kalipun. Seberbahaya apapun misi yang mereka hadapi, Nymphadora hampir tidak pernah menampakkan rasa takutnya sama sekali. Remus penasaran, tetapi tidak pernah memiliki niat untuk bertanya. Kecerewetan perempuan itu pada akhirnya pasti akan mengungkap sendiri jawaban atas rasa penasaran Remus. Dan memang benar, pada suatu misi dimana mereka harus mengintai beberapa area, Nymphadora mengajaknya mengobrol sebentar sambil mengistirahatkan diri.

"Aku tidak tahu mengapa, setiap kita menjalani misi bersama, aku tidak pernah merasa takut." Nymphadora menyandarkan badannya pada tembok, tepat di samping tempat Remus duduk. "Lebih tepatnya, aku tidak pernah bisa menunjukkan rasa takutku."

Hati Remus bertanya-tanya, bukankah seharusnya ia bersyukur?

Pria itu heran, tetapi lagi-lagi memilih untuk diam. Tidak dirasanya pantas menanyakan hal-hal pribadi seperti itu kepada Nymphadora yang bahkan belum tentu menganggapnya sebagai teman. Mereka toh, hanya kenalan biasa yang memihak sisi yang sama, tidak lebih.

Pada detik itu, Remus mulai merasa kagum padanya.

.

Lagi-lagi mereka menjalani misi bersama—mungkin Tuhan ingin menjodohkan mereka dengan cara yang tidak disadari Remus. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tidak ada obrolan santai seperti yang mereka lakukan pada misi sebelumnya. Nymphadora nyaris tidak membicarakan hal-hal pribadi sebab mereka terlalu sibuk melakukan perlawanan akibat serangan mendadak yang tidak terduga.

Dan saat sinar hijau avada kedavra melesat ke arah Remus...

"REMUS!" Nymphadora melucuti sinar itu dengan sihir anti-kutukannya yang kerap selalu berhasil. Dibalasnya serangan itu dengan expelliarmus yang sukses melontarkan tongkat si lawan.

Penjahat itu lari pontang-panting, menghindari serangan lain Nymphadora yang bisa jadi lebih berbahaya.

Remus buru-buru menghampiri Nymphadora yang langsung tersungkur setelah melucuti sihir kutukan yang paling tidak termaafkan itu. Wanita itu lelah, secara batin dan fisik. Lelah batinnya lebih mendominasi, sehingga menguras pula energi fisiknya.

"Tonks, kau tidak apa-apa?" tanya Remus sambil berlutut di samping tubuh perempuan itu. Wajahnya tetap datar seolah tegar, padahal jantungnya berdegup kencang sampai rasanya nyaris mati.

"Jangan sekali-sekali..." Nymphadora meringis pelan. Tampaknya sihir anti-kutukan sekaligus expelliarmus yang dilakukannya berturut-turut membuatnya kehabisan tenaga. "Jangan sekali-sekali lengah terhadap sihir itu lagi... Remus..."

Rambut Nymphadora berubah hitam.

Pada detik itu, untuk pertama kalinya Remus melihat sinar ketakutan di mata Nymphadora. Sinar ketakutan yang kentara sekali, disebabkan olehnya.

Dan pada detik itu pula, Remus jatuh cinta.

.

Remus menyesal telah memilih cinta sebagai perasaan yang ia khususkan untuk Nymphadora. Pasalnya, jika tahu cinta itu rasanya semenyakitkan ini, ia akan membuang bakal perasaan itu jauh-jauh sebelum sempat berkembang.

Andaikan, hanya perandaian kosong, perasaan ini datangnya tidak saat perang sedang terjadi, Remus akan dengan senang hati meninggalkan dunianya kini―Ordo Phoenix, kantor Auror, dan sebangsanya―lalu mencari pekerjaan juga tempat tinggal baru. Ia rela melakukan itu hanya untuk menghindari perasaan sakit atas apa yang diakibatkan oleh wanita itu.

Wanita itu tampaknya mencintai seorang pria muda, tampan, dan berbakat di Kantor Auror. Meski tidak suka menghadapi kenyataan yang satu itu, Remus harus akui bahwa Nymphadora lebih cocok bersama pria itu ketimbang dirinya yang miskin, tua, menyedihkan, dan berpotensi membahayakan umat manusia.

Mungkin lebih tepatnya, Remus berharap Nymphadora mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Atas alasan itulah Remus memilih untuk menyimpan sendiri perasaannya―tidak seperti kebanyakan orang yang buru-buru mendeklarasikan cinta tanpa melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu.

Walau berusaha tampak santai berada di sekitar Nymphadora, Remus tentu saja merasa senang setiap ada celetukan iseng dari rekan-rekan mereka yang mengatakan bahwa mereka terlihat cocok. Yah, di saat seperti itu Remus memutuskan untuk mengabaikan sejenak masalah Nymphadora yang mencintai pria lain.

Maksudnya, membiarkan perasaannya senang untuk beberapa saat toh, bukan dosa.

Lagi pula, hanya pada detik itu.

.

Kurang lebih satu tahun setelah menjalin persahabatan yang cukup erat, Remus dan Nymphadora kembali ditugaskan bersama. Mereka diperintahkan untuk mengintai rumah seorang Pelahap Maut, tanpa menimbulkan keributan apapun. Keduanya akhirnya memutuskan untuk menetap di sebuah persembunyian ordo yang cukup dekat dari sana sembari sesekali menggunakan sihir untuk mengingtai kondisi rumah tersebut.

Menjelang tidurnya Remus―mereka tidur bergantian―Nymphadora menceletuk, "Anggota ordo itu masih kelihatan tampan ya, walau baru keluar dari Azkaban?"

Hati Remus terasa hancur mendengar pernyataan itu. Ia memang sudah menduganya, ia terus meyakinkan itu kepada hatinya. Ia tahu hati Nymphadora tidak jatuh kepadanya, bukan miliknya, tetapi mengapa mengetahui fakta itu masih saja terasa menyakitkan?

"Pria itu selalu mendapatkan wanita yang ia inginkan," balas Remus sebelum sempat mencerna kata-katanya terlebih dahulu. Sungguh, ia tidak bermaksud meminta Nymphadora untuk memacari teman lamanya, tidak. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya―efek sakit hati, mungkin.

"Remus." Nymphadora mengucap nama itu dengan pahit. Dikerutkannya dahi tanda tidak memahami maksud perkataan Remus sebelumnya. "Jangan bilang kau memintaku memacarinya."

Sama sekali tidak, batin Remus. Ingin sekali Remus berkata begitu kalau saja dia tidak mengingat statusnya sebagai makhluk berbahaya di dunia sihir.

Nymphadora menghela napas lelah. "Remus, kau tahu benar siapa orang yang sanggup membuatku jatuh cinta," ujarnya sambil menegakkan badan. "Kau akan menyadarinya kalau saja kau tidak terlalu sibuk mengasihani dirimu sendiri."

Remus menoleh, berusaha mencari maksud terselubung dari perkataan Nymphadora tadi. Sayang, perempuan itu telah melenggang keluar dari kamar mereka.

Siapa? Siapa lelaki beruntung itu, Tonks?

Pada detik itu, rasa penasaran menguasai seluruh tubuh Remus, menyebabkan dirinya tidak bisa tidur sampai gilirannya berjaga kembali.

.

Menyadari bahwa maksud Nymphadora pada malam itu adalah dirinya sendiri, Remus tidak bisa lebih bahagia lagi. Seluruh dunia terasa seperti padang bunga yang dipenuhi kupu-kupu saat ini. Remus rasanya ingin segera berubah menjadi werewolf pada saat itu juga, lari ke atas bukit dengan kecepatan tinggi, lalu melolong sekeras-kerasnya untuk mengekspresikan kebahagiaan tiada tara.

Akan tetapi, Remus kembali mengingat statusnya. Werewolf. Ia tidak mungkin menikah, sangat tidak mungkin. Bagaimaa kalau ia meneruskan gen berbahaya ini kepada keturunannya nanti? Bagaimana kalau ia membahayakan nyawa umat manusia dengan menambah populasi werewolf di dunia? Bagaimana kalau ia membahayakan nyawa Nymphadora saat wanita itu melahirkan seorang―atau seekor―werewolf?

Tidak. Remus tidak sanggup menanggung dosa sebesar itu. Jika menikah hanya akan membawanya kepada dosa, maka ia akan dengan senang hati tidak melakukannya.

Dengan alasan itulah ia menghadap Nymphadora, tidak memaksakan perasaannya dengan menolak perasaan wanita itu.

"Remus, aku tahu bagaimana perasaanmu padaku." Nymphadora berusaha menjaga intonasi lembut pada suaranya. "Menolak perasaanmu sendiri sama saja dengan―"

"Sejak awal aku tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, Tonks." Pahit, Remus berujar. Dihelanya napas pendek sebelum melanjutkan, "Kau... teman yang baik."

Nymphadora mengulas senyum tipis. "Hanya teman?"

Remus mengangguk. "Ya, hanya itu. Tidak ada lagi yang perlu dibahas."

Pria itu berbalik, meninggalkan Nymphadora yang kentara sekali merasa sakit hati dengan sesak yang sama di dadanya.

Pada detik itu, Remus merasa hatinya telah mati.

.

Sejak percakapan tidak menyenangkan itu, Remus tidak pernah lagi mengobrol dengan Nymphadora sebagaimana mereka dulu. Saat Nymphadora lewat, ia berusaha menghindar dengan berbelok ke jalan lain. Saat perempuan itu terlihat hendak mengajaknya bicara, Remus pura-pura sibuk dengan membuka-buka berkas yang ia bawa atau mengobrol dengan seseorang di sekitarnya. Remus juga selalu menolak misi yang mempekerjakannya bersama dengan Nymphadora, lalu menawarkan diri untuk mengerjakan misi yang jauh lebih berbahaya.

Remus merasa seperti remaja labil yang baru saja diputuskan kekasihnya. Ia bersikap kekanakan, ia tahu itu. Akan tetapi, baginya itulah jalan terakhir. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi agar Nymphadora membencinya dan menjauhinya selain menjauhi perempuan itu terlebih dahulu.

Semua orang tahu, Remus tidak dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi, tidak ada yang sanggup mengatakan itu kepada Remus. Pria itu selalu beralasan sibuk untuk segala sesuatu yang ingin ia hindar

Pada suatu malam, Remus memutuskan untuk lembur. Bukan apa-apa, ia hanya ingin menghindari Nymphadora yang selalu kembali tepat waktu. Kemarin-kemarin ia selalu melaksanakan misi sehingga jarang ada di Kantor Auror, tetapi hari ini ia bebas tugas. Daripada berpapasan dengan Nymphadora, ia lebih memilih pulang kelewat larut atau menginap sekalian. Tidak mau lagi Remus berurusan dengan perempuan itu. Perasaannya sendiri sudah cukup sulit ia tangani, apalagi milik Nymphadora?

"Seperti dugaanku, kau lembur lagi."

Remus yang sedang sibuk membaca berkas-berkas terbaru kantor spontan mengangkat kepalanya mendengar suara itu. Suara itu... siapa lagi kalau bukan―

"Tonks," desisnya pelan. Ia benar-benar tidak mengharapkan pertemuan ini dengan kondisi hatinya yang masih kacau-balau.

Nymphadora menghela napas. "Remus, aku tidak suka ini."

Pria itu mengadu pandang dengan Nymphadora, tetapi tidak mengeluarkan suara.

"Kau tidak menerima perasaanku, aku bisa mengerti. Kau tidak menyukaiku, aku juga dapat memahami itu." Rambut Nymphadora berubah biru. "Akan tetapi, aku tidak bisa memahami dirimu yang kerap menjauhiku akhir-akhir ini. Kita hanya teman, 'kan? Kau sendiri yang bilang begitu, kau juga yang mengingkarinya!"

Remus masih diam. Ia tahu Nymphadora masih akan berbicara, jadi dia berniat mempersilakannya.

"Aku tidak memaksamu menerima perasaanku, Remus, aku juga tahu batas," lanjut Nymphadora kesal. "Hanya... fakta bahwa kau juga menolak untuk sekadar membalas sapaanku, itu... itu..."

Nymphadora menghentikan kata-katanya. Ditahannya air mata yang hendak meluncur keluar dengan jempol dan telunjuk tangan kanan. Dia tidak akan menangis, tidak di depan Remus.

Remus menghela napas pelan. Ia bangkit dari duduknya yang nyaman di ruang kerja, menghampiri Nymphadora yang masih menahan isak di ambang pintu. Pria itu diam di hadapan sang wanita. Digenggamnya kedua lengan Nymphadora dengan mantap, berusaha menenangkan.

"Tonks," panggilnya lembut. "Kau tahu seberapa menyakitkannya perasaan ini ketika tidak bisa mengakui perasaannya sendiri?"

Warna rambut Nymphadora berubah ungu. "A-apa?"

"Aku tahu sejak awal kalau ini percuma saja." Remus melanjutkan dengan seulas senyum. "Lebih baik aku mati daripada mengakui perasaanku."

Nymphadora menatapnya tidak percaya. "Remus..."

"Ya, aku juga mencintaimu." Ditatapnya langsung mata Nymphadora. "Tetapi kita tidak bisa bersama, Tonks."

"Karena kau werewolf?" Nymphadora mengernyitkan dahinya. "Aku tidak peduli, Remus! Aku memang mencintaimu, ya mencintaimu!"

"Aku terlalu berbahaya... terlalu tua untukmu..."

"Aku tidak peduli!"

Pada detik itu, Remus mengungkapkan semua yang selama ini ia simpan sendiri.

.

Bill Weasley digigit werewolf, setidaknya itulah kabar yang Remus dengar dari ordo. Entah bagaimana nasib anak tertua Weasley itu sekarang, Remus pun tidak tahu. Entah Bill akhirnya akan bernasib sama dengannya atau tidak, Remus tidak tahu. Yang jelas, sependengarannya pula, setelah insiden itu Bill dan Fleur tetap melanjutkan hubungan mereka.

Dan Remus yakin, Nymphadora akan terpengaruh oleh 'aksi' kedua insan itu.

BRAK!

Pintu ruang kerja Remus dibuka dengan keras.

"REMUS!"

Remus menghela napas. "Tonks, ada apa?"

"Tadi baru saja aku menjenguk Bill, menanyakan kondisinya dan sebagainya!" Nymphadora berjalan mendekati meja kerja Remus. Ditinjunya meja itu dengan kedua tangan. "Dan tebak siapa yang kutemui di sana?"

"Fleur."

"Tepat!" seru Nymphadora bahagia. "Dan tebak apa yang gadis itu katakan padaku?"

"Dia dan Bill tetap bersama."

"Tepat lagi!" Nymphadora tertawa kecil. "Jadi, aku―"

"Tonks, aku benar-benar tidak bisa," potong Remus cepat. Ia ikut berdiri, menghadap Nymphadora yang di luar dugaan, luar biasa keras kepala. "Kau tidak bisa menyamakan kondisiku dengan Bill. Ia kemungkinan besar tidak terkontaminasi, berbeda denganku yang sudah berstatus werewolf."

"Oh, astaga!" Rambut Nymphadora berubah merah. "Remus! Aku sudah katakan ribuan―mungkin jutaan―kali bahwa aku tidak peduli! Sungguh tidak peduli! Aku―"

"Aku juga sudah katakan padamu jutaan kali, Tonks." Remus menghela napas. Lagi-lagi ia memotong perkataan Nymphadora. "Aku terlalu berbahaya, dan terlalu tua untuk bersanding denganmu."

"Oh, Remus, kau konyol sekali."

Fokus Remus dan Nymphadora teralihkan. Dilihatnya oleh mereka sepasang manusia berambut merah kini tengah berada di antara keduanya. Yang tadi berkata, yang wanita tepatnya, kini sedang sibuk memaku pandang pada Remus.

"Molly, Arthur." Remus menegakkan badannya. "Tidak, aku tidak bersikap konyol sama sekali. Tonks memang pantas mendapatkan lelaki lain yang lebih muda dariku, dan tentunya tidak membahayakan seperti aku."

"Lelaki yang lebih muda dan tidak membahayakan tidak selamanya tetap seperti itu, Remus." Arthur menanggapi dengan tegas. "Manusia bisa berubah."

"Ayolah, Remus!" Nymphadora kembali bersuara, merasa kuat karena dibela oleh dua orang di belakangnya. "Aku tidak akan memaksakan perasaanmu kalau dia memang tidak memihakku."

Untuk yang satu itu, Nymphadora ada benarnya.

Remus menghela napas. Ia merasa semakin tua setelah mengurusi Nymphadora dan perasaannya yang rumit ini. "Tidak bisa, Tonks. Aku―"

"Tidak sanggup menanggung dosa karena khawatir keturunanmu bernasib sama?" potong Nymphadora. Sialnya bagi Remus, tebakan wanita itu tepat sasaran.

"Itu bukan salahmu, Remus," timpal Molly. Wanita dengan tujuh orang anak itu seolah sedang berusaha mendinginkan situasi. "Sama sekali bukan salahmu."

"Anakmu akan jadi werewolf bila Tuhan menghendaki, dan tidak akan menjadi werewolf juga bila Tuhan menghendaki," sahut Arthur yang segera diberi sodokan siku pelan oleh Molly.

Rambut Nymphadora berubah menjadi merah jambu seiring dengan senyumnya yang semakin lebar. Ia menatap Remus dalam-dalam lalu mengucap, "Jadi?"

Kalaupun Remus akhirnya menerima perasaan Nymphadora, tidak mungkin bukan, ia mengatakannya di hadapan Arthur dan Molly?

Pada detik itu, Remus harus memilih keputusan terbesar yang akan mengubah hidupnya dengan drastis.

"Tonks, kita bicara lagi nanti malam."

.

Sesuai janji, Remus menemui Nymphadora setelah pekerjaan mereka hari itu selesai. Ia berniat menerima perasaan perempuan yang telah berusaha merebut hatinya selama bertahun-tahun itu. Remus rasa, jika memang wanita itu tidak masalah dengan dirinya yang werewolf dan ada orang lain yang mendukung hubungan mereka, ia patut mempertahankan ini.

Ia patut mempertahankan perasaan cintanya pada Nymphadora, dan perasaan cinta Nymphadora padanya.

"Leaky Cauldron?" tawar Nymphadora yang segera disambut dengan anggukan pelan Remus. Keduanya lalu ber-apparate hingga tiba di sebuah bar merangkap penginapan penyihir yang eksis dengan nama Leaky Cauldron.

Tentu saja, kedatangan mereka ke tempat itu bukanlah untuk minum-minum hingga mabuk.

Keduanya duduk berhadapan di salah satu meja yang masih kosong. Seorang pelayan membawakan dua gelas butterbeer yang sudah dipesan lebih awal, lalu meninggalkan privasi untuk mereka berdua.

"Kau sudah menentukan jawabanmu." Nymphadora menyesap butterbeer miliknya. Bukannya pertanyaan, kalimat itu justru lebih terdengar seperti pernyataan.

"Ya," jawab Remus sekenanya.

Rambut Nymphadora berubah biru. Entah mengapa sebelum Remus berkata, ia merasa sudah mengetahui jawabannya. "Aku mengerti."

"Apanya?" Remus menatap Nymphadora heran. "Tonks, aku bahkan belum mengatakan apa-apa."

"Wajahmu sudah mengatakan segalanya," balas Nymphadora sambil memalingkan wajah. Warna biru pada rambutnya berubah semakin gelap. "Y-yah, aku tidak bisa memaksamu juga, jadi apa boleh buat? Mau berkata sampai milyaran kali pun rasanya tidak akan ada pengaruhnya."

Remus yakin, Nymphadora telah mengambil kesimpulan yang salah.

Dihelanya napas pelan oleh pria itu. "Memangnya apa jawabanku?"

Rambut Nymphadora spontan berubah merah jambu―wanita itu malu rupanya. "I-itu, kau akan menolakku lagi, 'kan?"

Remus mendengus geli sembari memperbaiki posisi duduknya. "Tidak."

Nymphadora melirik. "Tidak?"

"Tidak." Lagi, Remus menegaskan. "Aku tidak berniat menolakmu lagi kali ini."

"Oh..."

Seulas senyum tipis terbentuk pada bibir Remus. Ditariknya tangan Nymphadora yang sejak tadi tidak lepas dari gelas butterbeer miliknya. "Kalau kau memang mencintaiku selayaknya aku mencintaimu―"

"Tentu saja perasaanku jauh melebihimu!" potong Nymphadora geli.

"Baiklah, baiklah." Remus ikut menuai tawa. "Kalau begitu, maukah kau menikah denganku?"

Mata Nymphadora membulat dan melebar. Wajahnya yang semula putih kini ditutupi semburat merah yang senada dengan warna rambutnya. Gagap, wanita itu merespon, "A-apa...?"

"Aku tadi bertanya, maukah kau menikah denganku?"

Nymphadora menutup mulutnya dengan tangan yang bebas. Baiklah, ia sadar responnya akan perkataan Remus itu terlambat sekali, tetapi ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan mengatakannya secepat, sesantai, dan semengejutkan ini.

"Oh ya, sebelumnya maaf karena aku tidak membawa cincin yang pantas untuk melamarmu."

Cincin yang pantas? batin Nymphadora bertanya-tanya. Jangan bilang dia membawa...

"Aku hanya membawa ini." Remus menarik keluar sebuah kotak hitam dari dalam saku jasnya―ia memang selalu mengenakan jas. Disodorkannya kotak itu kepada Nymphadora. "Ini tidak akan mengejutkanmu, kurasa."

Penasaran, Nymphadora membuka kotak itu. Rupanya sebuah cincin besi sederhana dengan ukiran "DORA" pada bagian dalamnya. Sederhana―Nymphadora bahkan tahu harganya murah―tetapi begitu menyentuh hati sang wanita.

"Mungkin terdengar lancang, tetapi aku ingin memanggilmu dengan nama itu," ucap Remus pelan sambil mengalihkan pandang. Malu rupanya. "Aku tahu kau membenci namamu, tetapi aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama keluarga lagi setelah kita menikah, bukan?"

Lagi, pipi Nymphadora memerah.

"Itu pun... kalau kau menerima lamaranku."

"T-tentu!" Nymphadora menganggukkan kepala. Warna merah jambu pada rambutnya berubah menjadi semakin terang. "Aku bersedia!"

Dan pada detik itu, Remus telah menemukan kebahagiaannya yang sejati.

.

.

.

FIN

Haiii~ Rey di sini dengan fanfik HP yang lain~ xD

Bikin fanfik ini samhaw perjuangan setengah mati yang akhirnya terbayar setelah empat hari :") kebetulan lagi cinta banget sama dua orang ini―setelah bahas Ted, gantian dong bahas orang tuanya. Hehehe. Perjuanganku rasanya terbayar sudah dengan selesainya kisah ini xD semoga nggak over OOC uhuuu Q_Q

Ditunggu komentarnya~ :dance:
{crosspost dari AO3 dan FFn tanggal 11 Desember 2016}

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Lonceng
Fandom: Omen (c) Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Erika Guruh, Pak Rufus

Lonceng sekolah udah berdentang untuk yang ketiga kalinya.

Sementara aku masih terjebak di dalam si Butut II--mobilku yang berharga, pemberian pacarku si Ojek tukang pasang muka masam--yang mendadak ngadat di depan gerbang parkiran. Sial! Mana si Rufus udah nangkring di meja piket dengan wajah mesem-mesem begitu segala! Berani taruhan, guru kribo itu pasti udah menyiapkan tugas untuk kukerjakan di ruang detensi nanti.

"Kamp*et!" seruku emosi sambil keluar dari dalam si Butut II lalu membanting pintunya. Nggak lupa kukunci dong, begini-begini aku masih takut Butut II kecurian (walau aku sangsi ada pencuri yang bakal tergiur dengan mobil butut begini, sih. Bukan berarti aku bilang mobilku jelek beneran ya, sebenernya kondisi Butut II ini masih cukup oke, kok).

"Errrika! Kamu terlambat lagi!"

Cih, sial. Tahu begini aku lewat jalur belakang saja. Asal tahu saja, jalur belakang--yakni melalui pohon di belakang kamar mandi cewek--adalah jalurku untuk keluar-masuk sekolah secara ilegal. Jalan legal sih, jelas melalui gerbang depan, 'kan?

"Pak! Bapak kan, bisa liat itu mobil saya mendadak mogok di depan sekolah! Makanya ini saya tinggalin juga!"

"Ah, alasan saja kamu! Ayo ikut ke ruang detensi, sekarang!"

Sialan. Kalau saja hari ini bukan si Rufus yang bertugas membunyikan lonceng--jelas aku hapal dong, jadwal piket membunyikan loncengnya para guru--udah pasti aku bakalan selamat dari malapetaka.

Dasar Rufus.

Jangan ditiru ya, sikap si Erika :') /YHA

Next prompt: halaman (bukan buku)

Tangan Bionik Untukmu
yup, kuusahakan XD udah lama sih gak collab bareng dia, soalnya emang pada dasarnya dia nggak gila nulis kayak aku XD
wkwk antara event-nya gede, yang ngadainnya bejibun duit, atau event yang diikutin banyak banget sampai duitnya numpuk XD
aah, aku jadi malu /// makasih Phia~~ hehehe X'D

re-use ide fanfic lama
Well, menurutku etis-etis ajasih kalo mau remake ceritamu yang lama XD cuma, yah, paling sertakan keterangan kalau cerita itu remake supaya orang gak salah paham, tapi toh karena itu karanganmu juga, kurasa itu bukan masalah besar bagi siapapun XD

Untuk AO3, bener kata Phia dan Khi di atas, memang harus lihat-lihat dulu kita copas dimana. Kalau di HTML, otomatis yang cuma tulisannya aja yang bakal tampil karena HTML kan khusus pakai tag-tag kayak di Infantrum begini (meski lebih ribet). Jadi kalau di AO3, klik dulu mode "Rich Text", terus pastikan dulu di atas kolom copas kata-katanya ada menu format selayaknya word; bold, italic, underline, dsb.

Semangat menulis! XD

Genre fanfic Langganan ..
Khi-Khi Kiara
1 Jan 2017, 04:01 PM
Genre favorit ya...

Saya hmm... Psychological atau Supernatural paling utama. Ide-ide yang mengulik isi pikiran/mental seseorang atau dunia gaib itu selalu seru diikutin hoho~ :pout:
Terus kalo yang lebih umum, Family drama, friendship/hurt-comfort atau romance juga oke... Oh, Angst juga favorit bgt. karena emang dasarnya saya berjiwa maso, demennya yg ngenes2 , selain itu genre angst juga bisa nyambung ke dua genre di atas... :p

Kadang juga demen nulis yg mencakup semua genre tadi /maruk
Saya malah gak bisa loh, bikin genre Supernatural XD dari dulu mau coba, tapi perasaan gagal mulu. Gak ada feels nya gitu di saya. Apa mungkin karena saya terlalu lurus untuk bikin cerita ala-ala horor? /GAK

So far, yang paling saya seneng kalo bikin cerita itu yaa Romance xD tapi kalo bikin drabble, atau ficlet bentuk puisi, saya lebih seneng Angst XD asyik gitu rasanya, pendek-pendek tapi bikin mewek. /HEH

Drabble Berantai
Prompt: gema
Character(s): Reva dan Minerva

"HALO!!!"

Halo... halo... halo....

Sang peneriak mengerutkan kening. "Itu tadi ... gema?"

"Gema adalah pemantulan bunyi yang diterima oleh pendengar beberapa saat setelah bunyi langsung. Tempat-tempat umum terjadinya gema adalah dasar sumur, ruangan kosong, gua, atau semacamnya," ucap seorang gadis pirang dengan lancar tanpa jeda sedikit pun kecuali pada tanda titik. Gadis ini memang memiliki daya ingat fotografis yang jarang dimiliki orang-orang itu, sehingga tidak sulit membaginya untuk menghapalkan buku teks dalam satu kali baca.

"Lalu bedanya dengan gaung, apa?" tanya gadis lain berambut hitam--yang tadi berteriak--sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Gaung juga kan, pemantulan bunyi."

"Gema itu terjadinya sesudah bunyi, kalau gaung itu sebelum," jawab sang gadis pirang. "Itu sebabnya yang namanya gaung biasanya tidak akan terdengar satu kalimat penuh. Saat kau berkata 'Reva', yang akan terdengar hanya 'Va'. Berbeda dengan gema yang akan memantulkan secara utuh kata-katamu."

Sang gadis bersurai hitam yang diketahui bernama Reva itu membulatkan mulutnya, menunjukkan bahwa ia paham maksud sang lawan bicara. "Jadi, Minerva, kalau aku sekarang berteriak ... HALO!!!"

Halo... halo... halo....

Minerva mengangguk singkat. "Itu gema."

next prompt: pita

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Pilar
Fandom: Harry Potter (c) JK Rowling
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Ginevra 'Ginny' Weasley

Hari ini adalah hari pertama Ginny mengitari Hogwarts.

Dia sudah tahu tentang sekolah ini lama sekali, sejak ia bisa mengutarakan isi otaknya dengan lancar dan menyimak obrolan kakak-kakaknya dengan baik, Ginny sudah tahu tentang sekolah ajaib ini. Dia bahkan tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi salah satu muridnya. Gadis ini bahkan menyusun daftar pencapaian yang akan ia raih saat ia bersekolah nanti. Dimulai dari mendapat nilai minimal A untuk semua mata pelajaran yang ia ambil, sampai menjadi salah satu pemain Quidditch Gryffindor.

Dan mimpi-mimpi itu akan mengalami proses pencapaiannya mulai hari ini.

Gadis itu melangkah pelan menyusuri selasar beralaskan batuan yang sudah disusun sambil melihat ke kanan dan kiri. Pilar-pilar yang ia lewati ini memang menakjubkan, kelihatan kokoh, kuat, dan tidak sanggup dihancurkan. Ginny mendecak kagum, tampilannya memang persis seperti apa yang ada di buku.

Saking fokusnya memerhatikan pilar tersebut, tiba-tiba saja Ginny sudah menabrak sesuatu--atau seseorang--sehingga ia terjatuh dengan posisi tidak mengenakkan. Untung saja roknya tidak tersingkap.

"Maafkan aku, apa kau tidak apa-apa?"

Ginny mengerjap dan melihat seorang gadis berambut pirang--entah si penabrak yang ia tabrak--mengulurkan tangan kepadanya. Ginny menyambut tangan itu sambil berkata, "Tidak apa-apa."

Gadis pirang tadi tersenyum, lalu segera meninggalkan Ginny sambil membaca majalah bersampul anehnya.

Dahi Ginny mengernyit. Ravenclaw?

next prompt: pipa

Tangan Bionik Untukmu
Ahaha, doakan aja ya, Phia-san XD sebenernya gara-gara baca cerita ini, aku jadi pingin collab sama Roy lagi (...) /JANGANBAPER
Yap, mahal. Jadi pas aku udah buat cerita ini, aku mikir seberapa banyak lomba yang dimenangin Rika sampai hadiahnya bejibun gitu XDD
Phia-san jugaa, ditunggu yaa cerita-ceritanya XD

PS.
Kalo emang mau baca cerita Rey, mampir aja ke FFn atau AO3-nya Rey xD /MALAHPROMOSI/

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: daun
Fandom: Barbie Thumbelina © Rainmaker Studio
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s):Thumbelina

Hari ini, Thumbelina memeriksa kembali pepohonan di luar tempat tinggal peri. Niatnya ingin pergi bersama kedua temannya, tetapi berhubung kedua makhluk kecil itu belum keluar dari dunia mimpi, Thumbelina memutuskan untuk pergi sendiri.

Diperiksanya satu demi satu pohon yang ada, mulai dari pohon yang kecil hingga yang besar. Tumbuhan-tumbuhan kecil pun tidak luput dari pengawasan peri yang hanya seukuran ibu jari orang dewasa.

"Pohon ini oke, yang ini juga, yang ini ... oh, bagus sekali!" Thumbelina terbang menuju tumbuhan berikutnya. "Oh? Kenapa daun ini bolong?"

Wajahnya mengernyit ketika melihat seekor ulat tengah makan daun dengan nikmatnya di cabang yang lain.

"Ah...." Thumbelina tersenyum. Disihirnya daun yang bolong itu, membuatnya tampak kembali seperti semula.

"Semoga ulat itu bisa menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik dengan memakan dedaunan itu," gumamnya sambil terbang kembali ke rumah.

Next prompt: bocah petualang


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone