Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
menurut kamu...
Fanfiksi dijual sebagai novel?! Rey bakal sakit hati banget kalo gitu... gak tau apa perjuangan Rey bikin novel itu gak cuma sekali ketik langsung jadi? :touched: /kemudian mojok/

Rey setuju sama Rin-tan. Menjual fanfiksi itu melanggar hak cipta si pengarang aslinya--emangnya si penulis fanfiksi dan penerbit itu sanggup bayar hak cipta ke pengarang aslinya? Kalo nggak, itu kan, bisa disebut sebagai pembajakan. Okelah, masih mending kalo fanfiksinya dari anime/manga, novel, atau karya fiksi sejenis. Lah, kalo dari RPF? Gimana coba bayar hak ciptanya, masa iya bayar hak cipta ke Tuhan -___-

Intinya, fanfiksi dinovelkan is a big no o/

Review atau Favorite?
Rey izin menjawab, yaa XD

Rey pribadi gak tau lebih suka yang mana orz kayaknya Rey suka dua-duanya, deh XD dua-duanya punya bagian menyenangkan, tapi ada bagian menyedihkan juga (?) Bagian menyenangkan dari favo adalah kita jadi tau kalo orang suka sama karya kita XD cuma bagian menyedihkan(?)nya adalah kita gak bisa menilai kekurangan fanfik kita--apalagi kalo dia cuma favo, gak review. Beda ceritanya sama review, yang pasti bagian menyenangkannya adalah mendapat kritik agar karya kita jadi lebih baik juga mengetahui kekuatan kita mengenai sebuah tulisan itu dimana XD tapi... yah, bagian menyedihkannya juga semua pasti pernah merasakan; review negatif--lebih parah lagi, flame. Alhamdulillah-nya, Rey mah, belum pernah dapet flame :') *jangan sampe*

Semi-Canon dan Fanon
@ShiueFha-chan
Ooh, jadi Fanon itu Fan-Canon, ya :') Rey malah baru tau.. jadi maksudnya itu canon gimana fans? (?)

[saran] Tema Baru
@Sanich
Udah min~ kadang sehari bisa ganti berkali-kali (?)

Fanfic buatan anda yang jadi fave :D
Rey bikin fanfiksi itu buanyak, cuma yang jadi favorit Rey dari jaman dibuat sampai sekarang cuma ini:

Kokologi
Vocaloid, Len/Rin
Yang jelas, karena cerita ini simpel terus humornya ngena, jadi Rey suka XD

Author
Rey juga sama, ngikutin apa yang orang-orang bilang aja. Lagian emang bahasanya di FFn itu author bukan? Jadi Rey kira ya memang begitu adanya '-')/

Tapi Rey pribadi mau apapun definisinya dan apapun orang menyebutnya, sejujurnya Rey gak begitu peduli, sih... intinya buat Rey, simpelnya, author itu penulis

[C&C] Drabble Berantai Keroyokan
Rey komentar yang terakhir sebelum Rey aja, yaa~

pindanglicious
prompt: peta/map
fandom: dora the explorer
chara(s): dora m & map(peta)


Entah kenapa Rey menangkap romansa antara Dora dan Peta (?) /gakgitu/ tapi serius, drabble Rin enak dibaca banget banget banget. Bukan romansa, tapi kerasa kayak romansa /heh. Jujur aja, Rey malah gak kebayang Dora kalo baca prompt-nya. Sasuga Rin XD

Hurt/Comfort-nya ngena, kok~ :love:

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: rumah panggung
Fandom: let go (c) windhy puspitadewi
Chara(s): Caraka dan Nadia


"Kamu bilang mau buat film tentang apa?" tanya Nadia sambil menghentikan aktivitas tulis-menulisnya lalu menatap cowok yang masih berstatus sebagai pacarnya itu heran. "Suku Toraja?"

Caraka--Raka--mengangguk mantap. "Kamu sendiri pasti tau betapa uniknya suku mereka."

Mau tidak mau, Nadia memang harus setuju dengan kalimat Raka. Suku yang satu itu selalu mengundang rasa penasaran khalayak. Selama ini memang belum pernah ada yang membuat film mengenai suku satu itu. Nadia sendiri tidak begitu paham, tetapi orang-orang memang lebih suka mendokumentasikan kehidupan mereka yang tinggal di pulau paling timur Indonesia.

"Kalo gitu, sekarang jelaskan kenapa kamu pilih Toraja." Nadia menutup buku tulis raksasanya lalu memfokuskan hati dan pikiran untuk menyimak penjelasan Raka.

"Karena bikin dokumenter yang berfokus pada rumah panggung itu sekarang jadi favoritku!" sahut Raka antusias. "Kamu masih ingat Sarah, kan? Aku udah diskusi sedikit sama dia, dan dia setuju bikin naskahnya."

Nadia mengangguk. "Lalu, kamu minta bantuanku untuk apa?"

"Temenin aku."

"Ke mana?"

"Liat-liat rumah panggung mereka."

"... apa?"

"Nad, temenin aku ke Tana Toraja."


Next prompt: kebun teh

Index Forum Fanfiction...?
Lapor~~
Laporan
 

Laporan (2)
 

Semoga berkenan! :love:

Vignette dan Drabble
Haloo, Rey hadir kembali untuk bertanya (/.\)

Judul topik telah menjelaskan segalanya, kan~ jadi, Rey bener-bener masih bingung dengan makna dari vignette itu sendiri. Rey dikasitau kalo vignette itu berhubungan dengan perasaan mendalam, tapi mendalam yang gimana? Rey masih gak ngerti. Terus waktu baca contoh vignette di sebuah situs, Rey malah tambah gak ngerti apa hubungannya vignette dia dengan perasaan mendalam. Tambahan lagi, di Kamus Index FF di sini katanya vignette itu berarti FF yang gak lebih dari 3000 kata. Terus, bedanya sama drabble apa? Kan, Rey tambah bingung :hurry:

Tolong jawabannya, ya~ hehe

Arigatou! >_<

Penangkal hujan
Setuju dengan pendapat Little Hyuu-su, kenapa penomoran tanggalnya beda-beda? Tapi gak begitu mengganggu juga, sih~ kebiasaan jelek Rey adalah gak baca tanggal dan pada akhirnya suka nyesel sendiri

Diksinya sederhana, tapi enak dibaca dan bikin gak bosan bacanya.. atuh, Rey merasa sedih dengan nasib bunga dan anak itu, Aster(s) kasian, ya :touched:

Ini pertama kalinya Rey baca vignette, tapi Rey masih gak ngerti bedanya vignette sama drabble apa... Rey mengambil kesimpulan dari sini kalo vignette itu kayak tempat curhat, cuma pendek. Apakah betul?

Mungkin begitu aja. Semangat menulis terus! :love:

Drabble Berantai
Prompt: Comedian/Pelawak
Character(s): Reva dan Dilan

Reva mengetukkan pulpennya di atas kertas yang sejak tadi hanya putih, tidak terisi sama sekali. Otaknya buntu, buntu berlebihan sampai-sampai menuliskan "aku" saja Reva merasa ragu. Sepertinya, masalah Reva kali ini adalah writer's block.

"Rev," panggil Dilan yang sejak tadi hanya 'mejeng di depan pintu ruang kerja Reva sambil memerhatikan kegalauan gadis itu. "Buntu lagi?"

Reva menghembuskan napas panjang tanda putus asa. "Untuk yang kesekian kalinya, gak tau karena apa."

"Mau jalan?"

Kepala Reva spontan menggeleng. "Kayaknya aku gak butuh itu."

"Hmm..." Dilan membalikkan badannya, menghadap ke luar ruang kerja. "Kamu tunggu di sini, sebentar."

Reva mengerjapkan mata saat Dilan tiba-tiba pergi begitu saja dan kembali membawa sebuah bola merah dan tiga bola biru. "Buat apa?" tanya gadis itu saat Dilan mulai 'beraksi' dengan bola merahnya.

"Nih." Dilan meletakkan bola merah itu di hidungnya dan mulai melempar-lemparkan bola biru lainnya ala badut. "Jadi badut ganteng."

Reva mengerjapkan mata. "Apa? Coba ulang?"

"Badut ganteng."

Reva tergelak puas--terlalu puas sampai tubuhnya nyaris terjengkang dari kursi. "Kamu bahkan gak ada mirip-miripnya sama badut!" ejek gadis dengan rambut hitam terurai itu masih sambil tertawa.

"Oke, berarti aku pelawak ganteng karena sukses bikin kamu ketawa."



Maafkan ke'gakjelas'an drabble ini... ;w;

Next Prompt: Televisi

Tangan Bionik Untukmu
Haii :happywaves:

Di sini, Rey mau membagikan cerita karangan Rey dan teman Rey (nama penanya Roy wkwkwk) yang udah membuluk(?) di laptop selama kurang lebih satu setengah tahun :touched: awalnya cerpen ini diikutsertakan buat lomba cerpen duet cewek-cowok, tapi kami gak menang huhuhu(?) Jadi Rey post di sini, deh! XD

Oya, supaya kalian gak bingung, sudut pandang cewek ditulis oleh Rey dan sudut pandang cowok ditulis oleh Roy ^^

Oke, selamat menikmati :excited:




Tangan Bionik Untukmu
oleh Rey dan Roy

Hai, namaku Rika, singkatan dari Candrika Nadja. Aku terlahir tanpa kedua tanganku. Ibuku meninggal saat melahirkanku sedangkan Ayah meninggal karena kecelakaan delapan tahun lalu. Entah kecelakaan apa, aku juga tidak tahu. Jadi kini, aku tinggal bersama Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Ibu dan Ayah adalah anak tunggal sehingga aku tidak punya Paman ataupun Bibi. Alhasil, aku tidak punya sepupu walau hanya satu.

Aku ini seorang pengkhayal andal. Menurut Nenek, khayalan-khayalanku bias saja jadi best seller jika dibukukan. Aku tersenyum kecil ketika mendengarnya. Bisa menulis adalah impian terbesarku. Aku menyukai kegiatan sehari-hariku dan berharap dapat menuliskannya di atas lembaran-lembaran kertas. Aku selalu berharap aku punya jurnal hidup.

Mungkin kalian berpikir aku dapat meminta Kakek atau Nenek menuliskannya. Sayangnya, pendengaran Nenek sudah tidak berfungsi begitu baik sedangkan tangan Kakek selalu bergetar tiap kali digerakkan. Kan, tidak mungkin aku bercerita pada Kakek lalu meminta Nenek menulisnya. Akhirnya, aku hanya bisa berbagi cerita dengan Kakek atau sesekali dengan Nenek.

Kini, aku bersekolah di sebuah SMA swasta. SMA Sriwijaya namanya. Aku ditempatkan di kelas XI Bahasa. Aku ini pintar berbicara, pintar berdebat, juga pintar berpendapat. Satu hal, aku tidak bisa menulis. Jadi, sekolah menyediakan seorang guru pembimbing untuk menuliskan apa yang kuinginkan.

Hari ini, kelasku kedatangan murid baru. Seorang laki-laki dari Jakarta, katanya. Namanya Andri. Nama lengkapnya, Candrika Kahfi. Lucu sekali.

Dia punya nama depan yang sama denganku.

*

Namaku Candrika Kahfi, kalian bisa memanggilku Andri. Aku lahir dan tinggal di Jakarta, namun karena ada suatu hal akhirnya aku harus pindah ke Bandung. Ibuku menempatkanku di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal. Memang berat rasanya untuk meninggalkan kota kelahiranku. Selain karena teman, aku harus menyesuaikan diri lagi. Yaah… namanya juga hidup. The show must go on.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah baruku. Pagi ini, aku diantar oleh orang tuaku. Dari dulu, aku sudah terbiasa datang pagi. Aku harus menyesuaikan diri dengan sekolahku yang baru ini; benar-benar dingin namun menyegarkan. Ternyata belum ada yang datang, entah aku memang terlalu pagi atau bagaimana, aku juga tidak mengerti. Aku memilih duduk di bangku paling depan. Sambil menunggu, kuambil laptop yang kusimpan di tas.

Tak lama, datanglah seorang perempuan yang tidak memiliki kedua tangannya. Dia berkeliling di dalam kelas untuk mencari tempat duduk yang kosong. Aneh, padahal saat ini hanya ada aku dan dia. Kemudian, dia berhenti dan duduk di sampingku.

Aneh… pikirku. Apa yang dilakukannya barusan? Aku diam saja, sama halnya dengan dia yang tidak kunjung bicara. Selama lima menit, tak ada percakapan antara kami sama sekali. Akhirnya, kuputuskan untuk memulai pembicaraan.

"Hai… siapa namamu?" tanyaku.

*

"Namaku?" tanyaku heran. "Kau ingin tahu namaku?"

Dia mengangguk dengan wajah polos. Sama sekali tak ada keinginan tersembunyi yang aneh-aneh di matanya. Aku menghela napas lalu memutuskan untuk mengakhiri perasaan bertanya-tanyanya.

"Aku Rika," jawabku pelan. "Candrika Nadja."

"Candrika?" Dia mengerutkan dahinya yang lebar. "Yakin?"

Aku tertawa kecil. "Emang apa yang salah kalau nama kita sama?"

Matanya yang sebulat bakso melebar. "Kamu tau namaku?"

Aku mengangguk tanpa menatapnya. "Candrika Kahfi atau Andri, dari Jakarta, kan?"

"Kayaknya info tentang aku udah tersebar sebelum aku masuk, ya?"

"Mungkin?"

Dia hanya tertawa kecil. Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara kami. Aku sibuk berkhayal seperti biasa, sedangkan Andri… entah apa yang dia lakukan.

"Kamu punya cerita?"

Aku menatapnya heran. Dia baru mengenalku, dia belum tahu banyak tentangku, dan bukannya bertanya mengenai latar belakangku atau semacamnya, dia justru meminta cerita!

Ya ampun, apa orang ini baik-baik saja?

"Rika?" panggilnya. "Kamu punya cerita?"

Aku menghela napas lalu memutuskan untuk meladeni orang ini. "Punya."

"Cerita, dong," pintanya. "Tentang apapun."

Aku berpikir sejenak. "Aku punya cerita tentang gadis kecil penjual benang."

"Buatanmu?"

Aku mengangguk.

"Wah! Cerita, Rik!" serunya antusias sambil mengeluarkan ponsel.

Aku mengangguk lagi lalu mulai bercerita. Aku bercerita, bercerita, dan bercerita tanpa menyadari bahwa aku sudah bercerita selama sepuluh menit. Begitu aku selesai, Andri bertepuk tangan keras sekali. Untungnya, pagi ini di kelas hanya ada kami berdua.

"Itu buatanmu sendiri, kan?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Wah! Kamu keren banget, Rik! Kalo gitu, aku mau cerita buatanmu tiap pagi!"

Aku tertawa kecil. "Ceritaku tiap pagi?"

Andri mengangguk. "Cerita apa aja, Rik. Pokoknya buatanmu."

"Kenapa?"

"Aku suka banget cara kamu nyampein ceritamu dan idemu," jelasnya. "Kamu punya bakat, Rik. Kenapa gak kamu salurkan aja?"

"Dengan tangan seperti ini?"

"Eh… maaf, aku gak bermaksud—"

"Gak apa-apa," potongku. "Oke, aku bakal cerita tiap pagi buatmu."

Dan tiba-tiba kusadari tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihatnya bahagia.

*

Akhirnya, aku dapat berkenalan dengannya. Lucunya, namaku sama dengannya. Entah apa yang mendorongku untuk bertanya apakah dia punya cerita atau tidak. Begitu dia menjawab "iya", aku merasa senang. Langsung saja kuambil ponselku yang terletak di dalam saku celanaku.

Aku berusaha mengetik setiap kata yang ia ucapkan padaku dalam ceritanya. Sepuluh menit berlalu dan ia baru berhenti bercerita. Ketika aku tiba di rumah setelah melalui hari pertama di sekolah baru, kubuka kembali cerita yang tadi kuketik di ponsel. Kubaca kembali cerita itu.

Selesai membacanya, aku menyadari bahwa dia memiliki bakat yang luar biasa dalam membuat cerita. Sebenarnya sih, ini hanya firasatku. Sayangnya, dia tidak bisa menulis karena tidak memiliki tangan. Aku merasa sangat kasihan padanya. Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengannya di kelas. Aku kembali memintanya untuk bercerita sementara aku menyimpan setiap cerita yang dia sampaikan padaku.

Hari demi hari, cerita demi cerita pun kian terkumpul. Sebenarnya, aku tidak selalu meminta. Terkadang, dia berinisiatif untuk menceritakan ceritanya padaku. Tentu saja itu membuatku sangat senang. Dia terus berbagi cerita sampai libur semester tiba.

Pagi itu, suasana di sekitar rumahku terasa sangat menyejukkan. Di saat-saat seperti itu, aku luangkan waktu untuk berolahraga. Selesai berolahraga, aku istirahat sejenak sambil membuka laptop yang kuletakkan di teras rumahku. Ketika sedang ber-internet ria, aku menemukan informasi lomba membuat cerpen. Tiba-tiba ide itu muncul.

Aku berniat mengikuti lomba tersebut.

Aku memilih satu cerita dari sekian banyaknya cerita yang Rika kisahkah padaku. Cerita itu kuketik, lalu kusimpan dalam bentuk Microsoft Word. Selesai mengetik dan menyelesaikan segala macam hal lainnya, karya itu segera kukirim ke alamat email yang tertera pada informasi lomba tersebut.

Muncul pemberitahuan bahwa cerita yang kukirim itu sudah terkirim. Kini, aku berharap agar bisa memenangkan lomba tersebut. Jika aku memang, uangnya akan sangat bermanfaat.

*

Libur semester telah usai. Seperti biasa, aku datang terlalu pagi ke sekolah. Setelah berhasil memisahkan tas dari tubuhku, aku duduk santai di kursi sambil menunggu kedatangan Andri. Aku punya cerita baru hari ini dan ingin kubagi dengannya. Eh, sebenarnya kebiasaan berbagi cerita ini sudah dimulai sejak pertama kali dia memintanya. Sejak saat itu, rasanya aneh kalau tidak bercerita padanya. Tampaknya, kegiatan yang satu itu sudah menjadi rutinitasku.

Benar saja. Lima menit kemudian, Andri muncul dengan wajah berseri-seri. Dia duduk di sampingku lalu menyapaku, "Hai, Rik."

Aku tersenyum. "Hai, Dri."

"Ada cerita baru?"

Aku mengangguk semangat. "Aku baru mau cerita soal Nenek."

"Nenekmu?" tanyanya dan aku mengangguk. "Cerita apa?"

"Peristiwa dapur."

Maka akupun mulai bercerita. Seperti biasa, Andri selalu sibuk mengetik di ponselnya. Aku tidak tahu apa yang dia ketik dan apa maknanya, yang jelas, dia selalu melakukannya sambil menyimak dengan setia. Kenapa aku tahu? Karena setiap aku bertanya ceritaku sebelumnya, dia selalu menjawab dengan tepat.

"Kamu ngetik apa, sih?" tanyaku penasaran setelah lima menit bercerita.

"Mm? Gak penting," jawabnya santai. Dia menaruh ponselnya di saku. "Makasih ya, buat ceritanya pagi ini."

"Sama-sama," jawabku sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong, ceritaku biasanya kamu apain?"

Dia menatapku heran. "Maksudnya?"

"Yah, apa ceritaku cuma kamu dengar atau kamu pakai untuk sesuatu?"

Dia diam tidak menjawab. Wajahnya mendadak berubah, dari senang jadi agak panik. Kenapa, ya? Memangnya pertanyaanku segitu menakutkannya?

"Andri?"

"Ah, yah, selama ini cuma kudenger aja."

Aku manggut-manggut. Entah kecewa, entah senang.

*

Siang sepulang sekolah, aku menemukan seseorang bermotor di depan rumahku. Aku menghampiri orang itu lalu bertanya, "Mas, cari siapa, ya?"

"Saya cari Candrika, Dik," jawabnya. "Ada kiriman paket."

"Saya Candrika," ujarku. "Paket apa?"

"Gak tau, Dik. Saya cuma kurir," jawab orang tadi. "Ini barangnya."

"Makasih, Pak."

"Sama-sama."

Masih sambil membawa paket tadi, aku memasuki rumah dan buru-buru mengunci diri di kamar. Aku membuka paket itu dan menemukan dua buah buku, selembar sertifikat, dan amplop kecil. Aku membuka amplop tersebut dan mendapati uang sejumlah lima juta rupiah. Aku mengambil sertifikat yang juga ada di dalam paket tersebut. Tulisan yang tertera di atasnya adalah "Candrika Nadja, Peserta Terpilih Lomba Cerpen 2013".

Aku mengambil salah satu buku yang ada dalam paket itu. Aku meneliti sampulnya; seorang gadis kecil dengan tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Mulutnya tersenyum sedih. Di bagian atas sampul tersebut ada tulisan "Gadis Kecil Penjual Benang". Di bawahnya, tertera nama pengarang, yakni "Candrika Nadja dkk".

Ini berarti satu.

Cerpen Rika menang lomba.

Dia benar-benar menang!

Aku menyimpan uang lima juta rupiah itu dengan hati-hati di dalam brankasku. Uang ini akan kusimpan dulu. Aku tahu ini uang Rika, aku tahu. Hanya saja, ini belum saatnya memberikan uang ini padanya. Aku tidak akan menggunakannya, tentu saja. Uang ini sepenuhnya hak Rika. Dia yang mengarang cerita itu.

Aku berniat memberi tahu Rika, tapi...

Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

*

Akhir-akhir ini, Andri kelihatannya aneh. Dia kelihatan sibuk sekali. Dia selalu pulang sekolah buru-buru dan tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Di kelas, dia sering mengutak-atik ponselnya. Tapi, dia tetap memintaku bercerita pada jam istirahat. Kegiatan satu itu tetap saja kami lakukan.

Tak terasa sudah satu tahun kami bersama. Tak terasa pula sudah satu tahun aku berbagi cerita-ceritaku dengannya. Tak terasa pula, ceritaku sudah habis. Sekarang, di kelas dua belas ini, aku nyaris tidak punya cerita untuk dibagi. Rasanya, otakku sudah tidak bisa berkhayal. Kini, otakku sesak dengan aturan-aturan struktur kalimat, majas, tanda baca, huruf kapital, paragraf, karangan, dan lain-lain. Rasanya, otakku berhenti memikirkan hal yang tidak realistis.

"Kok, kamu udah lama gak ngedongeng, Rik?" tanya Andri heran.

Ya, memang sudah lama aku tidak menghasilkan pemikiran kreatif dari otak yang sudah diracuni aturan berbahasa yang baik dan benar. Jujur, kadang aku benci ini.

Aku menghela napas. "Aku udah lama gak berpikir."

"Tapi nilai-nilaimu masih bagus."

"Itu beda soal..."

"Jadi?"

Aku menatapnya bingung. "Aku gak dapet ide lagi... aku buntu..."

Andri diam tidak menanggapiku. "Rik, siang ini ke rumahku, ya?"

"Buat apa?" tanyaku heran.

"Ada yang mau kutunjukkin," jawab Andri dengan wajah serius. "Dan ini penting, Rik."

Aku terdiam sejenak. "Gimana aku bisa ke sana?"

"Aku bawa mobil," jawabnya lagi. "Aku udah punya SIM, kok."

Aku tersenyum. Andri tahu aku paling tidak suka melanggar aturan, mengingkari janji, dan terlambat menghadiri sesuatu. Syukurlah dia bisa mengerti.

"Oke."

*

Kami tiba di rumahku yang halamannya dipenuhi mawar. Ibuku memang cinta bunga yang satu itu. Aku tak pernah tahu kalau Rika juga menyukainya.

"Mawarnya banyak, ya," komentarnya pelan. "Cantik."

Aku tersenyum, memetik satu tangkai mawar putih, lalu memberikan mawar itu padanya. "Buatmu. Disimpan, ya."

Dia menatapku heran. "Suatu hari akan layu, Dri."

Aku mengangguk. "Kayak kamu yang mendadak buntu ide," ucapku. "Bunga itu memang gak akan mekar lagi, tapi kamu bisa menanam yang baru dan membuatnya mekar lebih indah, kan?"

Dia tersenyum. "Jadi ini yang mau kamu kasih lihat?"

Aku menggeleng. "Ini di luar skenario."

Dia tertawa kecil. "Jadi, apa yang mau kamu kasih lihat?"

"Ada di dalam," jawabku. "Ayo, masuk. Tenang, di rumah cuma ada Bunda."

Dia mengangguk.

Di dalam, aku membawanya ke ruangan khusus tempatku menyimpan semua sertifikat dan hasil karyanya. Aku mengeluarkan uang dari brankasku dan memperlihatkan itu padanya. "Ini uangmu."

"Uangku?"

"Dan semua ini penghargaan buatmu."

"Buatku?"

"Ya, semua punyamu."

"Gi-gimana bisa?"

"Ini semua ceritamu, aku kirim ke lomba-lomba," jelasku. "Semua menang. Ini hadiahnya, buatmu, kecuali uangnya."

"Kenapa?"

"Aku udah pakai uangnya untuk beli tangan bionik."

"Ta-tangan bionik?"

"Buatmu."

Dia menangis. "Makasih, Dri... aku gak tau harus bilang apa lagi..."

Aku tersenyum. "Aku ikhlas."

"Makasih... makasih..."

Aku terdiam sejenak. "Rika, aku sayang kamu," ujarku. "Kamu mau jadi pacarku?"

FIN




Silakan jawabannya kalian bayangkan sendiri XD

Semoga cerita ini cukup untuk menghibur hari kalian XD selamat bermalam Minggu~ :love:

Albus Potter and The Misunderstanding Sorting Hat
Ih, lucuuuu XD

Bukan ceritanya yang lucu ya, maksud Rey idenya~ Albus kan, turunan Potter dan Weasley, sebenernya gak apa-apa dia masuk Slytherin secara Potter, tapi Weasley? XD

Mungkin Arthur dan Molly harus berbahagia karena cucunya berhasil mendobrak tradisi udah berasa Sirius tapi kebalik.

Rey suka nextgen XD walau gak rajin buka HarPot, tapi Rey tetep suka bacanya XD

Semangat menulis selalu!~

[saran] Tema Baru
Halooo :happywaves:

Maaf kalo terkesan sok atau gimana... cuma Rey mulai bosan dengan tema yang ada di Infantrum :touched: saran, tambahin tema lain supaya orang-orang bisa memilih sesuai selera yang benar-benar selera XD

Mimin-mimin tersayang gak harus bikin, kok~ Rey pernah nemu zetaboards yang isinya CSS dan Layout tema (dan bagus-bagus, Rey pake ini buat forum Rey). Tinggal kopas dan taraaa~ jadi, deh XD

Makasih, Min! ^_^

Request Password Forbidden Land
Rey kepo aja sebenernya ._. Rey udah mau 19 kok, boleh request password?

mod: pasword sent

Montase
... Rey salut, kamu niat banget bikinnya sampai begini panjang :')

Rey gak tau fandom-nya, jadi Rey akan bahas penulisannya~ dan berhubung Rey baca sekilas, jadi Rey gak akan bahas detail, paling secara umum aja.

Penulisan kamu rapi, serius. Setiap tahun kamu bold (dan kita tahu lah ya, di Infantrum nge-bold itu bukan pake Ctrl+B), terus dengan tema Tea Garden yang notabene font-nya mini begini tulisan kamu bisa mencapat tiga-empat baris X'D Rey salut banget sama betapa niatnya kamu bikin fanfiksi ini. Dan kerennya lagi, fanfiksi adalah post pertama kamu :')

Lagi-lagi tema ruang angkasa. Sci-Fi memang enak dikaitkan sama ruang angkasa, ya? Setuju, sih XD kalau otak Rey lagi lancar, kayaknya Rey juga akan buat tema ruang angkasa XD /cukup tentang diri sendiri/

Rey suka dialog terakhir; tentang perang, tentang manusia yang merindukan kebahagiaan, tentang 'pergi'. Bacanya... sedikit nyesek (?)

Overall, ini keren. :)

Ephemera
Berhubung Rey nggak tau fandom-nya (tapi Rey pingin baca :(), jadi Rey akan komentari penulisannya~

Banyak dialog XD tapi Rey gak keberatan kok, soalnya Rey emang suka pusing kalo baca tumpukan(?) deskripsi yang bikin pusing. Rey ini agak payah dalam visualisasi suatu hal jadi lebih baik kasih jutaan dialog daripada ratusan deskripsi. Serius.

Ceritanya... bisa dibilang simpel sih, gak tau kenapa Rey mikir gitu. Dan Rey seneng tema yang diungkitnya luar angkasa XD Rey suka sci-fi berlatar luar angkasa. Terkesan keren (?)

Oke, mungkin itu aja XD

Kenapa kamu terjun ke dunia FF?
Pada dasarnya, Rey cuma penikmat anime/manga walau memang suka nulis. Cuma.. Rey gak pernah berniat bikin cerita berdasarkan tokoh yang pernah Rey tonton atau baca, gitu. Yah, itu mah, imajinasi penulisnya aja, Rey mikir gitu XD

Cuma... Rey mendadak kepingin gegara greget liat Shinichi x Ran (?) Serius XD

Akhirnya sekarang Rey menetap di FFn, deh~

luciferous
kereeeeeeeeen XD cuma Rey pusing karena namanya uwu /g

mbak Cherry bikin karya selalu bagus, entah kenapa Rey selalu suka bacanya padahal kaga selalu ngerti sama kata-katanya :') enakkk gitu bacanya, deskripsi gerakan gak berlebihan tapi kebayang gitu. Terus udah gitu bahasanya manis, romensnya gak kasar, keren X'''D

andai Rey bisa menulis begini~ /lha /malahcurhat

sekiaaan XDD


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone