Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Sign-up for Free
Drabble Berantai
Prompt: Kotak Kardus/ box
Character: Misk




Lama sekali sih ....

Misk menopang kepalanya di atas lutut menunggu langkah-langkah kaki datang sambil meneriakkan namanya, kemudian sebelum sang pemilik langkah itu berlalu, ia akan melompat terlebih dulu menuju tembok base dan kembali memenangkan petak umpet ini.

Keheningan kini berteman dengan deru napasnya. Misk mulai bosan berguling di dalam kardus yang cukup lapang. Sebenarnya ini kardus-kardus simpanan Ayah untuk nanti dijual kembali. Ayah kadang menerima barang bekas dari tetangga.

Kebetulan sekali kardus itu terlipat di paling atas tumpukan. Buru-buru ia menggelarnya di emperan samping rumah. Ia menekuk salah satu tutupnya agar tidak mudah terlihat. Masih ada sisa beberapa jengkal di atas kepala Misk menunjukkan betapa besarnya kardus ini. Ia mulai menerka-nerka sebenarnya untuk apa kardus sebesar ini dibuat. Untuk kulkas mungkin?

Mata dan lengan Misk lama-lama terasa memberat. Udara mulai beraroma aneh. Ia mengangkat alis menemukan seekor kucing gemuk tiba-tiba menjejak masuk bergelung dengan santai di bawah hidungnya. Ia bahkan tidak menghiraukan Misk yang lebih dulu menghuni tempat itu.

Gadis itu tidak bisa bergerak. Tidak boleh bersuara. Tapi gerakan si kucing menggesekkan lehernya membuatnya geli. Misk tidak tahan lagi.

Hatsyi!

“Misk ketemu.” Seru seseorang melongok lewat atas kardus.

Misk masih terjebak di dalam kardus.




Next Prompt: SIDIK JARI

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Angkatan Laut
Fandom: Shingeki no Kyoujin
Character(s): Eren Jeager, Mikasa Ackerman
Warning: au, ooc




Ini kesempatan terakhir bagi Eren. Tahun ini ia berusia dua puluh dua. Usia maksimal untuk mendaftar menjadi seorang taruna. Pemuda itu mengepalkan tangan, ‘Aku tidak boleh gagal lagi.’

Paman Hannes membawakan infonya saat Eren sedang berlatih di lapangan Rajawali. Sudah lama sekali Eren mengidam-idamkan menjadi seorang Angkatan Laut. Ia lalu menyelinap lewat pintu belakang berharap tidak berpapasan dengan Mikasa. Gadis itu paling getol mengendorkan semangat alih-alih menyuruhnya masuk universitas saja.

“Eren, Ibu mencarimu. Kau dari ke Pusdikpal ya?” selidik Mikasa menyebut tempat bertugas Paman Hannes. Ia berdiri di bibir pintu dengan tangan bersedekap.

Eren tidak membenci Mikasa. Gadis itu hanya memiliki penciuman yang terlalu tajam.

“Ya. Aku memang mau bertemu Ibu,” elak Eren.

“Kau mau mendaftar lagi tahun ini?”

Eren diam, melirik Mikasa yang mengikuti di belakang.

“Kalau begitu aku ikut.”

Eren tidak membenci Mikasa. Gadis itu terlalu keras kepala.

“Aku bukan bayi lagi, yang tiap hari harus kau asuh, Mikasa. Lagi pula kau ini kan masih kuliah,” Tolak Eren kesal. Ia berbalik, balas menatap mata Mikasa yang tak pernah kelihatan gentar di depan preman sekalipun.

“Aku bisa mendaftar lewat jalur profesi. Kau lupa bulan depan aku sudah wisuda?”

Mikasa tersenyum penuh kemenangan.




Next Prompt: MENUJAH (k.kerja)

Drabble Berantai Keroyokan
@Reycchan: bianglala di situ maksudnya komedi putar ya? Hehe, gapapa wes. Sip d^^b




Prompt: Zona Waktu
Fandom: Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: ooc, maybe au

Nada sambung tak putus-putus terdengar. Begitu terus sambung menyambung meraih kehampaan. Operator nampaknya masih tertidur. Satsuki kesepian. Ia tak perlu repot-repot menekan tombol re-dialling.

"Calling Dai-chan" sepertinya bisa menghiasi layar Satsuki selamanya. Ia bosan, jadinya ia putuskan saja. Lalu Satsuki mengintip detak bisu jam digital di sana. Sudah siang. Matahari terang-benderang. Tapi, Satsuki ingat sesuatu ia sedang di Amerika. Terbang di langit benua, air asin melatari di bawahnya. Lima hari, hanya lima hari Satsuki ikut Papa. Aomine sama sekali tidak menghubunginya. Mungkin ia sedang sibuk latihan lalu kepalanya yang penuh bola basket itu terpaku ke bumi begitu memeluk kasurnya.

Tapi Aomine juga tidak mengangkat panggilannya. Satsuki berpikir ia mungkin mendahului matahari Jepang, sedang Aomine masih bercumbu dengan malam.

Kemudian Satsuki mengubah strategi, tidak menunggu laut menjadi beku. Papa pun bilang ia boleh pulang dulu. Mobil berlari menjemputnya di bandara ke lapangan tempat nadinya berada. Satsuki bernostalgia tidak menyadari ponsel di sebelahnya menyala-nyala.

"Dai-chan is calling."

"Satsuki."

Suara seseorang yang familiar memanggil namanya. Lembut tapi anehnya Satsuki mendengarnya jelas. Ia hendak melihat pemandangan di balik kaca, saat serpihan-serpihannya berwujud di genggaman tangannya.

Aomine sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan seseorang. Sorot matanya sendu dengan rindu yang menggebu. Satsuki menyongsongnya, mengulurkan tangan, untuk menatap jemarinya sendiri tak kasat mata menembus entitas Aomine di depannya.

Zona waktu Satsuki di mata Aomine menipis, berkedip-kedip samar di layar kardiograf yang semakin habis.[]




Next Prompt: MERCUSUAR


Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Apresiasi
Fandom: Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Character(s): Aomine Daiki, Satsuki Momoi
Warning: ooc, typo




“Bagaimana Dai-chan?” tanya Satsuki menatap Aomine lekat-lekat.
Pemuda itu tak memalingkan muka. Ia balas mengintip kedua manik merah muda di depannya, sekilas menerka jawaban seperti apa yang Satsuki inginkan.

Tempo lalu Satsuki pernah membuatkannya juga bento serupa. Kali ini Satsuki berusaha lebih keras. Karakter boneka beruang dari nasi dan nori. Lalu ada sosis dan tamago juga sebagai hiasan. Benar-benar sebuah kyara-ben yang cantik.

“Ini untuk boneka beruang kemarin,” ucap Satsuki tulus.

Mengerti akan maksud Satsuki, Aomine kemudian mencomot sepotong tamago, mengunyahnya sambil berkata, “Enak.”

Sepotong apresiasi itu berharap bisa menghalau Satsuki pergi darinya. Aomine tidak berniat memakannya di depan Satsuki. Bukan, bukan tidak bermaksud menghargai. Ia hanya tidak tahu kejutan apa yang Satsuki berikan padanya.

Benar saja, beberapa detik kemudian, Aomine berjengit, menahan erat-erat bibirnya membuka.

“Kau baik-baik saja, Dai-chan?” Satsuki menoleh khawatir. Ia berbalik setelah beberapa langkah ia meninggalkan Aomine. Radarnya imajiner Satsuki bergerak-gerak peka tiap kali menyangkut teman masa kecilnya itu.

Satsuki mengernyit tidak mengerti.

Aomine hanya bisa menjawab dengan menggerak-gerakkan matanya.

Berapa sendok garam yang Satsuki tuang ke dalam telurnya?[]




Next Prompt: Bianglala

Pertanyaan2 Umum
Halo, mau nanya nih, kalau mau tracking postingan-postingan yang pernah dibuat gimana ya caranya?
Berharap balasan, tapi kadang lupa sudah komen di mana, ... apalagi yg sudah lama-lama.
Adakah senpai-tachi yg tahu caranya?

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Halaman
Fandom: Kuroko no Basuke
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: ooc, typo




Termangu di depan pagar tanpa bisa masuk ke dalam rumah itu adalah hal konyol yang Aomine lakukan. Alasan satu, ini bukan rumahnya. Dua, ini rumah Satsuki.

Aomine ingin mengantarkan beberapa barang kepada Satsuki. Sudah dua hari gadis itu tidak masuk sekolah karena sakit. Sedangkan kata-kata terakhir yang Satsuki lontarkan padanya adalah penolakan.

Ya, dua hari lalu mereka baru saja beradu mulut dengan hebatnya. Sampai-sampai habis semua kata-kata terpakai oleh mereka sengketa.

Pandangan Aomine menelusuri halaman. Pintu bercat putih itu tak bergeming. Ia mereka-reka sedang apa Satsuki sekarang. Masihkah ia terbaring lemah di atas ranjangnya? Masihkah ia sakit hati terhadap Aomine?

Tak biasanya Aomine begitu gelisah. Sesekali ia mengeluarkan ponsel lalu memasukkannya kembali.

Kata-kata seolah tercekat keluar sejak saat itu. Menunggu Satsuki mau kembali bertatap muka dan membuka sendiri pintu rumahnya.

“Ya ampun, Dai-chan. Apa yang kau lakukan di situ?” Seseorang meneriaki.

Aomine menoleh hampir berjingkat.

Sang gadis yang dikhawatirkannya melambai dari ujung gang. Sorot lampu jalan menyinari kulitnya sampai terlihat berwarna pucat, kontras dengan rambut juga senyumnya yang merekah.[]





Next Prompt: RENJANA

Drabble Berantai
Prompt: Opera
Character(s): Serattia, Dad




Tia melongok keluar, mengaca pada jendela yang bertitik-titik buram. Entah ia harus bersyukur atau tidak, nanti malam rencana menonton opera terancam batal. Dad masih belum pulang. Jadi ia kembali sendirian.

Sambil mengunyah sepotong croissant, kepala Tia mondar-mandir tak karuan. Matanya gatal ingin menyapu alfabet dalam buku.
Namun, tak satu pun judul di rumah menarik minatnya. Hanya buku-buku dad yang membosankan. Sisanya sudah ia baca semua.

Sebenarnya ada satu judul yang ingin sekali Tia baca. Mungkin belum ada di perpustakaan sekolah yang seringkali telat memperbarui koleksinya. Sedangkan untuk minta uang ke Dad ia tak tega. Toh, itu belum tentu menjadi favoritnya.

Gadis itu masih berselonjor di sofa. Tangannya merayap, menggaruk sofa tanpa arti lalu menemukan remote televisi di sela siku-siku.
Sudah lama ia tak menonton kotak kaca itu. Juga Dad. Lalu tangan Tia tak benar-benar sengaja memencet tombolnya. Matanya langsung terbuka melihat iklan film dari buku kesukaannya akan ditayangkan. Masih dua jam lagi.

Tia berusaha bertahan. Kepalanya tak lagi berlari-lari. Menghibur diri bahwa ini mungkin pengganti opera nanti.

Pintu terbuka beberapa jam kemudian. Dad mengernyit heran melihat kotak kaca bercakap sendiri menonton putri semata wayangnya yang tertidur. Sementara deretan gambarnya tak terlalu familiar untuk Tia menontonnya.

Ah, tumben, opera sabun.

Dad melirik tiket opera tergeletak sambil lalu di meja.[]




Next Prompt: RINAI

Drabble Berantai Keroyokan
@Khikhi_Kiara: Yuhuu ... sudah kelihatan ekspert kok nulisnya, tinggal dipraktekkin aja make-up-annya, hehe.
Saya jg mohon maaf kalau ada salah interpretasinya

----------------------------------------------------------------

Prompt: Crescendo
Fandom: Kuroko no Basuke
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: semi-au, ooc

----------------------------------------------------------------

Mulanya, Momoi mengira crescendo hanya ada dalam paduan suara. Namun, ia mulai meresapinya pada kesempatan lain. Saat raja siang berkuasa atau pun sang candra berbinar mesra, Momoi bisa mendengarkannya dengan seksama. Pada sesosok lelaki di tengah stadium yang kakinya menghentak bumi berpacu dengan debum rotasi bola basket.

Bibir lapangan menjadi penuh dengan manusia. Sorak sorai suara, gesekan balon tepuk, serta tarian pemandu sorak berpadu menyenandungkan lagu selaras dengan gerakan manusia di lapangan. Tempo naik satu satu bak kucuran keringat dari tubuh Aomine. Bola di genggamannya terlepas naik begitu saja dalam kecepatan tak kasat mata.

Momoi menggigil. Sadar bahwa ekstasinya mungkin berlanjut pada momen-momen serupa berikutnya.

Ia lupa bahkan jantungnya sendiri masih menghentak-hentak, perlahan semakin cepat, kala retinanya menangkap langkah kaki Aomine pagi itu. Meski tak ada stadium. Meski tak ada bola basket yang menemaninya.
Sebuah setelan tak biasa terpakai di tubuh Aomine, lengkap dengan tuksedo.

“Maaf aku telat. Selamat atas kelulusanmu, Satsuki.”

Sebuah buket bunga terangsur ke arah Momoi, menyempurnakan senandung bernada crescendonya.[]

----------------------------------------------------------------

NEXT PROMPT: Pigura

Drabble Berantai Keroyokan
Prompt: Pecah
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Fandom: Kuroko no Basuke
Warning: ooc, typo
-----------------------------------------------------
Momoi menemani Aomine mencari bola basket baru.

Tadi pagi, Aomine memecahkannya sebuah berikut kaca gudang sekolah. Wakil kepala sekolah hampir memvonisnya skorsing karena Momoi sedang berada dekat tempat kejadian hampir pingsan.

“Sudahlah Dai-chan. Kita akan membeli yang baru.” Gadis itu melirik raut wajah Aomine yang susah ditebak. Momoi tahu itu bola basket kesayangan. Dan rentetan kejadian pada masa tutup usianya bisa jadi mencengangkan Aomine.

“Mungkin bola itu sudah tua. Perlu diganti,” hibur Momoi. “Atau Dai-chan juga terlalu banyak mengisi udaranya sehingga tekanan dari dalam terlalu kuat?”

“Aku tidak berpikir tentang itu,” ketus Aomine.

Mengangkat alisnya, Momoi mengangguk-angguk. Tentu saja, Aomine mungkin tidak berpikiran sejauh itu. Namun bersanding dengan Aomine yang diam dan terlihat berpikir keras membuatnya tidak nyaman.

Pemuda itu bahkan tidak mengungkapkan pembelaan saat wakil kepala sekolah menghampiri mereka. Kalau saja Momoi tidak membelanya, bisa-bisa vonis itu betul-betul dijalankan. Sampai sekarang tetap saja ia penasaran, “Uh, baiklah. Memangnya kau sedang memikirkan apa Dai-chan?”

“Apa jadinya kalau kau terluka?”

Pernyataan Aomine terlontar juga.

Gadis itu memiringkan kepala, menatap Aomine heran. “Kau mengkhawatirkanku, Dai-chan?”

Aomine berhenti. Alisnya hampir bertaut menatap Momoi. “Ha! Tentu saja, bodoh.”

Tak ayal, Momoi memalingkan muka. Ada kembang api ikut pecah di dadanya.[]

-----------------------------------------------------

NEXT PROMPT: Foundation (make-up)

Tangan Bionik Untukmu
woa ... boleh tuh. nanti kalau udah di-post di sini lagi ya~
haha, pasti event-nya gede gede ya biar bisa dapet uang banyak.

yups, Phi udah baca beberapa dan suka fanfic Rey-chan yg drabble AliMor hehe

Drabble Berantai Keroyokan
Fandom: Kuroko no Basuke (c)
Warning: after school, ooc, typo
Character(s): Aomine Daiki, Satsuki Momoi
----------------------------------------------------------

Pemuda bertubuh tinggi tegap itu menyeret kaki dengan lambat menyusuri kompleks rumah-rumah. Wajah tengadah, mata memicing, ia menghadap matahari yang bersinar terik. Tidak biasanya ia sengit pada matahari sebab mereka sudah berteman lama.

Kulit tan-nya, bau keringat, bola basket, serta lapangan, matahari selalu berada di sana. Namun hari ini tidak. Ia kehilangan semuanya kecuali matahari. Bahkan Satsuki yang kadang-kadang menemani pulang duluan untuk urusan yang tak bisa ia definisikan.

Pipa-pipa malang-melintang di lapangan. Beberapa orang berseragam dan bertopi kuning menghalangi keranjang. Aomine ingin menerjang tapi sia-sia.

Ada pekerjaan penggantian saluran air. Bagian pinggir lapangan ikut berlubang panjang.

“Karena ini siang hari, Nak,” ledek salah seorang tukang saat Aomine menanyakan sebab mereka mengerjakannya sekarang.

Aomine batal latihan. Klub diliburkan.

Pemuda itu berjalan dengan kepala bercabang. Ia menginginkan eskrim hijau lime dengan vanilla di dalamnya lalu imajinasinya berubah melihat pipa-pipa yang terpasang di rumah-rumah yang barusan ia lewati. Mereka menghubungkan cairan-cairan agar kesehatan terjaga, kata orang. Aomine benci berpikir yang berat-berat. Apalagi itu penyebab ia batal mengencani bola basket.

Ia terlonjak tiba-tiba ketika guyuran air hampir memerciki tubuhnya dari sebuah rumah yang ia kenal. Sebuah pipa yang berbatasan dengan jalan terpenggal jadi dua. Aomine mengernyit mencium baunya.

Sebelum ia marah-marah, dari pintu, melongok sang empunya rumah, "Dai-chan, kebetulan sekali kau lewat! Tolong mampir sebentar. Sepertinya pipa kamar mandi ada yang bocor."

Aomine melihat Satsuki dengan pakaian mandi setengah kuyup. Lalu ia merasa dari hidungnya mengalir cairan merah. Sepertinya pipa-pipa kapiler dalam tubuhnya ikut bocor. Kepalanya jadi agak pusing.[]

-------------------------------------------------------------
NEXT PROMPT: LILIN

Drabble Berantai
Prompt: Pita
Character(c): Lis, Misk, Alfa, Yudhis

"Ngapain kamu perlu pita?" tanya Lis heran. Ia hendak mengambil selimut lusuh di lemari karena selimut di kasur basah ketumpahan sop tadi siang. Sementara adik semata wayangnya, Alfa, merengek-rengek ingin keluar mencari pita.

“Ini sudah malam. Besok pagi saja.” Yudhis, sang pemilik rumah mengusap wajahnya lelah setelah bekerja seharian. Tak banyak pelanggan hari ini. Ditambah kelakuan Alfa yang ribut. Keningnya berkerut-kerut tak suka.

Anak lelaki tujuh tahun itu tak menggubris. Matanya berkaca-kaca, tangannya memukul-mukul meja. “Sebentar saja, ayolah.”

Dengan sigap Misk, kakak tertua, menarik Alfa menjauh. Memeluk untuk meredam suara. Ia berbisik, “Jangan berisik. Nanti Yudhis marah. Kamu perlu pita apa? Besok subuh kucarikan.”

Alfa meronta. “Aku maunya sekarang, Misk.”

Ia menarik leher Misk, mendekatkan bibir di kuping gadis itu, merajuk manja, “Temani aku saja. Sebentar kok.”

Kening Alfa yang bersentuhan dengan pelipis Misk terasa hangat. Gadis itu terkejut. Ia mengerling pada Lis, kembarannya, menyelipkan beberapa keping koin di genggaman tangan.

Mereka menyelinap lewat pintu belakang, Misk membiarkan Alfa menarik tangannya. Masuk ke kebun sayuran Yudhis tanpa penerangan ia tahu sedang berdiri di depan kandang piaraan. Misk mengernyit membayangkan apa yang akan dilakukan Yudhis begitu tahu mereka di sini malam-malam. Ia meragukan Yudhis menyimpan benda semacam pita di sini.

Alfa melepaskan tangannya. Samar-samar Misk melihatnya masuk ke dalam kandang.

“Pita, pita.” Panggil Alfa lirih membangunkan kelinci-kelinci.

Ia terkejut menemukan seekor kelinci dengan pita merah besar terpasang di lehernya. Kelinci itu tergeletak tak berdaya di dekat pintu kandang.

“Misk, ini Pita. Dia sakit sepertinya. Boleh aku bawa masuk ke dalam rumah?”

Gadis itu melotot sekaligus meraup selarik cahaya samar dari teras belakang menerangi bercak merah yang memantul di tangannya. Tubuh Pita terkoyak dalam pelukan Alfa.[]

--------------------------------------

NEXT PROMPT: CANDU


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone